Baru 30 menit sejak masuk jam kerja, mataku terasa berat, masih agak mengantuk sehabis begadang menonton sepak bola semalam. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan salah satu pelanggan yang masuk lewat pintu depan, hendak membuka sandal yang sedang dipakainya meski tidak ada plang imbauan "lepas alas kaki". Begitu keunikan yang kutemukan di sebuah desa berjarak sekitar 273 km dari kota Palu, Sulawesi Tengah, cukup lucu menurutku, tetapi salut juga melihat kebiasaan beretika masyarakat di desa ini.
Masih agak mengantuk, aku menyunggingkan senyum selamat datang pada pelanggan, dengan wajah yang tidak dipoles oleh gincu dan maskara, aku mempersilakannya duduk dan menanyakan ada apa. Pada umumnya, 80% pengaduan itu adalah tentang tagihan listrik, tagihannya melonjak, aku mencoba menjelaskan dan dia menerima penjelasan saya dengan baik. Alhamdulillah, gumamku. Kami berjabat tangan lalu dia pergi dengan membawa brosur yang kami berikan.
Itu hanya satu contoh kecil. Kadang-kadang aku menemui pelanggan yang menahanku selama dua jam lewat dari jam istirahat siang, pelanggan bertanya tentang A, kuberikan jawaban tentang A, lalu dia bertanya tentang B, kuberikan jawaban tentang B, lalu dia bertanya tentang C, kuberikan jawaban tentang C, lalu dia bertanya lagi tentang sesuatu yang berkaitan tentang A, mau tak mau aku kembali lagi menjelaskan tentang A dengan sedikit menahan amarah. Dia bilang dia paham, dia bilang dia mengerti, tapi tetap saja berbelit-belit, mungkin ini perasaan teman saya ketika dia curhat tentang masalahnya dengan perempuannya. Seolah saya merasakan apa yang temanku rasakan ketika bertengkar dengan pacarnya.
Ada juga pelanggan yang suka sekali mengungkit masa lalu, kasus dua tahun yang lalu dibawa-bawa, bukannya berburuk sangka, tapi ingatan orang itu kadang-kadang agak buram, apalagi bicara masalah keluhan, pastilah sangat subjektif, aku bisa jawab apa kalau dia ungkit tentang masa lalu, sedangkan yang coba kita cari adalah solusi untuk ke depannya. Aku ditugaskan di sini saja baru setahun, tapi tak mungkin kujawab seperti itu.
Ada lagi yang membuatku lebih bingung, jika pelanggan membawa kwitansi pembayaran yang ditandangani oleh seseorang yang namanya bahkan aku tak tau siapa. Lalu meminta pertanggungjawaban PLN, atas jumlah uang yang entah sudah ke mana, padahal jelas-jelas bukan PLN yang menerima. Begitulah pelanggan yang satu ini, sering kali percaya pada orang ketiga, padahal PLN berkali-kali mengumumkan untuk tidak percaya pada orang ketiga atas alasan apa pun itu, PLN tidak lagi menerima pembayaran secara langsung apalagi memberi kwitansi tidak resmi seperti ini, semua transaksi harus melalui loket, bahkan metode pembayaran sudah lebih dimudahkan dengan adanya ATM, internet banking, mobile banking, SMS banking, dll. Padahal untuk hal seperti itu, PLN tidak bisa mengganti uang pelanggan yang sudah dipakai entah untuk apa oleh orang ketiga yang mengatasnamakan PLN itu. Lalu karena tak memenuhi keinginannya, pelanggan bercerita ke tetangganya, kalau dia habis kena tipu oleh PLN, habislah PLN.
Meski pun begitu, aku sangat berterimakasih pada beberapa pelanggan yang masih rela menyempatkan waktunya untuk berkunjung ke PLN, tak hanya bergosip ria antartetangga, atau mencari tau di tukang listrik dekat rumah, mungkin setelah tiba di kantor akan diminta lagi untuk menunggu barang 10 menit, atau mungkin disuruh pulang dan menunggu kabar di rumah, tapi mereka tetap memilih datang ke kantor, menyampaikan masalahnya, sedikit marah, sedikit kesal di awal ceritanya, dan agak menyebalkan, memang ada beberapa orang yang bersikeras tidak terima, tapi aku tetap memilih menjelaskan, karena kupikir ini adalah kesempatan yang saya miliki untuk berusaha mencari tau apa isi pikiran mereka, lalu menjawab apa yang mereka pertanyakan, bahkan menjelaskan lebih dari apa yang mereka permasalahkan, aku benci jika ada perselisihan di antara kita, karena itu, aku tak masalah melewatkan satu jam istirahatku, agar tak ada kesalahpahaman yang bisa merusak hubungan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar