Sabtu, 14 Oktober 2017

Bagaimana Cara Menyimpanmu.

Harus apa agar tak lupa?
Kalau bisa,
Ingin kusimpan namamu, wajahmu, rapi.
Tapi bagaimana?
Kalau di album, masih mungkin akan hilang.
Atau hancur kena banjir,
Seperti album fotoku semasa kecil,
Hancur kena banjir di rumah lama.

Harus apa agar tak lupa?
Kalau bisa,
Ingin kusimpan namamu, wajahmu, rapi.
Tapi bagaimana?
Kalau di memori, masih mungkin akan lupa.
Mungkin besok sakit.
Atau kalau tidak, malah kau yang lupa.
Tapi semoga saja tidak.

Lalu, kutanyakan pada Tuhan.
Satu hari berlalu,
Tak terasa sampai seminggu.
Masih kutanya pada Tuhan.
Bagaimana cara menyimpan namamu, wajahmu,
Bahkan kamu.

Kupikir, sambil kutanya pada Tuhan.
Akan kucoba bertanya padamu juga.
Tentang bagaimana menyimpan namamu, wajahmu, bahkan kamu.
Tapi kau hanya tersenyum malu.
Menganggapku gombal tak jelas.
Atau memberi "kode" tak pasti.

Kau bahkan terkikik kecil,
Sambil melontarkan tanya,
"Kenapa tak memintaku saja ke orangtuaku?"
Pertanyaan itu diiringi renyah tawa.
Mungkin mencoba menutup rasa malu.
Dibalik hijab yang kau pakai untuk menutup sebagian senyummu.

Aku tersentak.
Seolah baru tersadar.
Mungkin ini rupanya jawaban Tuhan.
Daripada sibuk menerka.
Aku langsung balik bertanya.
"Orangtuamu ada di dalam?"
Kebetulan.
Aku sedang duduk manis di ruang tamunya.
Dengan pakaian sopan sehabis sholat dari masjid.
Bolehlah sebagai modal ketemu calon mertua.

Dia yang tersipu.
Tanpa menjawab langsung beranjak dari kursi.
Mungkin memanggil orangtuanya.
Sedangkan aku.
Tiba-tiba diserang rasa gugup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar