Aku menunggu kabarmu dengan cemas di luar kamar rawatmu. Kita yang seharusnya sedang bahagia menanti akad nikah kita besok, malah harus berada di sini sekarang. Kamu yang terbaring pucat sejak dua hari yang lalu, dan aku di sini menunggumu tersadar dari tidur panjangmu. Kulihat orang berlalu-lalang masuk dengan cemas ke ruanganmu. Lalu mereka ke luar dari ruanganmu dengan wajah yang kehabisan asa, melihatku dengan tatapan mata yang memelas. Seolah memintaku kuat dan bersabar akan kemungkinan yang bisa terjadi ke depan. Aku yang masih bukan muhrimmu, bahkan tak bisa menggenggam tanganmu sekarang. Padahal aku ingin sekali menggenggam erat tanganmu, bukan karena ingin meminjamkanmu kekuatan. Tetapi, karena aku ingin kamu menguatkanku, bahwa kamu sedang berjuang untuk bertahan.
Rabu, 08 November 2017
Selasa, 07 November 2017
Menjejaki Langkah
Entah sejak kapan kita berada di persimpangan jalan. Kita dengan dunia kita masing-masing tampaknya bukanlah hal yang bagus. Kita mengira bahwa selama ini kita memelihara, tetapi nyatanya kita hanya mengasingkan hati-hati kita. Mungkin kamu menjadi nyaman membiasakan diri tanpa satu sama lain, lalu perlahan kamu lupa. Tetapi, sialnya, aku masih ingat dengan jelas. Tentang janji yang terucap lisan olehmu, riuh karena debaran hati yang berisik, tanpa ada tanya setelahnya.
Dulu aku belum tahu, bahwa sepenggal kalimat manusia itu tak bisa dijamin oleh masa. Barulah sekarang aku tahu, itu pun saat kita berjumpa pertama kali setelah janji itu. Kamu bersama duniamu yang tidak ada aku di dalamnya. Enam tahunmu yang tidak kukenali, membuat kita merasa asing di depan satu sama lain. Seolah ada pemisah di percabangan jalan kita. Hendak bertanya tentang masa depan, tetapi canggung rasanya.
Tak habis akal, aku memulai langkah bergegas, tidak cukup dengan berjalan, aku lalu berlari mengejarmu. Kamu, duniamu, dan jalan yang sedang kamu tempuh saat ini, aku ingin segera ada di situ dan berjalan beriringan denganmu. Ingin sekali aku menguncimu dan menagih janji padamu, menamparmu hingga terbangun dari enam tahunmu tanpaku.
Kamu melangkah begitu cepat, sedangkan aku tertatih dari belakang. Kupusatkan perhatianku padamu agar jejakmu tak hilang. Tidak lagi kuperhatikan siapa yang menegurku, juga kuabaikan orang yang memintaku untuk singgah sebentar. Kupikir, aku tidak ingin lagi mengulang kesalahan yang sama, enam tahun itu sudah cukup membuatku kehilangan dirimu. Aku takut jika aku tidak lagi menjadi bagian dari masa depanmu.
Tetapi, lambat laun aku lelah berlari. Kulihat langkahmu juga tak kunjung melambat, atau jarak kita yang tak sedikit pun mendekat. Aku berhenti dengan nafas yang terengah-engah lalu mendongak melihatmu. Kamu dan dunia yang kamu ciptakan tak sekali pun bergeming. Kutunggui punggung sampai bayanganmu menghilang. Aku tetap berdiri di tempatku sambil mengatur nafas yang sudah mulai rapi kembali. Kulihat kanan-kiriku yang kini sepi, diam seperti orang bodoh yang kebingungan, apa yang kulakukan di sini seorang diri?
Pertanyaan demi pertanyaan mulai bermunculan di benakku. Apa yang sebenarnya ingin kucapai dengan mengejarmu? Ingin mempertahankan janji kita yang mulai memudar di telan masa? Tetapi, lihatlah. Kamu sudah terlalu puas dengan dunia dan teman-temanmu tanpa sekali pun kamu mencoba menyamakan langkah denganku. Lalu, untuk apa? Untuk apa aku sejauh ini mengejarmu?
Aku memutar balik badanku, mencoba menilik jalan yang telah kulalui. Aku terkejut mendapati jalan yang kutempuh tampak begitu berbeda. Siapa yang menyangka bahwa aku melewatkan begitu banyak keindahan karena keasikan berlari mengimbangi langkahmu? Ataukah aku yang terlalu sibuk memperhatikanmu hingga aku menjadi buta terhadap sekelilingku? Langkahku kini ringan, pun nafasku tidak lagi terengah, pelan menjejaki langkahku yang tadi berlari. Aku baru tersadar bahwa duniaku tidak hanya tentang janjimu dan masa depanmu.
Lalu untuk apa aku berlari? Jika dengan sejenak berhenti, aku bisa menyaksikan keindahan yang aku lewatkan sepanjang sepelarian tadi. Untuk apa aku mengejarmu? Jika Tuhan ternyata punya rencana yang lebih baik untukku jika tanpa dirimu.
Senin, 06 November 2017
Kita Bukan Sepaket Bahagia
Sebenarnya, aku tidak pernah
berniat menaruh luka di hatimu. Atau pun meluruhkan tangis di pipimu. Aku hanya
seorang lelaki biasa yang berjanji di masa lalu. Tanpa pernah bertukar kabar,
kita menyimpan nama kita masing-masing, setia menjaga hati, sambil diam-diam
menyelipkan harapan dalam doa pada Tuhan. Aku dan duniaku, kamu dan duniamu.
Kita melangkah menuju mimpi kita masing-masing, tanpa sedikit pun kita saling
menyalahkan. Aku sungkan padamu, kamu pun mengerti padaku. Bagiku, kita adalah
dua buah 'sepotong hati' yang bertemu, saling melengkapi. Siapa sangka semua
itu perlahan terbungkus dalam masa lalu?
Entah sejak kapan, jarak langkah
kaki kita berbeda. Jarak langkahmu sejauh tiga kali langkahku. Aku terperangah
saat tahu kabarmu, bahwa kamu sudah terlampau jauh di depanku. Subhanallah, Aisyah, kamu begitu indah.
Mataku haru berkaca-kaca, lelaki bodoh mana yang tidak bahagia ketika seorang
perempuan yang dicintainya istiqomah menjaga hati dan dirinya?
Tetapi, Aisyah, aku masih
tertinggal jauh di belakang. Kita bahkan berada di jalan yang berbeda sekarang.
Kamu yang begitu indah dan tinggi, tidak pantas dipersandingkan denganku,
Aisyah. Lihatlah kanan-kirimu, lihatlah kanan-kiriku, dunia kita berbeda. Aku
bahkan tak berani menggenggam tanganmu, apalagi jika harus menanggung masa
depanmu. Katamu, kamu bersedia menungguku, lalu bersama-sama kita melangkah
beriringan. Tetapi, tidakkah waktumu menjadi sia-sia?
"Ini demi kebaikanmu,"
begitu kataku. Tetapi, kamu tetap berkeras ingin menunggu, aku berkeras untuk
melepasmu. Tidak ada gunanya menyimpan hatimu untukku yang tidak berani
menjawab iya pada pintamu. Sungguh, Aisyah, menyerah terhadapmu pun bukan hal
yang mudah. Sama sepertimu yang selalu mengeluh pada Tuhan saat merawatku dalam
doa-doamu. Berkata semua baik-baik saja, padahal setiap tulisanmu yang
bercerita tentangku begitu pahit.
Saatnya kita mengurai janji yang
diikrarkan oleh sepasang kita yang dulu. Kelak, kamu akan mengenangku dalam
tulisan-tulisan pahitmu yang telah usang dalam kenangan. Sedangkan aku sibuk
bersanding dengan karma. Percayalah bahwa suatu saat, kamu akan temukan
bahagiamu yang tidak ada aku di dalamnya. Pun aku akan rencanakan bahagiaku
yang tidak ada kamu di dalamnya. Ikhlaskanlah, Aisyah, bahwa kita bukan sepaket
bahagia dari Tuhan.
P.S : Tulisan ini kudedikasikan
untuk sahabat baik saya.
Minggu, 05 November 2017
Hati yang Candu Pada Dosa
Aku adalah Topeng,
aku sangat handal menutup cacat yang bersembunyi di balikku. Kubuat hitam jadi
warna-warni yang cerah. Kubuat luka busuk menjadi seharum mawar dan melati. Aku
pandai membuat orang percaya padaku. Kuhias wajahku dengan senyum, dan mengucapkan
“tidak apa-apa” padahal dalam hati aku suka sekali mengutuk dan mendendam.
Kubuat pemilikku percaya bahwa semua baik-baik saja, kutunjukkan padanya kepalsuan
ini indah. Kubiarkan dia merasa seolah ketiadaan ini nyata.
Aku adalah Dosa,
aku sangat banyak dan hitam, aku melumuri pemujaku dengan candu. Perlahan aku
membuat hatinya menghitam, menyuapinya dengan dosa yang membuatnya nyaman. Berkali-kali
dia kembali padaku setelah tangis ampun yang dia minta pada Tuhannya. Berulang-ulang
dia mencicipiku dan memujaku, menikmati rasa candu yang kuberikan dengan senyum
bodoh di wajahnya. Ketika hatinya menghitam, saat itu aku menjadi tuan rumah di
sana. Aku jadi mampu untuk menepis rasa bersalahnya, membisikkan padanya bahwa
dia tidak pernah bersalah. Lalu perlahan aku jadi matanya, kakinya, tangannya,
tubuhnya, aku merasuki dia sepenuhnya.
Aku adalah
hati. Sesungguhnya aku terlahir seperti kertas putih, tanpa luka dan cacat. Aku
terlahir untuk menghamba pada Tuhan. Tetapi perjalanan hidup itu kadang begitu
kejam. Aku berkenalan dengan hati-hati lain yang setengahnya sudah hitam penuh
dosa, beberapa dari mereka sudah tidak berwujud. Mereka mengajakku di jalan
menuju dosa. Aku terluka, sakit dan lalu cacat. Sejak itu, aku berkenalan pada Topeng
yang mengenalkanku pada kepalsuan. Aku jadi suka sekali senyum di depan semua
orang, meski aku tidak berhenti mendendam dan mengutuk mereka.
Aku adalah
hati. Sesungguhnya aku takut sekali menghianati Tuhan. Tetapi, Dosa selalu saja
menggodaku, aku menikmatinya lagi dan lagi. Sudah tidak terhitung berapa kali banyaknya.
Aku menjadi rapuh dan lemah, candu pada dosa yang menjadi wajar bagiku. “Tidak
apa-apa,” pikirku. “Sekali saja,” batinku. “Besok aku tidak akan melakukannya
lagi.” Begitu penghiburan yang kulakukan untuk diriku. Dosa berbisik padaku
bahwa ini bukanlah hal yang salah, lagipula kesalahan bisa menjadi pembelajaran
bagi kita untuk tidak mengulanginya lagi.
Aku adalah
hati, awalnya aku terlahir bersih seperti kertas putih tanpa noda. Sekarang aku
hitam, hanya tersisa sedikit titik-titik putih. Setiap kali aku bercumbu mesra
dengan dosa, titik-titik putih yang kumiliki merintih berkali-kali. Kadang aku menangisi
masa laluku yang begitu kelam, jalan pulang menuju Tuhan pun terlihat begitu
gelap. Aku ingin pulang, tetapi berdiri pun rasanya sangat sulit. Dosa dengan
erat memelukku dari belakang, menahan tangan dan kakiku, membuatku tidak bisa
bergerak.
Tetapi, begitu
baiknya Tuhanku. Tiap kali aku menangis, dia menerangi jalan pulang itu
untukku. Dia mengulurkan tangan-Nya padaku, tidak peduli betapa dalamnya aku
terjerumus pada dosa. Begitu Maha Pengampunnya Tuhanku, bahkan untuk pendosa
sepertiku yang begitu kotor penuh noda, cacat dan terluka. Begitu Maha Baiknya
Tuhanku yang memelukku, membantuku untuk berdiri meski untuk jalan pun aku
tertatih. Dia menuntunku menuju jalan-Nya kembali, ketika aku begitu lemah
karena jatuh dalam buaian dosa berulang kali.
“Katakanlah, Wahai
hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah
kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah Mengampuni dosa-dosa
semuanya. Sungguh, Dia-lah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Surah Az-Zumar
ayat 53.
Sabtu, 04 November 2017
Tips Adaptasi di Lingkungan Baru.
Tinggal di sebuah desa berjarak enam jam perjalanan dari kota, jauh dari kampung halaman, memang kadang-kadang tidak menyenangkan. Dikarenakan tuntutan pekerjan yang harus ditempatkan di mana saja. Banyak hal yang selalu membuatku merasa asing di tengah orang-orang meskipun sudah setahun lamanya menetap di sini. Entah itu logat masyarakat setempat, lingkungan pedesaan yang beda jauh dengan kota, makanan warung yang rasanya tidak sesuai selera, jarang tempat hiburan, dan kekurangan teman akrab.
Wajar saja, aku datang sendiri ke sini, pribadiku yang agak tertutup dan sulit percaya sama orang lain membuatku selalu kurang nyaman ketika mencoba sok akrab dengan rekan kerja. Tidak ada teman kerja cewek yang bisa ditemani berbagi kala suka dan duka, atau di kala kita kehabisan air minum, dan harus saling menyemangati untuk angkat galon. Yap, aku satu-satunya karyawan cewek di sini. Ada sih, ibu-ibu, masyarakat asli sini, tetapi tidak pas saja rasanya kalau curhat ke mereka, yang ada nanti malah jadi bahan gosip.
Aku juga tidak tahu kenapa aku begitu sulit beradaptasi dengan logat atau bahasa masyarakat sini, sehingga aku jarang sekali menggunakan bahasa sini. Kadang kalau aku kebanyakan ngomong di kantor, mulutku serasa pegal ketika sampai di rumah, aku bisa sangat kelelahan hanya karena kebanyakan ngomong. Kemudian, aku mencak-mencak sendiri di kosan, kadang-kadang sambil teriak, anggap saja suaraku tidak kedengaran oleh tetangga.
Awal adaptasi di lingkungan yang baru membuatku kehilangan berat badan sebanyak enam kilogram. Pola makan seperti biasa, pola tidur tidak ada yang berubah, kadang-kadang insomnia, dan lama-lama bosan. Tinggal di tempat yang bukan kampung halaman pun perlahan membuatku sering paranoid dan bad mood, mungkin karena semua terasa serba asing. Oh, tetapi aku bukannya ingin mengeluh saat ini, aku hanya ingin berbagi beberapa saran yang menurutku bisa membantu di saat Anda mengalami hal yang sama denganku. Tips-tips supaya bisa betah di lingkungan baru atau saat tinggal di lingkungan baru, ini dari pengalaman saya, ya.
1. Cari teman. Buat kamu yang agak tertutup seperti saya, pilihlah teman satu saja untuk saling berbagi, yang bisa diandalkan ketika sedang ada masalah. Kalau bisa, jangan pilih teman dengan lawan jenis, nanti malah jadi gosip, apalagi kalau di lingkungan pedesaan yang kurang hiburan. Tidak masalah jika banyak berteman, hangout bareng, ke pulau bareng, liburan ke kota bareng, itu adalah bagian dari hiburan.
2. Jangan mudah percaya pada siapa pun. Kita adalah pendatang, orang baru di lingkungan yang baru. Ketika mendengar kabar buruk atau kabar yang kurang mengenakkan, atau tentang teman yang bergosip tentang teman yang lain, dengarkan saja. Tetapi, jangan mudah percaya. Kalau kita terlalu mengambil hati cerita mereka, bisa menyebabkan kita menarik kesimpulan dan bersikap yang tidak objektif sedangkan cerita mereka belum tentu benar adanya.
3. Temukan aktivitas sehat. Bagi Anda yang tinggal di pedesaan, tentu saja jauh berbeda dengan kehidupan hectic perkotaan. Tidak ada hiburan, ditambah tidak ada teman seru-seruan, ditambah lingkungan yang selalu terasa asing, lampu jalan yang kurang sehingga membuat kita takut keluar malam karena jalanan gelap, tentu akan membuat kita setengah mati kebosanan. Apalagi ketika weekend, atau tanggal merah, pulang ke kampung halaman pun bukan pilihan karena perjalanannya yang tidak sebentar. Sehingga kita wajib mencari aktivitas atau hobi.
Well, bagi saya sebagai pribadi yang tertutup, aku lebih suka mengunci diri di kosan, membaca novel yang kubeli online karena tidak ada toko buku di sini - aku kalau beli barang serba online. Aku juga belajar mengedit dengan aplikasi Photoshop, kadang-kadang menangis gara-gara menonton drama korea, atau tertawa cekikikan akibat menonton anime.
Tetapi belakangan, karena teman-teman kerja sedang hobi main bulutangkis, aku pun ikutan. Di sini juga pulaunya cantik-cantik, alami, dan perjalanan ke sana tidak butuh waktu lama, sehingga kadang-kadang kita jalan-jalan ke pulau saat weekend.
4. Kesempatan besar untuk menabung. Bekerja di pedesaan yang minim tempat hiburan, membuat kita bisa berhemat, karena tidak adanya potensi tempat yang menguras uang banyak. Tetap saja sih, tabungan akan habis ketika mudik, karena banyak ponakan yang menunggu pembagian uang saku 😅. Tetapi, bagi Anda yang bekerja di perkotaan jauh dari kampung halaman, berehematlah. Karena Anda harus mengumpulkan modal buat mudik yang jumlahnya tidak sedikit.
5. Sering-sering menelepon keluarga atau teman yang jauh di sana. Percayalah teman, menelepon keluarga bisa membuat perasaan kita sedikit lebih tenang. Apalagi saat menelepon orangtua. Aku sendiri sebenarnya jarang menelepon keluarga, mungkin karena pengaruh hubungan kami yang tidak dibiasakan seperti itu, bukannya tidak dekat. Ada baiknya kita tanya kabar, dengarkan curhatan orang tua tentang adik atau kakak kita, atau belajar resep ketika kangen makan masakan rumah. Aku tidak suka makanan warung di desa ini, sehingga kadang membuatku malas makan, dan memilih masakan instan. Kadang-kadang aku juga masak sendiri, jadi aku suka menelepon ibuku untuk menanyakan resep pamungkasnya supaya rasanya mirip dengan masakan ibuku. Alah, aku jadi rindu masakan ibuku. :'(
6. Pastikan barang Anda aman. Tinggal di kosan sendiri, tidak ada teman sekamar membuat kita merasa tidak nyaman. Jadi pastikan untuk mengamankan barang Anda, mengunci pintu kosan atau pintu kamar Anda, setelah itu selalu pastikan kalau pintu Anda sudah terkunci, jangan sampai lupa, karena manusia tak luput dari lupa. Aku sudah pernah kemalingan, laptop saya hilang, huhu, tetanggaku juga pernah kemalingan, jangan sampai Anda kemalingan. Jadi, waspadalah, waspadalah!
7. Baik-baiklah dengan tetangga. Bersikap baik dengan tetangga bisa dilakukan dengan banyak cara, salah satunya dengan tersenyum ketika bertemu atau berpapasan dengan mereka di jalan. Ketika beli jajanan di warung depan kosan, basa-basi tanya kabar, atau cerita sedikit juga bisa. Biasakan berterimakasih dan menjaga sopan santun. Jangan sering-sering mengunci diri di kosan seperti saya, luangkan sedikit waktu duduk-duduk di depan rumah tetangga, bercandaan sebentar, lalu mengurung diri lagi di kosan.
Jangan lupa, sering-sering bawakan oleh-oleh sehabis mudik, jangan lupa bawakan oleh-oleh untuk teman-teman kantor juga. Meski pun suka rempong bawa kantongan karena tidak muat di koper, bawa ke sana ke mari saat check in di bandara. Aku tidak pernah menitip oleh-oleh makanan di bagasi, takut oleh-olehnya hancur, jadi aku lebih suka menyimpannya di kabin pesawat.
8. Segera menikah. Hahahaha, tetapi benar, loh. Jangan lupa cari pasangan hidup, bukan karena takut kelamaan menjomblo. Tetapi, tinggal di pedesaan, membuat kita rawan menjadi bahan gosipan apabila kita masih jomblo. Boncengan sebentar sama si A, jadi bahan gosipan seminggu, padahal kita boncengan hanya karena ada urusan pekerjaan. Setelah itu, dicie-ciein lagi di kantor, mengobrol sedikit jadi serba salah, urusan pekerjaan pun jadi tidak nyaman.
Jadi, segeralah menikah, agar diri kita terhindar dari kemungkinan-kemungkinan buruk atau fitnah yang bisa terjadi. Sebelum menikah, usahakan untuk jaga diri, tidak masalah bergaul dengan teman lawan jenis. Apalagi kalau seperti kasusku yang satu-satunya karyawan cewek di sini, mau tidak mau kalau ada masalah pasti minta tolongnya sama teman kerja yang cowok. Jadi, bergaul yang seadanya saja, selalu waspada dan hati-hati.
9. Minta perlindungan sama Tuhan. Musibah itu tidak pernah direncanakan, bukan pula kuasa manusia. Untuk itu, sering-seringlah berdoa, minta perlindungan sama Yang Maha Kuasa. Kalau perlu minta sama ibu biar sering-sering didoakan, karena doa ibu itu paling mujarab. Tetapi, tanpa diminta pun, sudah pasti orangtua akan mendoakan kita, anaknya.
Sepertinya, kesembilan poin itu sudah cukup. Tidak usah panjang-panjang, nanti matanya lelah membaca kelamaan. Kalau pun nanti ada tambahan, nanti akan dibuat di tulisan selanjutnya. Semoga tips-tips di atas bisa membantu. Dan semoga, di mana pun kita berada, kita semua senantiasa berada di bawah lindungan-Nya. :')
Jumat, 03 November 2017
Hujan di Hati Kita.
Kamu menangis
dengan bahu yang sesekali berguncang. Berkali-kali kamu menahan sedu-sedanmu,
kemudian kembali terisak, pelan, lalu tangismu meledak kembali. Wajahmu basah
oleh air mata, bawah matamu mulai menghitam oleh dandananmu yang meleleh.
Pergelangan lengan bajumu basah karena berkali-kali kamu pakai untuk menyeka
air matamu yang deras berjatuhan. Seperti ada angin, tangismu membuat hatiku
berisik.
Dari jauh aku
melihat kerumuman orang berpakaian serba hitam, sedang berduka atas kepergian
orang yang kamu cintai, Citra. Kulihat seorang perempuan di sana yang tak kalah
sedihnya denganmu, perempuan orang yang kau cintai itu. Betapa menyedihkannya
dirimu, kamu bahkan tidak bisa menangis di depan semua orang. Harus bersembunyi di sini dengan duka yang coba kau sembunyikan.
Hanya bisa memandangi kepergian orang yang kamu cintai dari jauh. Merasa tidak
pantas untuk menunjukkan kesedihanmu yang tidak biasa, apalah kamu, kamu bukan
siapa-siapa untuknya.
Ingin sekali
kugerakkan tanganku untuk menghapus air mata di pipimu. Ingin sekali aku memberikanmu sepotong hatiku agar hatimu sembuh. Tetapi, sekarang seluruh
hatiku juga terluka melihatmu menangis. Aku hanya bisa meminjamkanmu bahu, agar
kamu bisa sembunyikan tangismu sepuasnya.
Aku sepenuhnya
melihatmu, saat kamu sepenuhnya melihatnya. Aku sepenuhnya tenggelam pada
matamu yang penuh dengan gejolak rasa padanya. Aku sangat suka senyummu saat
kamu sedang asik bercerita tentang rasa kagummu padanya. Atau karena kamu tak
sengaja bertatap mata dengannya. Awalnya, aku hanya kagum pada kebodohanmu mencintainya.
Tetapi, entah sejak kapan, aku mulai ikut cemburu saat kamu cemburu melihatnya berdua dengan perempuannya. Lalu ironisnya, aku ikut bodoh karena terlanjur jatuh padamu tanpa sempat mencegahnya.
Tak jarang
kamu menangis, bilang bahwa kamu akan lupa padanya, esoknya, kamu kembali jatuh
padanya. Di waktu yang sama, aku memutuskan untuk benci padamu, lalu esoknya,
aku kembali jatuh padamu. Kamu bahkan pernah bilang bahwa aku sangat mengerti
perasaanmu, bagaimana tidak? Aku hanya tersenyum saat itu. Kupikir, takdir
sedang asik bermain-main dengan hati kita.
Lihatlah,
langit sangat cerah, Citra. Tetapi hati kita semua sedang hujan karena
kepergian orang yang kamu cintai. Kamu masih berusaha mengusir hujan di hatimu,
sedang aku diam berdiri di sampingmu. Tidak kuucap sepatah kata pun untuk
menghiburmu. Agar kamu tidak mendengar suara hujan di hatiku saat aku membuka
mulut. Kukumpulkan keberanian untuk mengangkat tanganku lalu menepuk-nepuk
bahumu. Menangislah sepuasnya hari ini, meski esok, kamu mungkin akan
datang lagi padaku untuk menangis.
Jangan berhenti menangis, Citra, tidak masalah kalau bahuku basah, atau wajahmu yang jadi bengkak. Akan aku titip doa di setiap air matamu, berharap dia turut pergi dari hatimu. Lalu, aku
akan mengajarimu untuk perlahan melihatku dengan hati yang diam-diam berpilu. Tidak masalah kalau kamu butuh waktu lama, Citra, aku akan sabar menunggu. Karena sepertinya, aku tidak bisa berhenti jatuh
padamu.
Kamis, 02 November 2017
Cermin.
"I don't need what i don't have." Aku lupa di mana aku melihat atau mendengar kalimat ini. Tetapi bagiku, kalimat ini menohok pas, seperti menampar lalu menyuruhku sadar, menahan kepalaku yang selalu saja menoleh ke kanan atau ke kiri, mengagumi apa yang orang miliki tapi tidak kumiliki. Tidak masalah kalau sekadar mengagumi, tetapi setelahnya aku berandai-andai, melihat bayangan diriku yang tidak sempurna, lalu merutuk, pertama pada diri sendiri, lalu secara tidak langsung, aku menyalahkan Tuhan. Hal yang selama ini kita sering lakukan tanpa kita sadari.
"I don't need what i don't have." Aku tidak membutuhkan apa yang tidak aku miliki, bukan sebaliknya, itu artinya kita harus mensyukuri apa yang kita miliki. Banyak dari kita terlalu mementingkan diri sendiri, melihat dari satu sudut pandang saja tanpa pernah mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kita sibuk mencari apa yang kurang dari diri kita sendiri, apa yang lebih dari orang lain yang tidak kita miliki, tanpa pernah berhenti sejenak dan berpikir sebaliknya. Karena mungkin saja, orang yang kita lihat sempurna itu, memandangi kita lalu berpikir hal yang sama dengan kita, bahwa betapa eloknya kita di matanya, atau betapa banyaknya hal yang kita miliki yang membuat mereka merasa kurang.
Kita terlalu sibuk menaikkan standar untuk diri kita sendiri, tanpa pernah bercermin pada orang yang memandang kita terlalu tinggi. Kita terlalu sibuk mengejar apa yang ada di depan tanpa pernah menoleh ke belakang. Kita terlalu sibuk mencari-cari kekurangan kita, tanpa pernah berpikir bahwa itu bisa jadi kelebihan. Seperti contoh, perempuan sibuk mengeluhkan badannya yang mungil, yang tidak semampai bak model, atau badannya yang agak berisi, padahal di luar sana, ada lelaki yang lebih suka perempuan dengan badan yang mungil, yang tidak terlalu tinggi, atau badan yang agak berisi. Tetapi, di luar semua itu, bukankah apa yang kita miliki saat ini tidak ada yang abadi? Wajah cantik pun suatu saat akan keriput.
"Aku memiliki semua yang kubutuhkan," itulah yang seharusnya kita tanamkan di pikiran masing-masing, itulah makna dibalik kata Alhamdulillah yang sering kita lafazkan setelah bangun tidur, bahwa kita bersyukur terhadap apa yang kita miliki. Bukankah Tuhan yang paling tahu apa yang kita butuhkan? Apa yang terbaik untuk kita? Hanya saja kita cenderung terlalu tergesa-gesa untuk mengambil kesimpulan, menyalahkan Tuhan yang sangat tidak adil, tanpa pernah menunggu bahwa nanti suatu saat, semua akan indah pada waktunya. Barulah nanti setelah merasa mendapat jawaban, barulah kita ber-"oh" panjang, "oh, mungkin ini maksud Tuhan."
Menurutku, semua hal itu mempunyai dua sisi, keburukan pun suatu saat bisa menjadi kelebihan, kelebihan pun suatu saat bisa menjadi kekurangan, tidak ada yang dapat memuaskan nafsu manusia. Lalu, untuk apa merasa buruk terhadap diri sendiri, lalu kemudian tidak merasa semangat, bermalas-malasan bangun pagi dan tidak percaya diri saat wawancara kerja? Sedangkan perasaan bersyukur bisa saja membuat hatimu lebih damai, sepanjang hari terasa lebih bahagia, orang-orang yang melihatmu pun turut senang dan bergembira, bisa saja satu di antara mereka datang menghampirimu lalu menawarkanmu jadi menantu?
Untuk apa merasa buruk terhadap diri sendiri, kalau bersyukur tak membuatmu kehilangan apapun?
Langganan:
Postingan (Atom)