Akan kubunuh hati yang mencintaimu.
Dan setelah itu, Aku akan ikut mati bersamanya...
Tersemayamkan di bawah nisan bertuliskan namamu.
Hijau dan abu itu akan terlihat hitam saja.
Bahkan tawa itu terlihat hambar.
Tak ada lagi getir, desir...
Akan kubunuh setiap para pecinta dengan kemunafikan wajahnya.
Selaksa kasih kusihir menjadi batu-batu kematian...
Cahaya di mata indah itu telah redup.
Hanya Hitam.
Rabu, 29 Februari 2012
Sabtu, 25 Februari 2012
Kisah Puisi Kita
_Bukan Kata Indah_
Lelakiku :
Menguji dan melihat.
Mencoba menyelam arti dari setiap puisimu.
Hingga yang nampak adalah kata-kata yang indah saja.
Aku :
Aku bukan pencipta kata-kata indah.
Aku hanya penalar sebuah rasa yang tersemat dalam labuh kisahku.
Mencari setiap arti dari teka-teki malam.
Seperti ketika berusaha memotret keindahan alam dalam segiempat lukisan.
Seperti itu malam-malamku.
Seperti itu hari-hariku.
_Lelakiku Untuknya_
Lelakiku :
Aku sayapnya.
Tambatan hatinya.
Yang mengilhami tiap langkah hidupnya.
Begitu adanya.
Dalam goresan pena.
Ia suratkan berkala untukku.
Tak sekalipun kujumpai dia.
Aku :
"Aku sayapnya.
Tambatan hatinya.
Yang mengilhami tiap langkah hidupnya."
Lantas di pikiranmu kau seperti apa bagiku?
Setiap malam kulabuhkan padamu sebuah puisi.
Lalu kau belum mengerti?
_Rasa Sakit_
Aku :
Jika saja rasa sakit itu dapat terukur dalam nilai nyata.
Aku yakin kau akan menangis saat tau.
Telah kuhafal pergerakan awan setiap malam.
Dan telah kunonton beribu-ribu bulan yang tenggelam di ufuk yang sama.
Ku tapak kaki pada kata-kata cinta yang tersapu laut biru.
Andai saja kau tau.
Aku akan terus mencintai, tanpa keluh, tanpa menuntut.
Karena aku percaya di tempat aku berpijak adalah cermin.
Lelakiku :
Ku larut luruh dalam keheningan hatimu.
Jatuh bersama derasnya air mata.
Kau benamkan wajahmu yang berteduhkan duka.
Melagukan kepedihan di dalam jiwamu.
Tidak masalah..
_Balutan Maaf_
Lelakiku :
Aku bingung.
Harus kubalut dan kukemas seperti apa hubungan ini?
Aku :
Balut saja dengan kata maaf!!
Duh, Lelakiku.
Andai bisa ku bunuh rasaku.
Maka pasti telah tersemayamkan di bawah nisan yang bertuliskan namamu.
Tetapi, harus bagaimana diriku?
Di sisi lelakiku ada perempuan lain.
Ku kemanakan kisah suci ini?
_Sejatinya Cinta_
Aku :
Ada luka yang menganga di sebongkah daging yang memaknaiku.
Sakit.
Tetapi, tak setetespun tangis.
Karena aku mencoba untuk tetap tegar mencintaimu.
Lelakiku :
Aku bingung.
Tapi, aku bisa rasakan apa yang kamu rasa.
Entahlah.
Aku masih bingung.
Cinta yang kau tawarkan terlalu suci untukku..
Aku :
Sejatinya cintaku tidak untuk membuatmu gamang di tempat pijakanmu.
Lelakiku :
Menguji dan melihat.
Mencoba menyelam arti dari setiap puisimu.
Hingga yang nampak adalah kata-kata yang indah saja.
Aku :
Aku bukan pencipta kata-kata indah.
Aku hanya penalar sebuah rasa yang tersemat dalam labuh kisahku.
Mencari setiap arti dari teka-teki malam.
Seperti ketika berusaha memotret keindahan alam dalam segiempat lukisan.
Seperti itu malam-malamku.
Seperti itu hari-hariku.
_Lelakiku Untuknya_
Lelakiku :
Aku sayapnya.
Tambatan hatinya.
Yang mengilhami tiap langkah hidupnya.
Begitu adanya.
Dalam goresan pena.
Ia suratkan berkala untukku.
Tak sekalipun kujumpai dia.
Aku :
"Aku sayapnya.
Tambatan hatinya.
Yang mengilhami tiap langkah hidupnya."
Lantas di pikiranmu kau seperti apa bagiku?
Setiap malam kulabuhkan padamu sebuah puisi.
Lalu kau belum mengerti?
_Rasa Sakit_
Aku :
Jika saja rasa sakit itu dapat terukur dalam nilai nyata.
Aku yakin kau akan menangis saat tau.
Telah kuhafal pergerakan awan setiap malam.
Dan telah kunonton beribu-ribu bulan yang tenggelam di ufuk yang sama.
Ku tapak kaki pada kata-kata cinta yang tersapu laut biru.
Andai saja kau tau.
Aku akan terus mencintai, tanpa keluh, tanpa menuntut.
Karena aku percaya di tempat aku berpijak adalah cermin.
Lelakiku :
Ku larut luruh dalam keheningan hatimu.
Jatuh bersama derasnya air mata.
Kau benamkan wajahmu yang berteduhkan duka.
Melagukan kepedihan di dalam jiwamu.
Tidak masalah..
_Balutan Maaf_
Lelakiku :
Aku bingung.
Harus kubalut dan kukemas seperti apa hubungan ini?
Aku :
Balut saja dengan kata maaf!!
Duh, Lelakiku.
Andai bisa ku bunuh rasaku.
Maka pasti telah tersemayamkan di bawah nisan yang bertuliskan namamu.
Tetapi, harus bagaimana diriku?
Di sisi lelakiku ada perempuan lain.
Ku kemanakan kisah suci ini?
_Sejatinya Cinta_
Aku :
Ada luka yang menganga di sebongkah daging yang memaknaiku.
Sakit.
Tetapi, tak setetespun tangis.
Karena aku mencoba untuk tetap tegar mencintaimu.
Lelakiku :
Aku bingung.
Tapi, aku bisa rasakan apa yang kamu rasa.
Entahlah.
Aku masih bingung.
Cinta yang kau tawarkan terlalu suci untukku..
Aku :
Sejatinya cintaku tidak untuk membuatmu gamang di tempat pijakanmu.
Siluet Senja
Aku berdiri antara senja.
Bersama siluet ragaku yang gelap.
Cahayanya kuning lalu memerah, sayang.
Lantas kutitikkan buliran air mata suci para kekasih.
Senja mulai menua, sayang.
Botol bersurat itu tampak telah menitik di ekor pandanganku.
Berharap cinta yang tersemat untukmu,
Ikut tenggelam di kutub bumi yang berlawanan.
Menanti senja berganti, lelakiku.
Tetapi, selalu saja kudapati diriku pada pagi dengan cerita yang sama.
Masih terduduk dengan bayang lima tahun silam.
Lalu aku tersedu.
Dan terjatuh.
Bersama siluet ragaku yang gelap.
Cahayanya kuning lalu memerah, sayang.
Lantas kutitikkan buliran air mata suci para kekasih.
Senja mulai menua, sayang.
Botol bersurat itu tampak telah menitik di ekor pandanganku.
Berharap cinta yang tersemat untukmu,
Ikut tenggelam di kutub bumi yang berlawanan.
Menanti senja berganti, lelakiku.
Tetapi, selalu saja kudapati diriku pada pagi dengan cerita yang sama.
Masih terduduk dengan bayang lima tahun silam.
Lalu aku tersedu.
Dan terjatuh.
Lima Tahun
Lirik lagu itu,
Mengingatkanku pada luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Menuruni tangga,
Seraya menggenggam buliran salju dari langit abu-abu.
Hingga aku kembali ke lima tahun silam.
Di mana dunia terlihat pekat di antara kepulan air mataku.
Mengingatkanku pada luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Menuruni tangga,
Seraya menggenggam buliran salju dari langit abu-abu.
Hingga aku kembali ke lima tahun silam.
Di mana dunia terlihat pekat di antara kepulan air mataku.
Kasih Suci
Seperti kedap-kedip kursor..
Yang menunggu disulap dari temaram cahaya tuts-tuts kecil.
Seperti kata para pujangga di antara pidato para petinggi.
Seperti itu ketika kucoba menemukan takdirku.
Antara nalar dan tebaran tatap.
Menelusuri akhir dari jari telunjuk seorang peramah.
Dan sebuah anggukan kutunjukkan sebuah keterpukauan.
Di antara praduga yang tersimpan rapi,
Ada sebuah gejolak, sayangku.
Sebuah rasa,
Bahkan bising gemericik hujan masih bisu.
Kunang-kunang malam tampak samar.
Badai angin terasa seperti sebuah siulan anak kecil.
Aku sedang membicarakan kasih suci, lelakiku!
Adakah kau mengerti?
Yang menunggu disulap dari temaram cahaya tuts-tuts kecil.
Seperti kata para pujangga di antara pidato para petinggi.
Seperti itu ketika kucoba menemukan takdirku.
Antara nalar dan tebaran tatap.
Menelusuri akhir dari jari telunjuk seorang peramah.
Dan sebuah anggukan kutunjukkan sebuah keterpukauan.
Di antara praduga yang tersimpan rapi,
Ada sebuah gejolak, sayangku.
Sebuah rasa,
Bahkan bising gemericik hujan masih bisu.
Kunang-kunang malam tampak samar.
Badai angin terasa seperti sebuah siulan anak kecil.
Aku sedang membicarakan kasih suci, lelakiku!
Adakah kau mengerti?
Langganan:
Postingan (Atom)