Kamis, 12 Oktober 2017

Hujan dan Es Cokelat


Sepekan ini, matahari begitu terik, membuat beberapa orang menggurutu sebal, sebagian menyumpah kesal pada alam, mengeluhkan cuaca yang panas tapi terkadang juga jengkel kalau hujan. Aku yang tak peduli dengan bulir keringatku yang menggulir jatuh dari pelipis, terlalu khidmat menikmati es krim cokelatku yang kubeli di swalayan dekat kafe favoritku, karena memang tak berani kupungkiri, langit mungkin sedang ngambek pada bumi, ibarat suramnya raut wajah bapak ibu yang sedang menunggu lampu lalu lintas berubah hijau bersamaku.

Pelan, gerimis hujan datang tepat setelah lampu lalu lintas berubah hijau. Bapak ibu di sampingku mengambil langkah bergegas, ada yang putar arah untuk mencari tempat berteduh, ada yang meneruskan langkahnya untuk menyebrang, tak terkecuali aku, kumasukkan sisa es krimku yang hampir habis di kantong kresek bekas belanjaan yang sengaja ku simpan agar tak buang sampah sembarangan, kurogoh payung mini yang selalu menjadi item wajib yang kubawa kemanapun. Sedetik setelah kubuka, hujan semakin deras mengguyur, ujung rok ku tak terselamatkan, segera ku berjalan dengan langkah cepat menuju kafe favoritku.

Aku sangat suka di kafe itu.. apalagi saat sore dan hujan seperti ini, desain tempatnya yang sederhana tapi seolah elegan dan berkelas membuatku betah berlama-lama di sana, apalagi jika sedang dikejar deadline artikel yang harus segera saya selesaikan. Sekarang pun masih seperti itu. Hanya saja, sejak enam bulan yang lalu, ada lelaki yang selalu saja datang lebih dulu di waktu yang sama denganku, seolah menungguku, tapi karena takut kalau itu hanya kebetulan saja, perasaan itu berkali-kali kutepis, tak ingin salah berharap dan terluka nantinya.

Aku merapikan jilbabku yang agak basah karena hujan setelah menaruh payungku di rak payung yang disediakan oleh kafe. Baru berjalan selangkah, aku tak sengaja bertatap mata dengan lelaki yang kubilang tadi, ternyata dia datang juga hari ini. Segera aku menunduk, malu sama hatiku sendiri yang seolah bergembira oleh momen singkat itu, belum lagi kulihat ujung rokku yang menghitam karena percikan hujan di tanah. "Ah… hati. Tenanglah!" Batinku.

Aku bergegas ke meja dekat jendela sambil mencoba menenangkan hati yang sedari tadi berisik. Aku menyiapkan satu per satu senjataku, buku, pulpen, recorder, earphone, dan terakhir es cokelat yang sudah kupesan sama mbak pelayan kafenya. Masih mencoba tenang, ku pakai earphone yang sudah terhubung ke recorder. Kupikir setelah ini, aku akan fokus ke pekerjaanku mengingat aku tipe orang yang tidak bisa teralihkan apabila sudah fokus ke satu hal. Tapi belum redam degup jantungku, aku dikejutkan dengan langkah yang berhenti di sampingku.
"Boleh saya duduk di sini?" Tanya lelaki yang tadi kubilang, sambil menunjuk kursi kosong di depanku.
Aku, yang belum redam degup jantungku, mengangguk.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar