Aku dilempar pada sebuah ruangan putih ukuran lima
kali lima. Tidak ada warna lain di ruangan itu. Hanya ada satu meja dan dua
kursi yang warnanya pun putih. Satu pintu sebelah kiri yang merupakan
penghubung ke ruangan lain, satu pintu kanan yang merupakan penghubung ke
tempat lain yang tidak pernah saya lihat.
Aku memang dilempar ke ruangan ini, masih kuingat jelas pertama kali aku diseret dengan kepala terbungkus penuh dengan sebuah kain yang diikat tak terlalu erat, ditambah penutup mata agar aku tak mengenal dan melihat apa-apa di sekitarku. Aku lalu dihempaskan ke lantai, meringis sebentar karena terbentur sesuatu yang keras, aku tak tahu, mungkin saat itu aku terbentur dengan meja satu-satunya di ruangan ini. Sejak saat itu, aku tidak tahu kenapa aku bisa berakhir di sini. Aku tidak mengenal siapa pun, aku bahkan tidak mengenal diriku, aku lupa siapa aku.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku di sini, tidak ada jam di ruangan ini, aku bahkan tidak bisa membedakan siang dan malam. Yang kutahu itu adalah bunyi sirine sekali pertanda tidur, bunyi sirine berkali-kali pertanda bangun, waktu makan adalah ketika kudengar suara ketukan dari pintu sebelah kanan dan sebuah nampan berisi makanan yang dimasukkan lewat pintu kecil di bagian bawah pintu itu. Aku bisa melihat tangan orang yang mengantarnya tanpa pernah sekali pun terpikirkan untuk menarik tangan orang itu dan meminta tolong padanya. Aku tidak punya keinginan apa pun untuk keluar dari sini. Aku tidak punya apa-apa.
Yang paling kusuka adalah bertemu banyak orang. Ada satu waktu di mana aku duduk di salah satu kursi di ruangan ini dan harus berhadapan satu per satu orang yang masuk dan duduk di depanku. Tangan dan kakiku tidak dirantai, mataku tidak ditutup, mulutku pun tidak dibekap, aku juga tidak diberikan instruksi atau arahan tertentu. Aku bebas melakukan apa saja bahkan jika aku ingin mencekik orang yang duduk di depanku, tapi aku tak pernah melakukannya, aku bahkan tak pernah bicara sepatah kata pun. Orang yang akan duduk di depanku pun bebas melakukan apa saja, beberapa dari mereka kadang mencaci makiku, kadang memukulku, bahkan ada juga yang diam, hal itu berlangsung dalam waktu yang tak kutahu berapa lama.
Aku memang menyukai momen itu, tapi itu dulu. Lambat laun aku lelah menghadapi celotehan mereka, keluhan mereka, sumpah serapah mereka terhadap orang yang dikenalnya, mereka memburuk-burukkan satu sama lain. Ada juga yang membuat pengakuan dosa, entah itu pembunuhan, pemerkosaan, atau perselingkuhan. Kadang ada yang tak sungkan memukulku, sambil meneriakkan nama seseorang yang tak kukenal. Mereka memukulku dengan tangan kosong, sepertinya semua barang bawaan mereka dicegat terlebih dahulu sebelum masuk ke sini. Meja dan kursi ini pun terpaku rapat di lantai sehingga tak bisa dipindahkan.
Aku lelah melihat wajah mereka. Dan entah sejak kapan aku mulai bisa membedakan ekspresi mereka, membaca gerak-gerik kecil yang tak sadar mereka lakukan, sedikit banyak bisa kutebak isi pikiran mereka. Aku bisa dengan mudah menebak apakah mereka jujur atau bohong. Aku bisa menebak tingkah mereka kemudian, atau di bagian tubuh saya yang mana yang diam-diam mereka perhatikan.
Lalu-lalang orang masuk dan keluar, bergantian. Aku kehilangan ketertarikan. Awalnya, antusias mendengarkan, lalu ikut merasakan setiap kekecewaan dan kebahagiaan, tak jarang aku juga ikut merasakan sakit luar biasa, sesak, benci, dendam yang berapi-api. Sedetik aku bisa berubah gelisah, atau berbunga-bunga karena cinta yang seperti mereka bilang. Aku seolah punya jiwa.
Beberapa waktu berlalu. Aku masih — sedikit — antusias. Aku mual. Ingin rasanya kubunuh mereka dan kucabik-cabik daging mereka. Lama-lama aku mendengar omongan mereka seperti ular berbisa, menggoda, menipu, memanipulasi, penuh omong kosong. Aku perlahan kehilangan jiwa.
Lalu entah sejak kapan, aku tidak lagi peduli. Sampai beberapa dari mereka geram melihat wajahku tanpa ekspresi. Suatu hari, salah seorang dari mereka tak bisa menahan geram, langsung berdiri dan merangkak di atas meja untuk menyerangku. Aku selalu diam saja kala itu terjadi, menerima dengan pasrah, lalu berdiri merapikan kursi yang terjatuh dan duduk kembali. Tapi kali ini, aku menahan pukulannya, tak susah untuk menebak arah tinju yang melayang dari tangan kanannya. Dengan suara pelan tapi tegas, aku menyuruhnya keluar. Sekarang tak hanya jiwa, pun hati dan kepercayaan, sudah kumatikan.
Tak lama sejak dia keluar dan membanting pintu, terdengar sedikit riuh keributan di luar. Mungkin orang itu protes. Aku kemudian memperbaiki dudukku dan menunggu orang yang akan masuk selanjutnya. Tapi nihil. Tidak ada satu orang pun yang masuk. Mungkin sesinya sudah berakhir. Baru aku bermaksud beranjak menuju pintu sebelah kiri, seseorang masuk dari pintu sebelah kanan. Oh bukan seseorang, tetapi banyak orang. Aku heran, tapi tak peduli. Aku sudah melewati banyak hal untuk peduli hal semacam ini.
Seorang bapak tua berjas putih sendiri, berbeda dari yang lain yang semuanya mengenakan jas hitam rapi dan sepatu mengkilap, dia menghampiriku dengan senyum yang sangat sumringah. Kalau kulihat dari penampilannya, mungkin dia seorang dokter, ilmuwan, yang sedang melakukan projek eksperimen tertentu, mungkin aku dan alasan keberadaanku di sini adalah semua karena eksperimen yang dia lakukan. Kuamati dia dengan lekat, dia tahu aku sedang memperhatikannya dan membiarkanku melakukannya. Dia hanya menepuk bahuku. Memberiku setelan pakaian yang sama dengan orang-orang di belakangnya. Aku tak bertanya apa-apa, aku juga tidak berniat memberontak.
“Sekarang kau mengerti, kau tak perlu punya nama. Tak perlu bersimpati. Tak perlu peduli. Tak ada yang abadi di dunia ini. Semua kata yang terucap perlahan akan terkhianati atau kalau tidak, terlupakan. Percuma percaya, bahkan pada manusia. Yang perlu kau pegang adalah saat ini, detik ini, peristiwa yang tengah terjadi. Kemarin hanyalah kenangan, besok masih tak pasti. Ah, kau pasti lebih tahu dariku. Lagipula kau sudah bertemu dengan banyak jenis manusia sejak bertahun-tahuan yang lalu sampai hari ini.” Bapak tua itu berceloteh panjang.
'Bertahun-tahun', satu kata itu menarik perhatianku. Dia tersenyum seolah menangkap perubahan pada ekspresi wajahku, mengangkat bahu dan alis seolah siap menerima pertanyaan apapun dariku. Aku diam. Tak merespon sedikit pun. Aku kemudian berjalan meninggalkannya dengan membawa pakaian yang diberikannya padaku, menuju pintu sebelah kiri, untuk berganti pakaian di ruanganku. Aku tak peduli.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar