Kamis, 29 Agustus 2013

Bertumpu

Ijinkan aku bertumpu pada pundakmu.
Dan menangis.
Tanpa mendengar kata tanya darimu.

Ijinkan aku bertumpu pada pundakmu.
Dan menangis.
Tanpa bicara tentang mengapa.

Ijinkan aku bertumpu pada pundakmu.
Dan menangis.
Lalu aku akan kuat bersamamu.

Karena sejak sekarang.
Aku benci melihat hujan bintang.
Dan sakit ketika rindukan bulan.
Bahkan aku belajar lupa tentang warna senja yang berpamit.

Karena sejak sekarang.
Aku akan belajar menangis karena bahagia bersamamu.

Senin, 26 Agustus 2013

A dan B atau C

Jika B adalah jawaban setelah A.
Ku harap semudah itu membolak-balikkan hati.
Ku aminkan doa sebelum tidurku itu.
Pada Tuhan.

Dan jika sakit kepala bisa kusembuhkan dengan obat.
Ku harap sakit karena mengingat bisa turut sembuh.
Tapi rupanya jawaban setelah A kadang rumit.
Tidak B atau C.
Itu doaku setelah terbangun.
Pada Tuhan.

Aku melirik waktu.
Berpikir aku telah melupakan sesuatu.
Aku lupa mengenalmu lebih dulu.
Aku lupa ada B setelah A.
Lihatlah aku yang baru saja tersadar dari bodohku.
Aku tiba-tiba memiliki perasaan yang begitu sesak.
Lupa entah kapan dan mengapa.

Aku lalu mengadukan bodohku itu.
Tidak pada Tuhan.
Tapi padamu.
Aku bertanya jawaban setelah A.
Kau hanya tersenyum.
Ah, kau lebih bodoh.

Cerita Tentang Rindu

Aku begitu sedih mengingatmu.
Sementara aku dalam perjalanan.
Aku menyiapkan sebuah cerita untukmu.
Tentangku yang tidak pernah kau ketahui.
Karena waktu yang sedikit.

Tetapi semua menguap.
Aku tidak tahu cerita itu ke mana.
Aku hanya melirik kesepian di sekitarmu.
Lalu menatapmu.
Dan mengingat semua tentang kita.

Tetapi bibirku gemetar belajar bercerita.
Aku hanya menatapmu lalu menangis.
Berharap air mataku jatuh di tanahmu.
Lalu membisikkan cinta padamu.
Sementara aku berbisik pada Tuhan.
Untuk menjagamu.

Aku merindukanmu.
Aku rindu perasaan saat bersamamu.
Aku mencoba memberitahumu.
Tapi takut kata-kataku menghalangi rasa rinduku sampai padamu.

Waktu berlalu habis.
Aku tak sempat bercerita tentangku.
Jangan lupakan aku.
Aku akan selalu jadi orang yang pernah kau kenal.

Kamis, 28 Februari 2013

Waktu Sakral

Karena aku ingin seperti bulan
Yang saling memandang
Dari dua ufuk yang  berbeda
Itu waktu yang sakral
Ketika senja dan malam mengetuk
Matahari terbenam dan bulan terbit

Ketahuilah sesakit apapun perpisahan
Masih lebih indah waktu sakral kita
Meski aku tak sempat pamit padamu
Seperti bulan dini hari yang tenggelam
Meski kau tak sempat menyambut tibaku
Seperti matahari fajar

Karena sesakit apapun tanpamu
Masih lebih indah ketika denganmu
Meski rindu menunggu
Lalu dini kulepas cahayamu
Lalu pagi kau kenang putihku

Di waktu sakral kita nanti
Ijinkan aku luruh karena apimu
Dan kau padam karena tangismu
Lalu kita habiskan waktu tanpa pagi dan malam
Karena kita bulan dan matahari