Sepekan ini, matahari begitu terik, membuat
beberapa orang menggurutu sebal, sebagian menyumpah kesal pada alam,
mengeluhkan cuaca yang panas tapi terkadang juga jengkel kalau hujan. Aku yang
tak peduli dengan bulir keringatku yang menggulir jatuh dari pelipis, terlalu
khidmat menikmati es krim cokelatku yang kubeli di swalayan dekat kafe
favoritku, karena memang tak berani kupungkiri, langit mungkin sedang ngambek
pada bumi, ibarat suramnya raut wajah bapak ibu yang sedang menunggu lampu lalu
lintas berubah hijau bersamaku.
Pelan, gerimis hujan datang tepat setelah lampu
lalu lintas berubah hijau. Bapak ibu di sampingku mengambil langkah bergegas,
ada yang putar arah untuk mencari tempat berteduh, ada yang meneruskan
langkahnya untuk menyebrang, tak terkecuali aku, kumasukkan sisa es krimku yang
hampir habis di kantong kresek bekas belanjaan yang sengaja ku simpan agar tak
buang sampah sembarangan, kurogoh payung mini yang selalu menjadi item wajib
yang kubawa kemanapun. Sedetik setelah kubuka, hujan semakin deras mengguyur,
ujung rok ku tak terselamatkan, segera ku berjalan dengan langkah cepat menuju
kafe favoritku.
Aku sangat suka di kafe itu.. apalagi saat sore
dan hujan seperti ini, desain tempatnya yang sederhana tapi seolah elegan dan
berkelas membuatku betah berlama-lama di sana, apalagi jika sedang dikejar
deadline artikel yang harus segera saya selesaikan. Sekarang pun masih seperti
itu. Hanya saja, sejak enam bulan yang lalu, ada lelaki yang selalu saja datang
lebih dulu di waktu yang sama denganku, seolah menungguku, tapi karena takut
kalau itu hanya kebetulan saja, perasaan itu berkali-kali kutepis, tak ingin
salah berharap dan terluka nantinya.
Aku merapikan jilbabku yang agak basah karena
hujan setelah menaruh payungku di rak payung yang disediakan oleh kafe. Baru
berjalan selangkah, aku tak sengaja bertatap mata dengan lelaki yang kubilang
tadi, ternyata dia datang juga hari ini. Segera aku menunduk, malu sama hatiku
sendiri yang seolah bergembira oleh momen singkat itu, belum lagi kulihat ujung
rokku yang menghitam karena percikan hujan di tanah. "Ah… hati.
Tenanglah!" Batinku.
Aku bergegas ke meja dekat jendela sambil mencoba
menenangkan hati yang sedari tadi berisik. Aku menyiapkan satu per satu
senjataku, buku, pulpen, recorder, earphone, dan terakhir es
cokelat yang sudah kupesan sama mbak pelayan kafenya. Masih mencoba tenang, ku
pakai earphone yang sudah terhubung ke recorder. Kupikir setelah
ini, aku akan fokus ke pekerjaanku mengingat aku tipe orang yang tidak bisa teralihkan
apabila sudah fokus ke satu hal. Tapi belum redam degup jantungku, aku
dikejutkan dengan langkah yang berhenti di sampingku.
"Boleh saya duduk di sini?" Tanya
lelaki yang tadi kubilang, sambil menunjuk kursi kosong di depanku.
Aku, yang belum redam degup jantungku,
mengangguk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar