Selasa, 31 Oktober 2017

To Do List

Pukul 12 malam, niat hati ingin menulis, tetapi aku tidak tahu harus menulis apa. Sebenarnya bisa kumulai dari tadi, hanya saja, aku punya hal yang juga penting untuk kulakukan, dan untuk saat ini, aku hanya lebih senang melakukannya dibanding menulis. Sebenarnya ingin kuselesaikan dulu pekerjaanku itu, yaitu mengedit menggunakan aplikasi Photoshop, tetapi kenyataan tidak sesuai dengan perencanaan, pukul 12 malam sudah berdentang, tinggal sejam lagi target aku harus mengunggah sebuah tulisan hari ini, kupikir kutunda dulu pekerjaanku mengedit, menulis menjadi prioritas karena sifatnya menjadi sangat mendesak.

Pukul 12.10 malam, aku butuh lima menit untuk menulis kalimat pertama, tidak pedulilah pada konsep cerita, aku hanya perlu mengunggah tulisan malam ini. Entah kenapa, aku suka sekali memulai menulis sejam hingga dua jam menjelang tenggat waktu. Padahal jika kukerjakan lebih awal, aku akan punya waktu lebih banyak untuk mengarang sebuah cerita, atau melanjutkan cerita pendek yang sebelumnya sudah kubuat. Awalnya, aku tidak berniat membuat cerita pendek yang bersambung, tetapi tanganku berkata lain, mungkin ini karena hasutan dari beberapa teman yang meminta agar ceritanya dilanjutkan. Kupikir, tokoh dalam ceritaku sudah besar, sudah mandiri, biarlah mereka menentukan takdirnya masing-masing, lol.

Pukul 12.16 malam, tulisan saya sudah mencapai 196 kata sampai kalimat ini. Itu sudah memenuhi persayaratan menulis di program Day Writing Challenge yang kuikuti bersama sahabat baikku yang kadang-kadang aku suka menghubunginya lewat video call, ketika aku sedang bad mood di tempat kerja. Kudengar suara dengkuran halus dari temanku yang menginap di rumahku malam ini, dia dari tadi mengeluh tidak bisa tertidur, dan bertanya kenapa sambil menggaruk-garuk kepala. Tetapi sepertinya, dia sulit tertidur karena dari tadi aku mengajaknya bercerita.

Pukul 12.21 malam, saatnya membuat kesimpulan. Keresahan yang terjadi padaku saat ini adalah karena aku sulit tertidur enam bulan terakhir ini, menyebabkan aku sering bangun kesiangan dan akhirnya telat masuk kantor, kesulitan berkomitmen terhadap diri sendiri adalah penyebab utamanya. Kadang-kadang hal yang menghantuiku menjelang waktu tidur, adalah karena terlalu banyak pikiran terhadap apa yang ingin aku lakukan, pekerjaan apa yang belum diselesaikan, atau target yang ingin difokuskan dalam waktu dekat ini, kebanyakan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan di kantor, berkali-kali kularang diriku untuk tidak membawa urusan dari kantor ke kamar tidur. "Tidak bisa begini," pikirku dan tentu saja saya googling.

Saat ini aku sedang gencar-gencarnya menggunakan metode to do list, sebuah metode di mana kita harus mencatat agenda per hari berikut dengan target waktunya. Kebetulan, aku suka menulis, aku lebih suka menulis dibanding mengetik di handphone atau di laptop - aku bahkan sengaja beli handphone Note untuk dipakai menulis, sehingga melakukan metode ini bisa jadi hal yang menyenangkan. Jadi, ketika aku sedang banyak pikiran, menulis membantuku untuk menguraikan isi pikiranku yang semrawut, satu per satu, lalu kemudian kususun dengan rapi, dan kubaca kembali. Hal yang paling menyenangkan dari metode ini, adalah ketika satu item selesai direalisasikan, men-checklist  satu target di to do list kita adalah momen yang paling memuaskan, itu baru satu, belum kalau semua kotak checklist tercentang seluruhnya. Setelah itu, jangan lupa berdoa sebelum tidur, kepada Tuhan, bahwa semoga besok tekad kita dikuatkan.

Pukul 12.39 malam, aku memutuskan untuk mengakhiri tulisan ini, dan mengunggahnya di blog saya. Terima kasih sudah berkunjung.


P.S : Detik-detik jelang jam satu, aku deg-degan. Aku berhasil mengunggahnya sebelum pukul satu malam. Saatnya melanjutkan editan yang tertunda.

Senin, 30 Oktober 2017

Sederhana yang Rumit.

Tiktoktiktok.
Dentang waktu terus bergulir, detik-detik menjauh, satu bertambah menjadi dua, rasa kantuk perlahan menjelajah, membuatku menguap lebih dari sekali, tetapi herannya, pikiranku malah lari mengingatmu. Aku mencoba meneleponmu, namun sayang, panggilan teleponku tidak dijawab. Mungkin kamu lagi asik dengan duniamu, seperti kemarin, seperti dulu, namun sayang, aku dari dulu mengetuk, mencoba agar kamu menoleh, pelan tetapi tidak didengar, keras malah kesannya jadi buruk, maksud hati hanya ingin mengenalmu, tetapi kamu malah mendorongku menjauh. Aku berpamit, kamu hanya bergeming, aku menyerah.

Tiktoktiktok.
Dentang waktu terus bergulir, detik-detik menjauh, satu berganti menjadi dua, hari ini berganti menjadi kemarin, tetapi anehnya, hati masih terjebak masa lalu, pada luka yang tak pernah gagal membuat hati merintih sesal, pada kamu yang tak pernah gagal membuatku jatuh berkali-kali. Aku ingin membuat perasaanku padamu sederhana saja, tetapi kenapa sulit sekali berucap selamat tinggal, sedang hati sudah kepayahan menanggung rasa yang tak terbalas.

Tiktoktiktok.
Dentang waktu terus bergulir, detik-detik menjauh, menit berganti menjadi jam, rasa kantuk makin menjelajah, aku menguap berkali-kali, sesekali mataku terpejam lama, tetapi herannya, yang kulihat dalam gelap adalah kamu. Percayalah, aku ingin menyerah, ingin lupa, jika saja tidur bisa membuatku lupa padamu, aku akan tidur selama waktu yang dibutuhkan. Katamu, aku selalu saja bercanda, selalu saja berpindah, tetapi sejatinya aku menunggu, kamu saja yang tak pernah menetap. Jadi kali ini, pergilah jika kamu tak mampu janjikan selamanya, selagi hati masih mampu melupakan. Tetapi, andai saja perasaan kita sejalan, jangan ragu untuk menggenggam tanganku. "Aku suka kamu", "kamu suka aku", kenapa kamu senang sekali membuat rumit hal sesederhana itu?

Minggu, 29 Oktober 2017

Namamu.

Kubiarkan panggilan masuk tak terjawab. Berdering sekali, berdering beberapa kali, kuabaikan. Hujan turun deras di luar, sesudah diperingati oleh beberapa guntur yang lumayan keras. Tiba-tiba listrik mati, menyebabkan gelap yang mencekam, hanya ada pendar cahaya dari layar handphone yang asik kumainkan. Hujan dan gelap memang akrab dengan suasana seram, apalagi kemarin baru saja selesai melihat ulasan film Pengabdi Setan yang lagi marak dibicarakan orang. Aku masih terdiam di kamarku, rasanya malas beranjak ke luar mengambil lampu cas, tak masalah jika gelap.

Kumainkan terus handphone-ku, bosan memiringkan badanku ke kanan, aku miringkan badanku ke kiri. Kulihat sekilas kilat cahaya dari jendela rumahku, pasti bias cahaya petir dari luar, pikirku. Tak lama, kulihat sebuah bayangan lewat, samar suara batuk juga terdengar. Jangan salah paham, itu hanya temanku yang kebetulan sedang menginap di rumahku. Untunglah aku tidak sendiri, kalau iya, bayangan lewat itu sudah pasti membuatku takut.

Tetapi jujur, hatiku berdebar-debar tak karuan sejak tadi, bukan karena hujan, bukan karena petir, bukan karena bayangan temanku yang sedang lewat, tetapi karena sore tadi, aku baru saja menyodorkan sebuah kotak kecil merah yang berisi cincin kepada seorang perempuan di sebuah kafe. Itulah mengapa aku selalu mengabaikan panggilan masukku dari tadi, karena orang yang kutunggu-tunggu jawabannya tidak juga menghubungiku. Entah sampai kapan dibiarkannya aku menunggu, dia tidak pernah bilang akan menghubungiku hari ini, dan aku memberikannya nomor teleponku tanpa meminta nomor teleponnya.

Handphone-ku berdering, ada satu pesan masuk, di layar handphone-ku yang masih terkunci, tampak pengirim dari sebuah nomor yang tidak kukenal. Hatiku tambah berisik, baru saja aku ingin bersorak, sudah disusul duluan oleh temanku, menyorakkan listrik yang sudah menyala. Aku menggerutu, bikin kaget saja, pikirku. Aku sedang khidmat menikmati debaran hatiku yang deg-degan, melafazkan basmalah sebelum membuka pesan masuk itu, dalam hati aku berdoa semoga isi pesannya tidak mengecewakan, kalau pun mengecewakan semoga hatiku ikhlas menerimanya.

"Assalamu alaikum," begitu awalnya.
"Malam, maaf mengganggu." Aku membacanya, pelan.
"Ini aku," kutarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran hati yang makin berisik, tetapi tak juga berhasil.
"Perempuan yang di kafe tadi sore."
"Maaf, tadi kita belum memperkenalkan diri." Aku merutuk diri, bodohnya aku tidak memperkenalkan namaku.
"Namaku," ...

Ingin rasanya aku melempar handphone-ku, karena tiba-tiba handphone-ku mati tepat sebelum aku membaca nama perempuan itu. Ingin berteriak, tetapi khawatir kalau tetanggaku terganggu, hanya karena kebodohanku tidak mengecas handphone-ku dari tadi, aku takut kalau melewatkan telepon atau pesan dari perempuan yang kutemui di kafe sore tadi, tetapi, malah begini jadinya. Ah, kamu yang belum kutahu namamu, sedikit lagi, semoga kamu tidak sebal menunggu.



Sabtu, 28 Oktober 2017

Janji Tahun Depan.

Aku bercerita tentang aku kepadamu, tetapi kamu tidak percaya, mungkin karena bosan mendengar ceritaku setiap hari, kamu malah memilih pergi. Hari itu, aku memang menangis, tetapi hari ini tidak lagi. Untuk apa? Menangisi sesuatu yang memilih pergi, pada akhirnya, kamulah yang kehilangan, bukan aku.

Kemarin, kamu memilih pergi, tidak peduli apa yang kubilang, tidak percaya pada perasaan yang kusampaikan, tetapi hari ini, kamu memilih kembali kepadaku. Kamu menahanku yang ingin segera menutup pintu setelah kutahu bahwa kamu lah yang mengetuk pintu rumahku tiga menit yang lalu, buru-buru kamu mengatakan bahwa kamu menyesal, memintaku untuk percaya kali ini, bahwa dulu kamu memang bersalah, lalu dengan apa aku percaya?

Aku sudah berdamai dengan hati yang dulu mencintaimu, dengan hati yang dulu terluka, dengan hati yang dulu buta, melakukan apa saja untuk menyenangkan hatimu, lalu pelan, kamu pergi, kamu berhenti, tidak ada lagi ucapan manis sebelum tidur, pelan, sangat pelan. Aku bertanya maksudmu apa, kamu hanya tidak ingin menyakitiku, katamu. Tetapi, tahukah kamu? Lama kamu meninggalkanku dalam diam, berteka-teki tentang tingkahmu, membuatku bertanya kenapa tanpa pernah ada jawaban, aku seperti gila, mencoba menghibur diri di depan cermin, sedetik kemudian, aku menangis. Kamu hanya tidak ingin menyakitiku, katamu, coba dengar kalimat itu untuk dirimu sendiri, entah kenapa bagiku itu terdengar lucu sekali.

"Apa yang membuatnya berbeda kali ini, apa yang membuatmu berbeda kali ini?" Tanyaku. Buru-buru, kamu menjanjikanku "tahun depan", sesuatu yang dulu tidak pernah ada padamu.
"Kalau begitu, kembalilah lagi tahun depan," begitu jawabku. Lalu, dengan raut kecewa yang tidak bisa kamu sembunyikan, kamu akhirnya pergi dari rumahku.

Tetapi, tahukah kamu? Manusia itu tidak ada yang abadi, apalagi janji yang baru saja kamu bilang. Lalu, dengan apa aku percaya?

Jumat, 27 Oktober 2017

Berdamai dengan Hati.

Duhai kamu, calon perempuanku kala itu.
Apalah aku,
Yang hanya bisa menjanjikanmu tahun depan,
Sebuah hari yang istimewa,
Dan sisa hidupku setelahnya,
Bahkan kamu dan masa depanmu,
Akan menjadi tanggunganku seterusnya.

Itulah aku,
Yang hanya bisa berjanji kala itu.

Tetapi kamu,
Yang selalu kumimpikan sebagai perempuanku sejak dulu,
Sekitar delapan tahun yang lalu.
Entah bagaimana jalannya,
Kamu memilih yang lain sebagai imammu,
Lelaki yang kamu kenal sejak orang tua kita sudah sekata.
Datang meminangmu, entah hari apa.
Lalu kamu terima, tidak tau mengapa.

Aku, yang jauh darimu saat itu,
Ingin mengutuk tetapi tak tega,
Bertanya kenapa, bingung kepada siapa.
Kepadamu, hanya maaf yang kamu ulang.
Ingin salahkan jarak, 
Namun hatimu sudah lebih jauh dari sekadar jarak.
Kutitip tanya,
Pada setiap kenangan yang kucoba kubuka.
Tak juga kudapat jawaban.
Setelahnya, terbitlah penyesalan.
Mengandai-andai yang tak berkesudahan.

Percayalah,
Kamu, yang kucoba kulupakan sejak itu,
Betapa payahnya aku melepasmu.
Betapa tertatihnya hati meniti jalan menjauhimu.
Semua masa lalu,
Dan senyum manis lesung pipitmu.
Semua mimpi tentang kamu,
Yang adalah calon perempuanku,
Akan kuganti hati yang bukan lagi kamu.
Akan kuganti hari yang bukan lagi kamu.

Jadi, kamu,
Yang adalah calon perempuan lelaki lain,
Tak perlu bertanya tentang kabarku,
Karena katamu,
Kamu merasa bersalah padaku.
Cukup tinggalkan aku sendiri,
Yang sedang mencoba berdamai,
Dengan hatiku yang bukan lagi kamu.

Bahwa kamu berjodoh dengan lelaki yang bukan aku,
Bahwa aku berjodoh dengan perempuan yang bukan kamu,
Bahwa perempuan itu yang kelak paling baik untukku.


P.S : Kudedikasikan tulisan ini untuk temanku yang kadang-kadang mellow. Terimakasih telah berkenan menjadi salah satu objek ide tulisanku, yang jujur saja, aku setengah berkaca-kaca saat membacanya, dan betapa sesaknya jadi dirimu saat itu. Berharap selalu yang terbaik untukmu. 🤗

Kamis, 26 Oktober 2017

Seolah Pacaran dengan Pelanggan PLN.

Baru 30 menit sejak masuk jam kerja, mataku terasa berat, masih agak mengantuk sehabis begadang menonton sepak bola semalam. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan salah satu pelanggan yang masuk lewat pintu depan, hendak membuka sandal yang sedang dipakainya meski tidak ada plang imbauan "lepas alas kaki". Begitu keunikan yang kutemukan di sebuah desa berjarak sekitar 273 km dari kota Palu, Sulawesi Tengah, cukup lucu menurutku, tetapi salut juga melihat kebiasaan beretika masyarakat di desa ini.

Masih agak mengantuk, aku menyunggingkan senyum selamat datang pada pelanggan, dengan wajah yang tidak dipoles oleh gincu dan maskara, aku mempersilakannya duduk dan menanyakan ada apa. Pada umumnya, 80% pengaduan itu adalah tentang tagihan listrik, tagihannya melonjak, aku mencoba menjelaskan dan dia menerima penjelasan saya dengan baik. Alhamdulillah, gumamku. Kami berjabat tangan lalu dia pergi dengan membawa brosur yang kami berikan.

Itu hanya satu contoh kecil. Kadang-kadang aku menemui pelanggan yang menahanku selama dua jam lewat dari jam istirahat siang, pelanggan bertanya tentang A, kuberikan jawaban tentang A, lalu dia bertanya tentang B, kuberikan jawaban tentang B, lalu dia bertanya tentang C, kuberikan jawaban tentang C, lalu dia bertanya lagi tentang sesuatu yang berkaitan tentang A, mau tak mau aku kembali lagi menjelaskan tentang A dengan sedikit menahan amarah. Dia bilang dia paham, dia bilang dia mengerti, tapi tetap saja berbelit-belit, mungkin ini perasaan teman saya ketika dia curhat tentang masalahnya dengan perempuannya. Seolah saya merasakan apa yang temanku rasakan ketika bertengkar dengan pacarnya.

Ada juga pelanggan yang suka sekali mengungkit masa lalu, kasus dua tahun yang lalu dibawa-bawa, bukannya berburuk sangka, tapi ingatan orang itu kadang-kadang agak buram, apalagi bicara masalah keluhan, pastilah sangat subjektif, aku bisa jawab apa kalau dia ungkit tentang masa lalu, sedangkan yang coba kita cari adalah solusi untuk ke depannya. Aku ditugaskan di sini saja baru setahun, tapi tak mungkin kujawab seperti itu.

Ada lagi yang membuatku lebih bingung, jika pelanggan membawa kwitansi pembayaran yang ditandangani oleh seseorang yang namanya bahkan aku tak tau siapa. Lalu meminta pertanggungjawaban PLN, atas jumlah uang yang entah sudah ke mana, padahal jelas-jelas bukan PLN yang menerima. Begitulah pelanggan yang satu ini, sering kali percaya pada orang ketiga, padahal PLN berkali-kali mengumumkan untuk tidak percaya pada orang ketiga atas alasan apa pun itu, PLN tidak lagi menerima pembayaran secara langsung apalagi memberi kwitansi tidak resmi seperti ini, semua transaksi harus melalui loket, bahkan metode pembayaran sudah lebih dimudahkan dengan adanya ATM, internet banking, mobile banking, SMS banking, dll. Padahal untuk hal seperti itu, PLN tidak bisa mengganti uang pelanggan yang sudah dipakai entah untuk apa oleh orang ketiga yang mengatasnamakan PLN itu. Lalu karena tak memenuhi keinginannya, pelanggan bercerita ke tetangganya, kalau dia habis kena tipu oleh PLN, habislah PLN.

Meski pun begitu, aku sangat berterimakasih pada beberapa pelanggan yang masih rela menyempatkan waktunya untuk berkunjung ke PLN, tak hanya bergosip ria antartetangga, atau mencari tau di tukang listrik dekat rumah, mungkin setelah tiba di kantor akan diminta lagi untuk menunggu barang 10 menit, atau mungkin disuruh pulang dan menunggu kabar di rumah, tapi mereka tetap memilih datang ke kantor, menyampaikan masalahnya, sedikit marah, sedikit kesal di awal ceritanya, dan agak menyebalkan, memang ada beberapa orang yang bersikeras tidak terima, tapi aku tetap memilih menjelaskan, karena kupikir ini adalah kesempatan yang saya miliki untuk berusaha mencari tau apa isi pikiran mereka, lalu menjawab apa yang mereka pertanyakan, bahkan menjelaskan lebih dari apa yang mereka permasalahkan, aku benci jika ada perselisihan di antara kita, karena itu, aku tak masalah melewatkan satu jam istirahatku, agar tak ada kesalahpahaman yang bisa merusak hubungan kita.

Rabu, 25 Oktober 2017

Benar Kata Ibu.

Satu, dua, tiga, ..., 100.
Aku menghitung hingga 100 sambil menutup mata, mencoba tidur tapi tak bisa, inikah yang dibilang insomnia? Aku sesekali menguap, sedangkan semua gadget sudah kunonaktifkan dan kusimpan jauh-jauh dariku. Kadang kuceritakan pada temanku, tapi mereka tidak percaya, malah bilang aku hanya mengarangnya, padahal aku nyata mengalaminya, setelah itu, aku tidak lagi bercerita.

Aku dulu jatuh pada seseorang, kutulis rapi namanya di buku catatanku, mungkin sekitar kelas lima SD, kugambar bentuk sebelah hati di halaman sebelah kiri, kemudian sebelah hati lagi di halaman sebelah kanan, namanya kutulis indah di tengah hati itu, besar dan jelas. Suatu hari entah kenapa buku catatanku itu kubawa ke teras rumah, saat itu teman-temanku ada di sana bermain bersama, lalu tidak tau bagaimana ceritanya, aku melihat temanku menemukan halaman bergambar itu. Besoknya, tampaknya seluruh teman-teman di kelasku mengetahuinya, tak terkecuali dia yang namanya kutulis di tengah hati itu, aku malu sekali. Setelah itu, aku tetap aktif menulis, hanya saja, aku tidak terlalu terbuka lagi, seolah saat menulis aku masih saja menutup diri. Kini kalau aku kembali membaca buku catatanku, aku seolah bermain tebak-tebakan dengan masa lalu. Dan kepada temanku yang menyebarkan rahasiaku waktu itu, aku membencinya saat itu.

Beranjak dewasa, aku bertemu dengan seorang perempuan, memacarinya selama delapan tahun, besar harapanku untuk menikahinya, dan keluarga kami pun sudah saling mengenal, tinggal menunggu waktu saja, tahun depan aku akan datang melamarnya, pikirku semua akan berjalan lancar, tapi ternyata dia tidak demikian. Keesokannya, dia menyampaikan kabar buruk bagiku, ada seorang pria lain yang melamarnya, dan dia memilihnya, delapan tahun kenangan kami bersama dalam sekejap menjadi masa lalu saja. Sekarang sudah setahun berlalu sejak pernikahannya.

Sejak saat itu, aku berhenti memaafkan, kupikir menaruh harap pada manusia benar-benar hal yang melelahkan, lebih-lebih jika percaya pada hari esok, itu hanyalah penghiburan semata, seperti janji-janji yang terucap dari mulut manusia. Aku tak lagi berharap pada masa lalu, bahkan percaya pada esok, seolah detik ini adalah akhir, mungkin itulah sebabnya aku begitu deg-degan saat ingin tidur, seolah aku perlu mengucapkan selamat tinggal dulu pada dunia.

"Jangan pernah berharap pada manusia, manusia itu hanya akan mengecewakan, tapi Tuhan tak pernah membuat kecewa. Berdoalah pada Tuhan, Tuhan itu tau yang terbaik buat kita." Begitu kata ibu, ketika perempuan yang kupacari selama delapan tahun itu memilih orang lain sebagai suaminya.

Kulirik jam dinding di atas pintu kamarku, sudah jam dua malam, sudah lama pikiranku berlari-lari ke sana kemari tapi tak kunjung merasa damai. Menyerah mencoba, aku beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudu, memuja Tuhan lebih dulu dengan salat dua rakaat, berdoa agar aku bisa tidur nyenyak malam ini. Benarlah kata ibu, setelah itu, aku langsung tidur dengan nyenyak, tanpa menghitung dulu sampai 100.

Selasa, 24 Oktober 2017

Aku Padamu, Sederhana.

Aku sangat tidak ingin berbicara tentang cinta. Tapi, kalau boleh, biarkan aku bercerita tentangmu saja. Tentang aku padamu, yang pastinya adalah rasa. Aku tidak ingin memberinya nama, karena menurutku, rasaku itu istimewa, kusimpan selama bertahun-tahun tanpa pernah menuntut balasan, pun aku tak pernah memberi berlebihan. Jadi, jangan pernah bertanya dan jangan pernah menjawab.

Bisa dibilang, perasaanku padamu itu sederhana, tak pernah membuatku melamun terlalu tinggi, juga tak perlu merindu sampai sakit, memandangimu dari jauh saja sudah cukup. Pernah sesekali kujelaskan rasaku padamu, kukemas seolah aku bercanda, kamu malah tertawa dan mungkin tak sedikit pun curiga. Tapi tak apa, dengan begitu aku bisa puas menggombalmu, itulah salah satu yang mungkin kusuka darimu.

Kadang-kadang aku bahkan melupakan, tapi, tiba-tiba begitu indah jika kukenang, tidak perlu terluka, meski mungkin tak bisa disangkal kalau tidak jarang aku dibikin jengkel juga, dan saat itulah kamu begitu menggemaskan. Ingin sekali kucubit pipimu sampai merah, tapi sayang kamu begitu jauh di sana. Ah, jarak.

Sekali lagi kutegaskan, perasaanku padamu itu istimewa. Aku tak ingin menamainya cinta, karena cinta yang kukenal itu cenderung suka menuntut, aku tak ingin jika suatu saat aku menjadi perempuan yang menyeramkan bagimu. Aku juga tak ingin mengumbar, karena aku padamu itu ikhlas, cukuplah Tuhan yang tau, siapa tau kapan-kapan kamu malah didekatkan padaku, begitu selalu isi doaku pada Tuhan. 

Tapi entahlah, malam ini, aku tak bisa menahan rindu, buru-buru aku menelponmu, tapi tidak diangkat. Sejam setelahnya kamu menelpon. Lihatlah, perasaanku begitu sederhana, hal-hal seperti ini saja bisa membuatku tersenyum sampai tertidur. Semoga besok-besok tak ada luka.

Senin, 23 Oktober 2017

Kamu Bab 22.

Kalau kata orang,
Tak ada angin, tak ada badai,
Pertanda kalau cuaca akan cerah seharian.
Tapi kamu tiba-tiba hujan.
Katamu aku berubah.
Padahal aku baik-baik saja.
Kalau berubah semakin mencintaimu,
Mungkin iya.

Tak segan.
Aku membuka buku catatan berjudul 'Kamu' bab 22.
Tapi kubaca, alisku makin berkerut.
Tak ada jawaban di sini.
Kucari di mana, gumamku.
Mungkin kamu terlalu luas untuk disulap jadi buku.
Terlalu berwarna untuk jadi sebuah kata.
Terlau berharga untuk sekedar diperlakukan sederhana.
Terlalu tinggi jika hanya dipersembahkan sebuah puisi.
Tapi juga terkadang bak ladang ranjau.
Sekali salah melangkah,
Aku bisa langsung dipidana.

Ah, kamu yang masih jadi milik bapakmu.
Ingin sekali kuajak kamu duduk minum teh di sampingku.
Berbicara dari hati ke hati.
Mungkin kita belum saling memahami.
Atau jarak membuatmu keasikan berteka-teki.
Percayalah kalau aku semoga menjadi milikmu.
Suatu saat, dengan ijin Tuhan dan keluargamu.

Kubaca lagi pesanmu.
"Kamu berubah."
Ini setelah kamu mengabaikan teleponku selama 24 jam.
Esoknya, kamu minta maaf.
Bilang kalau kamu hanya rindu.

Ah, kamu yang semoga kelak jadi perempuanku.
Kapan-kapan kita ketemu.
Akan kuajarkan padamu caranya merindu.
Tanpa membuat hatiku hujan lebih dulu.
Tapi nanti, setelah aku dapat restu bapakmu.

Ah, kamu yang sedang resah merindu,
Aku juga rindu.

P.S : Tulisan ini saya dedikasikan untuk temanku yang kadang-kadang nelpon saya di atas jam 11 malam buat nanyain pendapat saya, kadang-kadang jatuhnya, saya jadi curcol juga 😅

Sabtu, 21 Oktober 2017

Malam Jumat Istimewa. ("KENAPA?" Revisi Satu)


Kubiarkan panggilan masuk tak terjawab.
Berdering sekali.
Berdering beberapa kali.
Hujan turun deras di luar.
Sesudah diperingati oleh beberapa guntur yang lumayan keras.

Tiba-tiba listrik mati.
Menyebabkan gelap yang mencekam.
Hanya ada pendar cahaya dari layar handphone yang asik kumainkan.
Hujan dan gelap memang akrab dengan suasana seram.
Apalagi tadi sore baru saja selesai melihat review film Pengabdi Setan yang lagi marak dibicarakan orang.
Aku masih terdiam di kamarku.
Malas beranjak ke luar mengambil lampu cas.
Tak apa gelap.

Kumainkan terus handphone-ku.
Bosan memiringkan badan ke kanan, aku miringkan badanku ke kiri.
Kulihat sekilas kilat cahaya dari jendela rumah kontrakanku.
Pasti bias cahaya petir dari luar.
Tiba-tiba terdengar samar suara, seperti suara benda yang jatuh.
Kadang-kadang terdengar seperti suara ketukan dari tetangga kosan sebelah.
Sudah satu minggu seperti itu.
Dan hanya terjadi saat lewat tengah malam saja.
Kucek barang-barangku, di ruang tamu, di dapur, di toilet, tak ada barang yang jatuh.
Kosan sebelah pun sudah dua bulan kosong karena pemiliknya pulang kampung.

Tinggal sendiri di perantauan itu, semakin lama, semakin suka merasa paranoid.
Dengar sedikit suara gemerasak-gemerusuk di luar saja sudah risau.
Kuintip lewat jendela, tak ada orang.
Mungkin kucing atau tikus yang mengacak-acak tempat sampah.
Kadang-kadang juga terdengar suara lonceng dan teriakan saat tengah malam.
Belakangan kutau kalau itu suara lenguh sapi.
Juga suara dari lonceng yang terikat di leher sapi
Tak lama, kulihat sebuah bayangan lewat.
Samar suara batuk juga terdengar.
Jangan salah paham.
Itu temanku yang kebetulan sedang menginap di rumahku.
Untunglah aku tak sendiri.
Bayangan lewat itu sudah pasti membuatku takut jika aku sendiri di rumah.

Aduh, aku baru ingat kalau ini malam jumat.
Kata orang, malam jumat itu istimewa.
Daripada hati tak tenang berpraduga,
Alangkah baiknya kalau mengobrol pada Tuhan,
Tak lupa memuja dan bermunajat,
Agar dilindungi dari mara bahaya di perantauan,
Atau tentang jodoh yang belum datang.
Apalah rindu yang belum bertuan,
“Sabar sedikit,” begitu selalu kata Ibu.
“Nanti akan indah pada waktunya.”

Setelah Sesi Feedback

http://indah-my13th.blogspot.co.id/2017/10/kenapa.html

Cerita di link tersebut awalnya kubuat tanpa rencana. Satu kalimat kutulis menuntunku ke kalimat selanjutnya. Memang benar waktu itu listrik mati, memang benar waktu itu kubiarkan telpon masukku berdering tak terjawab, memang benar waktu itu hujan, memang benar temanku sedang menginap, membang benar saya membalikkan badanku dari kanan ke kiri karena bosan, memang benar saya sedang malas ke ruang tamu hanya untuk mengambil lampu cas. Tak apa, gelap. Pikirku begitu.

Cerita ini awalnya kubuat tanpa rencana, aku tak pernah memikirkan akan kumulai dengan kalimat apa, akan kuakhiri dengan kesan seperti apa, atau poin apa yang harus saya sampaikan agar pembaca dapat mengambil hikmah di baliknya. Tapi kupikir, setiap sesuatu itu ada hikmahnya, tinggal pandai-pandainya saja kita melihatnya. Seperti tulisan saya ini, seperti menyarankanmu untuk tidak cepat salah paham pada bayangan hitam, bisa saja itu bukan apa-apa, jadi jangan gegabah menarik kesimpulan. Seperti begitu mungkin, tapi aku tak tahu menurutmu bagaimana, bisa saja berbeda, dan itulah yang membuatnya lebih menarik, bukan?

Aku tak pernah bermaksud membuat tulisan saya ini menyeramkan dan aku tidak merasa ketakutan saat membuatnya. Seperti yang kubilang tadi, kalimat pertama menuntunku ke kalimat selanjutnya, tetapi karena sudah bosan dan kehabisan kata, kupikir aku segera mengakhirinya sebelum ini berubah jadi keluhan panjang karena listrik mati, atau karena niat tidur yang batal karena listrik tiba-tiba nyala, jadi aku berpikir akan kubungkus apa ceritaku ini. Barulah aku berpikir untuk membungkusnya dengan manis, tiba-tiba aku menjadi lelaki yang menelpon seseorang yang dirinduinya, kemudian seseorang itu menjawabnya dengan tanya “KENAPA?” dengan nada galak. Supaya lebih manis lagi, kujadikan kalimat, “alah, aku rindu wajah galaknya,” sebagai penutup.

Saat harus memilih pita – maksudku judul – aku kebingungan, lebih bingung dibanding saat memilih judul untuk tulisan-tulisanku sebelumnya. Karena memang betul, tulisan ini tersesat, tidak punya arah, hanya bermaksud mengeluh awalnya, tapi keterusan menjadi tulisan panjang lebih dari 200 kata. Aku baru ingin memilih “LISTRIK MATI” sebagai judul, tapi tak jadi karena ini bukan tentang listrik mati, meskipun itu alasan aku menulisnya. Mau kupilih “RINDU” sebagai judul, ini juga bukan seluruhnya tentang rindu, akhirnya kukutip pertanyaan galak si perempuan yang tadi ditelepon oleh lelaki itu sebagai judul.

Ketika kutau kalau tulisan berjudul “KENAPA?” ini yang disetorkan dalam sesi ulasan di grup teman-teman fighter di DWC, aku bersiap-siap menerima banyak kritikan. Setelah membaca feedback, aku membaca ulang tulisanku, dan memang benar, tulisan ini seperti bayi yang lahir prematur, masih perlu diolah agar utuh, mungkin karena listriknya tiba-tiba nyala waktu itu yang membuatku kehilangan ide, membuat tulisanku tentang listrik mati, gelap dan malam jumat, terpaksa segera diposting dan diakhiri oleh rindu seorang lelaki pada perempuan galaknya. Tapi aku bangga padanya, melihatnya dibaca oleh beberapa orang dan bahkan diberikan feedback, aku jadi haru seperti perasaan ibu yang melihat anaknya membaca puisi di depan kelas dan siswa-siswa lain bahkan ibu guru bertepuk tangan kagum padanya. Aku sangat berterimakasih karena teman-teman fighter menyempatkan waktu membacanya, juga terimakasih atas saran dan kritikan teman-teman fighter yang manis dan tak sungkan-sungkan, senang rasanya bisa berbagi ilmu dan pengetahuan agar aku bisa terus belajar dan memperbaiki diri, tak lupa berbangga dan bersyukur pada Tuhan.


Untuk itu aku memutuskan untuk mengolah lagi tulisan prematur ini. Berikut linknya :
  • Malam Jumat Istimewa, http://indah-my13th.blogspot.co.id/2017/10/malam-jumat-istimewa-kenapa-revisi-satu.html
  • Namamu, http://indah-my13th.blogspot.co.id/2017/10/namamu.html