Jumat, 27 Oktober 2017

Berdamai dengan Hati.

Duhai kamu, calon perempuanku kala itu.
Apalah aku,
Yang hanya bisa menjanjikanmu tahun depan,
Sebuah hari yang istimewa,
Dan sisa hidupku setelahnya,
Bahkan kamu dan masa depanmu,
Akan menjadi tanggunganku seterusnya.

Itulah aku,
Yang hanya bisa berjanji kala itu.

Tetapi kamu,
Yang selalu kumimpikan sebagai perempuanku sejak dulu,
Sekitar delapan tahun yang lalu.
Entah bagaimana jalannya,
Kamu memilih yang lain sebagai imammu,
Lelaki yang kamu kenal sejak orang tua kita sudah sekata.
Datang meminangmu, entah hari apa.
Lalu kamu terima, tidak tau mengapa.

Aku, yang jauh darimu saat itu,
Ingin mengutuk tetapi tak tega,
Bertanya kenapa, bingung kepada siapa.
Kepadamu, hanya maaf yang kamu ulang.
Ingin salahkan jarak, 
Namun hatimu sudah lebih jauh dari sekadar jarak.
Kutitip tanya,
Pada setiap kenangan yang kucoba kubuka.
Tak juga kudapat jawaban.
Setelahnya, terbitlah penyesalan.
Mengandai-andai yang tak berkesudahan.

Percayalah,
Kamu, yang kucoba kulupakan sejak itu,
Betapa payahnya aku melepasmu.
Betapa tertatihnya hati meniti jalan menjauhimu.
Semua masa lalu,
Dan senyum manis lesung pipitmu.
Semua mimpi tentang kamu,
Yang adalah calon perempuanku,
Akan kuganti hati yang bukan lagi kamu.
Akan kuganti hari yang bukan lagi kamu.

Jadi, kamu,
Yang adalah calon perempuan lelaki lain,
Tak perlu bertanya tentang kabarku,
Karena katamu,
Kamu merasa bersalah padaku.
Cukup tinggalkan aku sendiri,
Yang sedang mencoba berdamai,
Dengan hatiku yang bukan lagi kamu.

Bahwa kamu berjodoh dengan lelaki yang bukan aku,
Bahwa aku berjodoh dengan perempuan yang bukan kamu,
Bahwa perempuan itu yang kelak paling baik untukku.


P.S : Kudedikasikan tulisan ini untuk temanku yang kadang-kadang mellow. Terimakasih telah berkenan menjadi salah satu objek ide tulisanku, yang jujur saja, aku setengah berkaca-kaca saat membacanya, dan betapa sesaknya jadi dirimu saat itu. Berharap selalu yang terbaik untukmu. 🤗

Tidak ada komentar:

Posting Komentar