Satu, dua, tiga, ..., 100.
Aku menghitung hingga 100 sambil menutup mata, mencoba tidur tapi tak bisa, inikah yang dibilang insomnia? Aku sesekali menguap, sedangkan semua gadget sudah kunonaktifkan dan kusimpan jauh-jauh dariku. Kadang kuceritakan pada temanku, tapi mereka tidak percaya, malah bilang aku hanya mengarangnya, padahal aku nyata mengalaminya, setelah itu, aku tidak lagi bercerita.
Aku dulu jatuh pada seseorang, kutulis rapi namanya di buku catatanku, mungkin sekitar kelas lima SD, kugambar bentuk sebelah hati di halaman sebelah kiri, kemudian sebelah hati lagi di halaman sebelah kanan, namanya kutulis indah di tengah hati itu, besar dan jelas. Suatu hari entah kenapa buku catatanku itu kubawa ke teras rumah, saat itu teman-temanku ada di sana bermain bersama, lalu tidak tau bagaimana ceritanya, aku melihat temanku menemukan halaman bergambar itu. Besoknya, tampaknya seluruh teman-teman di kelasku mengetahuinya, tak terkecuali dia yang namanya kutulis di tengah hati itu, aku malu sekali. Setelah itu, aku tetap aktif menulis, hanya saja, aku tidak terlalu terbuka lagi, seolah saat menulis aku masih saja menutup diri. Kini kalau aku kembali membaca buku catatanku, aku seolah bermain tebak-tebakan dengan masa lalu. Dan kepada temanku yang menyebarkan rahasiaku waktu itu, aku membencinya saat itu.
Beranjak dewasa, aku bertemu dengan seorang perempuan, memacarinya selama delapan tahun, besar harapanku untuk menikahinya, dan keluarga kami pun sudah saling mengenal, tinggal menunggu waktu saja, tahun depan aku akan datang melamarnya, pikirku semua akan berjalan lancar, tapi ternyata dia tidak demikian. Keesokannya, dia menyampaikan kabar buruk bagiku, ada seorang pria lain yang melamarnya, dan dia memilihnya, delapan tahun kenangan kami bersama dalam sekejap menjadi masa lalu saja. Sekarang sudah setahun berlalu sejak pernikahannya.
Sejak saat itu, aku berhenti memaafkan, kupikir menaruh harap pada manusia benar-benar hal yang melelahkan, lebih-lebih jika percaya pada hari esok, itu hanyalah penghiburan semata, seperti janji-janji yang terucap dari mulut manusia. Aku tak lagi berharap pada masa lalu, bahkan percaya pada esok, seolah detik ini adalah akhir, mungkin itulah sebabnya aku begitu deg-degan saat ingin tidur, seolah aku perlu mengucapkan selamat tinggal dulu pada dunia.
"Jangan pernah berharap pada manusia, manusia itu hanya akan mengecewakan, tapi Tuhan tak pernah membuat kecewa. Berdoalah pada Tuhan, Tuhan itu tau yang terbaik buat kita." Begitu kata ibu, ketika perempuan yang kupacari selama delapan tahun itu memilih orang lain sebagai suaminya.
Kulirik jam dinding di atas pintu kamarku, sudah jam dua malam, sudah lama pikiranku berlari-lari ke sana kemari tapi tak kunjung merasa damai. Menyerah mencoba, aku beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudu, memuja Tuhan lebih dulu dengan salat dua rakaat, berdoa agar aku bisa tidur nyenyak malam ini. Benarlah kata ibu, setelah itu, aku langsung tidur dengan nyenyak, tanpa menghitung dulu sampai 100.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar