Pukul 12 malam, niat hati ingin
menulis, tetapi aku tidak tahu harus menulis apa. Sebenarnya bisa kumulai dari
tadi, hanya saja, aku punya hal yang juga penting untuk kulakukan, dan untuk
saat ini, aku hanya lebih senang melakukannya dibanding menulis. Sebenarnya ingin
kuselesaikan dulu pekerjaanku itu, yaitu mengedit menggunakan aplikasi
Photoshop, tetapi kenyataan tidak sesuai dengan perencanaan, pukul 12 malam
sudah berdentang, tinggal sejam lagi target aku harus mengunggah sebuah tulisan
hari ini, kupikir kutunda dulu pekerjaanku mengedit, menulis menjadi prioritas
karena sifatnya menjadi sangat mendesak.
Pukul 12.10 malam, aku butuh lima
menit untuk menulis kalimat pertama, tidak pedulilah pada konsep cerita, aku
hanya perlu mengunggah tulisan malam ini. Entah kenapa, aku suka sekali memulai
menulis sejam hingga dua jam menjelang tenggat waktu. Padahal jika kukerjakan
lebih awal, aku akan punya waktu lebih banyak untuk mengarang sebuah cerita, atau
melanjutkan cerita pendek yang sebelumnya sudah kubuat. Awalnya, aku tidak
berniat membuat cerita pendek yang bersambung, tetapi tanganku berkata lain, mungkin
ini karena hasutan dari beberapa teman yang meminta agar ceritanya dilanjutkan.
Kupikir, tokoh dalam ceritaku sudah besar, sudah mandiri, biarlah mereka menentukan
takdirnya masing-masing, lol.
Pukul 12.16 malam, tulisan saya
sudah mencapai 196 kata sampai kalimat ini. Itu sudah memenuhi persayaratan menulis
di program Day Writing Challenge yang kuikuti bersama sahabat baikku yang
kadang-kadang aku suka menghubunginya lewat video
call, ketika aku sedang bad mood di
tempat kerja. Kudengar suara dengkuran halus dari temanku yang menginap di
rumahku malam ini, dia dari tadi mengeluh tidak bisa tertidur, dan bertanya
kenapa sambil menggaruk-garuk kepala. Tetapi sepertinya, dia sulit tertidur karena
dari tadi aku mengajaknya bercerita.
Pukul 12.21 malam, saatnya
membuat kesimpulan. Keresahan yang terjadi padaku saat ini adalah karena aku
sulit tertidur enam bulan terakhir ini, menyebabkan aku sering bangun kesiangan
dan akhirnya telat masuk kantor, kesulitan berkomitmen terhadap diri sendiri
adalah penyebab utamanya. Kadang-kadang hal yang menghantuiku menjelang waktu tidur, adalah
karena terlalu banyak pikiran terhadap apa yang ingin aku lakukan, pekerjaan
apa yang belum diselesaikan, atau target yang ingin difokuskan dalam waktu
dekat ini, kebanyakan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan di kantor, berkali-kali kularang diriku untuk tidak membawa urusan dari kantor ke kamar tidur. "Tidak bisa begini," pikirku dan tentu saja saya googling.
Saat ini aku sedang
gencar-gencarnya menggunakan metode to do
list, sebuah metode di mana kita harus mencatat agenda per hari berikut
dengan target waktunya. Kebetulan, aku suka menulis, aku lebih suka menulis
dibanding mengetik di handphone atau
di laptop - aku bahkan sengaja beli handphone Note untuk dipakai menulis, sehingga melakukan metode ini bisa jadi hal yang menyenangkan. Jadi, ketika aku sedang banyak pikiran, menulis membantuku
untuk menguraikan isi pikiranku yang semrawut, satu per satu, lalu kemudian
kususun dengan rapi, dan kubaca kembali. Hal yang paling menyenangkan dari metode ini, adalah
ketika satu item selesai direalisasikan, men-checklist satu target di to do list kita adalah momen yang paling
memuaskan, itu baru satu, belum kalau semua kotak checklist tercentang seluruhnya. Setelah itu, jangan lupa berdoa sebelum tidur, kepada
Tuhan, bahwa semoga besok tekad kita dikuatkan.
Pukul 12.39 malam, aku memutuskan
untuk mengakhiri tulisan ini, dan mengunggahnya di blog saya. Terima kasih
sudah berkunjung.
P.S : Detik-detik jelang jam satu, aku deg-degan. Aku berhasil mengunggahnya sebelum pukul satu malam. Saatnya melanjutkan editan yang tertunda.