Sabtu, 23 Juli 2016

Untuk Kamu yang Ingin Pergi

Aku akan mulai ceritaku dengan kata “suatu hari”...

Suatu hari, aku sangat mengagumi seorang laki-laki, senior yang lebih tua setahun itu pertama kali ku lihat saat dia bermain basket di lapangan. Awalnya aku hanya mengenal sepatu dengan logo berwarna merahnya, dan akhirnya aku mencari tahu tentang dirinya, tulisan tangannya, meja tempat dia duduk di kelas, teman-temannya, pada akhirnya aku mengutus seorang teman untuk mencari tahu namanya. Saat itu dia hendak membeli sebuah buku gambar di koperasi, karena terlalu malu melakukannya sendiri, akhirnya aku meminta tolong temanku untuk mencari tahu namanya. Dengan berkedok ingin membeli sesuatu di koperasi, dia mendekat dan melihat papan namanya. Saat itu dengan hanya bermodal sebuah nama seperti semua kesempatan untuk bersamanya terbuka lebar, setidaknya dia menyadari keberadaanku pun sudah cukup.

Singkat cerita,  kesempatan itu benar terbuka dan hubungan kami berjalan lancar, tapi tidak seperti yang kalian pikirkan, kami tidak pacaran, kami menikmati hubungan kami seperti ini, saling mendukung satu sama lain sudah cukup. Tapi karena perbedaan tingkat kami, setelah upacara kelulusan, aku dan dia tidak lagi sering bertemu seperti dulu meskipun tidak pernah satu hari pun kami melewatkan telpon, SMS atau saling menyampaikan salam lewat lagu yang direquest di stasiun radio kesayangan, sampai tiba saatnya dia tiba-tiba menghilang. SMS ku tidak dibalas, telponku tidak dijawab, berkali-kali, aku dibuat frustasi olehnya, lagu-lagu sendu yang mengalun dari radio di kamarku semakin terdengar menyedihkan membuat udara di sekitarku malah menyesakkan untuk dihirup.

“Tidak bisa begini.” Pikirku.

Aku bukannya tidak peka, atau pura-pura tidak tahu, atau bersikap bodoh berharap ini hanya sehari, dua hari, atau hanya sementara, atau mungkin dia sedang sibuk saja. Aku juga cukup pintar kok untuk sadar kalau dia sedang menjauh saat itu. Hanya saja, menebak-nebak seperti ini bukankah sangat melelahkan? Bukankah karena dia juga pernah senang menghabiskan waktu bersamaku, setidaknya dia tidak bersikap seperti pengecut yang tiba-tiba menjauh karena tidak sanggup menghadapiku saat ingin mengatakan yang sebenarnya? Bukankah lebih baik jika dia mengatakannya langsung? Bukankah itu hal yang sepatutnya dilakukan?

Apakah menurutnya dengan membuat masalah seperti ini, aku akan marah dan malah menjauh sesuai dengan yang dia inginkan? Bukankah akan selalu ada akibat karena sebab yang telah diperbuat? Aku tidak akan membuatnya lolos semudah itu, meskipun akan menyakitkan juga untukku.

Pada akhirnya aku menghubungi temannya bertanya ada apa, aku meminta tolong untuk menghubungkanku dengannya, dan akhirnya dia berbicara denganku, tentu saja dalam keadaan terpojokkan. Meskipun aku berbuat sampai sejauh ini hanya untuk memastikan hubungan kami benar berakhir, tidak masalah. Meskipun aku akan menangis seharian hari ini, setidaknya aku tau apa yang membuatku menangis, setidaknya aku tidak perlu menjalani hari esok dengan bermain tebak-tebakan lagi.

Yang ingin aku sampaikan untuk kamu yang sudah sangat lelah... Kamu tidak bisa bersikap brengs*k seperti itu, lalu berharap aku akan mengerti dan meninggalkanmu dengan duniamu tanpa bertanya ada apa. Melihatmu menjauh saja sudah sangat sakit, tidak perlu memperburuk rasa sakit itu. Jadi... Jika kau memang sangat ingin pergi, datanglah kemari dan langsung katakan tepat di depanku.