Kalau kata orang,
Tak ada angin, tak ada badai,
Pertanda kalau cuaca akan cerah seharian.
Tapi kamu tiba-tiba hujan.
Katamu aku berubah.
Padahal aku baik-baik saja.
Kalau berubah semakin mencintaimu,
Mungkin iya.
Tak segan.
Aku membuka buku catatan berjudul 'Kamu' bab 22.
Tapi kubaca, alisku makin berkerut.
Tak ada jawaban di sini.
Kucari di mana, gumamku.
Mungkin kamu terlalu luas untuk disulap jadi buku.
Terlalu berwarna untuk jadi sebuah kata.
Terlau berharga untuk sekedar diperlakukan sederhana.
Terlalu tinggi jika hanya dipersembahkan sebuah puisi.
Tapi juga terkadang bak ladang ranjau.
Sekali salah melangkah,
Aku bisa langsung dipidana.
Ah, kamu yang masih jadi milik bapakmu.
Ingin sekali kuajak kamu duduk minum teh di sampingku.
Berbicara dari hati ke hati.
Mungkin kita belum saling memahami.
Atau jarak membuatmu keasikan berteka-teki.
Percayalah kalau aku semoga menjadi milikmu.
Suatu saat, dengan ijin Tuhan dan keluargamu.
Kubaca lagi pesanmu.
"Kamu berubah."
Ini setelah kamu mengabaikan teleponku selama 24 jam.
Esoknya, kamu minta maaf.
Bilang kalau kamu hanya rindu.
Ah, kamu yang semoga kelak jadi perempuanku.
Kapan-kapan kita ketemu.
Akan kuajarkan padamu caranya merindu.
Tanpa membuat hatiku hujan lebih dulu.
Tapi nanti, setelah aku dapat restu bapakmu.
Ah, kamu yang sedang resah merindu,
Aku juga rindu.
P.S : Tulisan ini saya dedikasikan untuk temanku yang kadang-kadang nelpon saya di atas jam 11 malam buat nanyain pendapat saya, kadang-kadang jatuhnya, saya jadi curcol juga 😅
Tidak ada komentar:
Posting Komentar