Minggu, 01 Juli 2012

Cinta dan Hal-Hal Sederhana

Tidak masalah,
Darimana matahari datang,
Pagiku tidak hadir tanpamu..

Seperti cinta.
Yang tak pernah mengkhawatirkan masa depan.

Seperti hal-hal yang sederhana..
Seperti tawa, foto, tempat makan favorit dan lagu.

Seperti sebuah cerita,
Harapan yang berulang-ulang,
Yang tak sungkan-sungkan.

Seperti..
'Aku akan memelukmu dan tidak akan melepasmu.'

Seperti..
Ucapan yang asal-asalan.

Karena cinta.
Tak pernah menghitung masa lalu.


Meski aku berkali-kali menolak.
Bahkan mengutuk dirinya.
Tapi kemudian, aku sangat menantikan kehadirannya.

Karena cinta, begitu sederhana.
Seperti tersandung pada kerikil yang luput dari perhatianmu.

Dan lalu aku jatuh cinta.

Jumat, 29 Juni 2012

Bulan Senja

Aku lalu mendengar seruan,
"Sayang, bulan malam ini cantik."
Aku spontan mendongak.
Ah, luka..
...
Teringat kembali pada tangis.
Teringat kembali pada bulan senja.
Di batas biru.
Bulan tenggelam di ufuk barat.

Di layar putih,
Aku memainkan kerang pada pasir.
Sebuah serpihan memori,
Sebuah nama,
Sebuah lukisan wajah.

Ah, Luka.
Andai menghilangkanmu semudah ombak yang menepi.
Tapi, hingga matahari senja berpamit,
Sebuah nama,
Sebuah luksian wajah,
Masih menjadi serpihan memori.

Ah, Luka.
Andai masamu hanya selama senja.
Aku mungkin baik-baik saja,
Saat menatap bulan.

Sabtu, 23 Juni 2012

Memeluk Bintang

Bahkan jika hari sudah pagi.
Aku masih saja bermimpi,
Mimpi menyentuh matahari.

Bahkan jika hari sudah petang.
Aku masih saja bermimpi,
Mimpi mencuri bulan.

Bahkan ketika aku tahu sedang bermimpi,
Aku masih enggan terbangun,
Karena sedang memeluk bintang.

Barulah setelah aku tahu wanita itu adalah diriku.
Barulah aku berani memandangnya.

Ah, bahkan dalam mimpi aku masih saja tertidur.
Karena jika saja ucapannya benar,
Satu mimpiku jadi nyata.

Jumat, 22 Juni 2012

Matahariku di Ambang Pintu

Apa yang dia lakukan di ambang pintu?
Saat dia memunggungiku,
Kupikir dia akan segera meninggalkanku,
Tapi dia hanya berdiri di ambang pintu.
Sedang aku masih tertunduk membaca buku.
Berpura-pura masih membaca.
Menolak mendongak dan hanya menatap punggungnya.

Tapi dia hanya berdiri di ambang pintu.
Mungkin saja sedang memperhatikanku.
Ah, aku masih saja suka tertidur.
Tapi, ternyata hari sudah pagi.

Aku semakin suka bermimpi,
Semakin suka duduk mematung,
Sampai tertidur pun di sini.

Aku semakin sering bermimpi,
Semakin sering berpikir tidak masuk akal,
Sampai aku berpura-pura tidak mengenal diriku.

Karena segala hal tentangnya adalah halusinasi.
Berharap adalah hal gila.
Atau pun bermimpi tentangnya.

Karena dia bagiku adalah matahari.
Aku bisa saja mencintainya.
Tapi menggapainya adalah hal yang sama dengan menjadi Tuhan.

Senin, 18 Juni 2012

Pasangan Dongeng

Meski sedang terlelap.
Tapi ingin rasanya ku senandungkan lagu.
Lagu yang kerap kali ku dengar di dekapnya.

Seperti sebuah sandiwara..
Seperti sebuah rahasia..
Dan lalu dalam diam..
Tanpa bergeming
Bersenandung lagu dalam hati.

Seperti sebuah sandiwara..
Seperti tidak terjadi apa-apa..
Aku lalu berlalu,
Seperti ingin berpamit, tapi dalam bayangku saja.
Aku lalu teguh melangkah,
Seperti ingin menoleh karena seruannya,
Tapi itu hanya harapku saja.

Seperti tidak terjadi apa-apa..
Seperti sebuah lelucon..
Kami hanyalah pasangan dalam dongeng.

Sabtu, 16 Juni 2012

Berebut Rindu

Bukankah ini lebih baik?
Saling mencuri kesempatan di antara kata yang menuntut perhatian.
Seolah berebut rindu.

Lihat aku!
Lihat aku saja!
Acuhkan saja kesibukan mereka.
Biar kita saling merebut rindu saja.
Diam-diam..
Di antara kata yang menuntut perhatian.

Ah, tapi kau mulai acuhkanku.
Sementara aku masih punya banyak rindu di sini.
Kenapa tak biarkan aku bahagia saja?

Aku telah membuka jalan,
Seperti jejak semut yang beriring.
Aku telah pecahkan selaksa cinta.
Sekali saja kau lihat.
Cinta yang kau ragukan kemarin.

Jumat, 15 Juni 2012

Melodi, Simfoni

Tuliskan aku sebuah puisi yang tak pernah tersampaikan
Meski dua hati telah saling terpaut dalam diam
...
Kau menjinakkan tanya untuk mengerti
Sementara aku menjinakkan lelahku untuk terlelap
Tak ada yang saling tau
Hanya sayup melodi yang satukan dimensi kita

Aku menyerah dan bergegas pamit
Lalu kau bersuara, mencari alasan untuk menghentikanku
Kita sama-sama memaklumi...

Lalu terdiam,
Memberi jalan pada melodi...

Lalu diam-diam,
Aku memainkan sebuah simfoni yang tak pernah tersampaikan.

Selasa, 03 April 2012

Jadi baiklah!

Dan lagi..
Tidak ada orang yang benar-benar baik bahkan untuk ditahtakan sebuah harapan Kawan.
Jika kau amati lekat dunia ini, bahkan jika kau amati Sahabat dekatmu sebentar saja, kau akan temui ia tidak sepenuhnya tulus ketika memenuhi permintaanmu - kecuali jika kau pandai mengenal mereka.

Mereka akan menunjukkan keberatan mereka, banyak cara, agar kau mengerti dan berkata "tidak usah".
Tapi ada juga orang yang benar-benar baik tetapi membuatmu tidak nyaman sedang situasimu dalam kondisi yang sangat, sangat, sangat buruk.

Bisa saja, mereka akan mengerutu kecil, ngebut-ngebut ketika sedang mengantarmu, dan menyuruhmu membayar uang listrik ketika kau numpang di rumahnya selama dua bulan karena diminta sendiri oleh temanmu dengan menjadikan orang lain sebagai alasan.

Atau tidak ada yang benar-benar baik.. Tidak ada.
Karena jika hari ini mereka baik padamu, maka keesokan harinya, kau harus berbalik baik pada mereka.
Dan dalam hal ini tidak ada standar yang menentukan kadar baik seseorang sehingga "kau lebih baik" atau "mereka lebih baik".
Maka jadi baik saja untuk semua orang, selama kau bisa, selama tidak bertentangan dengan perasaan jujur dan ikhlasmu.
Dan selama kau berbuat baik itu, berlaku ikhlas lah jika kau bisa.
Dan selama kau berbuat baik, jangan bertingkah seolah kau telah direpotkan.

Jadi baiklah teman, Ku mohon.

Senin, 02 April 2012

Salah.

Aku berpijak pada bumi yang penuh dengan ketidakadilan...
Semua salah diukur dengan kadar yang tak sebanding...
Dan sekarang daging itu berkarat kecewa dan bergelantungan pada tulang,
Karena telah khianati dedikasi hari pertama...

Mendongak ke atas.
Dan menitikkan air mata pada Dara yang menjabat Pemimpin..

Kutundukkan kepala dan kuperbaiki tatanan tali sepatuku.
Aku pergi..

Rabu, 29 Februari 2012

Hitam

Akan kubunuh hati yang mencintaimu.
Dan setelah itu, Aku akan ikut mati bersamanya...
Tersemayamkan di bawah nisan bertuliskan namamu.

Hijau dan abu itu akan terlihat hitam saja.
Bahkan tawa itu terlihat hambar.
Tak ada lagi getir, desir...

Akan kubunuh setiap para pecinta dengan kemunafikan wajahnya.
Selaksa kasih kusihir menjadi batu-batu kematian...
Cahaya di mata indah itu telah redup.

Hanya Hitam.

Sabtu, 25 Februari 2012

Kisah Puisi Kita

_Bukan Kata Indah_
  Lelakiku :
  Menguji dan melihat.
  Mencoba menyelam arti dari setiap puisimu.
  Hingga yang nampak adalah kata-kata yang indah saja.

  Aku :
  Aku bukan pencipta kata-kata indah.
  Aku hanya penalar sebuah rasa yang tersemat dalam labuh kisahku.
  Mencari setiap arti dari teka-teki malam.
  Seperti ketika berusaha memotret keindahan alam dalam segiempat lukisan.
  Seperti itu malam-malamku.
  Seperti itu hari-hariku.

_Lelakiku Untuknya_
  Lelakiku :
  Aku sayapnya.
  Tambatan hatinya.
  Yang mengilhami tiap langkah hidupnya.
  Begitu adanya.
  Dalam goresan pena.
  Ia suratkan berkala untukku.

  Tak sekalipun kujumpai dia.

  Aku :
  "Aku sayapnya.
  Tambatan hatinya.
  Yang mengilhami tiap langkah hidupnya."

  Lantas di pikiranmu kau seperti apa bagiku?
  Setiap malam kulabuhkan padamu sebuah puisi.
  Lalu kau belum mengerti?

_Rasa Sakit_
  Aku :
  Jika saja rasa sakit itu dapat terukur dalam nilai nyata.
  Aku yakin kau akan menangis saat tau.

  Telah kuhafal pergerakan awan setiap malam.
  Dan telah kunonton beribu-ribu bulan yang tenggelam di ufuk yang sama.
  Ku tapak kaki  pada kata-kata cinta yang tersapu laut biru.

  Andai saja kau tau.
  Aku akan terus mencintai, tanpa keluh, tanpa menuntut.
  Karena aku percaya di tempat aku berpijak adalah cermin.

  Lelakiku :
  Ku larut luruh dalam keheningan hatimu.
  Jatuh bersama derasnya air mata.
  Kau benamkan wajahmu yang berteduhkan duka.
  Melagukan kepedihan di dalam jiwamu.

  Tidak masalah..


_Balutan Maaf_
  Lelakiku :
  Aku bingung.
  Harus kubalut dan kukemas seperti apa hubungan ini?

  Aku :
  Balut saja dengan kata maaf!!
  Duh, Lelakiku.
  Andai bisa ku bunuh rasaku.
  Maka pasti telah tersemayamkan di bawah nisan yang bertuliskan namamu.
  Tetapi, harus bagaimana diriku?
  Di sisi lelakiku ada perempuan lain.
  Ku kemanakan kisah suci ini?

_Sejatinya Cinta_
  Aku :
  Ada luka yang menganga di sebongkah daging yang memaknaiku.
  Sakit.
  Tetapi, tak setetespun tangis.
  Karena aku mencoba untuk tetap tegar mencintaimu.

  Lelakiku :
  Aku bingung.
  Tapi, aku bisa rasakan apa yang kamu rasa.
  Entahlah.
  Aku masih bingung.
  Cinta yang kau tawarkan terlalu suci untukku..

  Aku :
  Sejatinya cintaku tidak untuk membuatmu gamang di tempat pijakanmu.

Siluet Senja

Aku berdiri antara senja.
Bersama siluet ragaku yang gelap.
Cahayanya kuning lalu memerah, sayang.
Lantas kutitikkan buliran air mata suci para kekasih.

Senja mulai menua, sayang.
Botol bersurat itu tampak telah menitik di ekor pandanganku.
Berharap cinta yang tersemat untukmu,
Ikut tenggelam di kutub bumi yang berlawanan.

Menanti senja berganti, lelakiku.
Tetapi, selalu saja kudapati diriku pada pagi dengan cerita yang sama.
Masih terduduk dengan bayang lima tahun silam.
Lalu aku tersedu.
Dan terjatuh.

Lima Tahun

Lirik lagu itu,
Mengingatkanku pada luka yang belum sepenuhnya sembuh.

Menuruni tangga,
Seraya menggenggam buliran salju dari langit abu-abu.

Hingga aku kembali ke lima tahun silam.
Di mana dunia terlihat pekat di antara kepulan air mataku.

Kasih Suci

Seperti kedap-kedip kursor..
Yang menunggu disulap dari temaram cahaya tuts-tuts kecil.
Seperti kata para pujangga di antara pidato para petinggi.

Seperti itu ketika kucoba menemukan takdirku.
Antara nalar dan tebaran tatap.
Menelusuri akhir dari jari telunjuk seorang peramah.
Dan sebuah anggukan kutunjukkan sebuah keterpukauan.

Di antara praduga yang tersimpan rapi,
Ada sebuah gejolak, sayangku.

Sebuah rasa,
Bahkan bising gemericik hujan masih bisu.
Kunang-kunang malam tampak samar.
Badai angin terasa seperti sebuah siulan anak kecil.

Aku sedang membicarakan kasih suci, lelakiku!
Adakah kau mengerti?

Minggu, 29 Januari 2012

Jiwa Malam

Kau rasakan terpaan angin di wajah dan tubuhmu yang tertutupi pakaian tipis..
Getir risau menggerayangi pikiranmu,
Sembari tersenyum bebas seolah terbang.

Kau dengar bising mesin yang melahap keras tawamu.
Kemudian terbang bersama mengalahkan rotasi bumi!

Terobsesi mengejar cahaya-cahaya yang tampak bergaris-garis di pelupuk mata.
Dan kau seolah raja dengan mahkota kematian!!

Begitulah arwah yang terjeruji dalam jiwa malam.
_LA_

Kamis, 12 Januari 2012

Dunia Abu-Abu

Aku sakit. Di sini. Tepat di sini.
Aku menunggumu, sangat lama.
Tetapi, kenapa kau tidak melihatku?
Aku sering melihatmu di sini, tapi tak pernah ku mendapat balasmu.
Kau seperti langit malam yang gelap.
Yang memiliki bulan di antara gembulan awan hitam.
Dan di sini aku berselimut langit dan memandang dirimu.
Tetapi perlahan rerintikan hujan menamparku.
Seolah aku diajarkan bersedih.
Seolah langit itu menangis untukku.
Karena aku hanya bisa memandangmu dari jauh.
Karena aku tak pernah tampak di matamu.
Lancangkah aku jika kusemat cinta untukmu?
Lancangkah aku jika kuhentikan langkahmu untuk menemuinya?
Mengapa aku terus mencintaimu?
Jika ku tahu aku hanya akan berdiri di sini.
Masih dari jauh. Di tengah dunia abu-abu.