Kubiarkan panggilan masuk tak terjawab. Berdering sekali, berdering beberapa kali, kuabaikan. Hujan turun deras di luar, sesudah diperingati oleh beberapa guntur yang lumayan keras. Tiba-tiba listrik mati, menyebabkan gelap yang mencekam, hanya ada pendar cahaya dari layar handphone yang asik kumainkan. Hujan dan gelap memang akrab dengan suasana seram, apalagi kemarin baru saja selesai melihat ulasan film Pengabdi Setan yang lagi marak dibicarakan orang. Aku masih terdiam di kamarku, rasanya malas beranjak ke luar mengambil lampu cas, tak masalah jika gelap.
Kumainkan terus handphone-ku, bosan memiringkan badanku ke kanan, aku miringkan badanku ke kiri. Kulihat sekilas kilat cahaya dari jendela rumahku, pasti bias cahaya petir dari luar, pikirku. Tak lama, kulihat sebuah bayangan lewat, samar suara batuk juga terdengar. Jangan salah paham, itu hanya temanku yang kebetulan sedang menginap di rumahku. Untunglah aku tidak sendiri, kalau iya, bayangan lewat itu sudah pasti membuatku takut.
Tetapi jujur, hatiku berdebar-debar tak karuan sejak tadi, bukan karena hujan, bukan karena petir, bukan karena bayangan temanku yang sedang lewat, tetapi karena sore tadi, aku baru saja menyodorkan sebuah kotak kecil merah yang berisi cincin kepada seorang perempuan di sebuah kafe. Itulah mengapa aku selalu mengabaikan panggilan masukku dari tadi, karena orang yang kutunggu-tunggu jawabannya tidak juga menghubungiku. Entah sampai kapan dibiarkannya aku menunggu, dia tidak pernah bilang akan menghubungiku hari ini, dan aku memberikannya nomor teleponku tanpa meminta nomor teleponnya.
Handphone-ku berdering, ada satu pesan masuk, di layar handphone-ku yang masih terkunci, tampak pengirim dari sebuah nomor yang tidak kukenal. Hatiku tambah berisik, baru saja aku ingin bersorak, sudah disusul duluan oleh temanku, menyorakkan listrik yang sudah menyala. Aku menggerutu, bikin kaget saja, pikirku. Aku sedang khidmat menikmati debaran hatiku yang deg-degan, melafazkan basmalah sebelum membuka pesan masuk itu, dalam hati aku berdoa semoga isi pesannya tidak mengecewakan, kalau pun mengecewakan semoga hatiku ikhlas menerimanya.
"Assalamu alaikum," begitu awalnya.
"Malam, maaf mengganggu." Aku membacanya, pelan.
"Ini aku," kutarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran hati yang makin berisik, tetapi tak juga berhasil.
"Perempuan yang di kafe tadi sore."
"Maaf, tadi kita belum memperkenalkan diri." Aku merutuk diri, bodohnya aku tidak memperkenalkan namaku.
"Namaku," ...
Ingin rasanya aku melempar handphone-ku, karena tiba-tiba handphone-ku mati tepat sebelum aku membaca nama perempuan itu. Ingin berteriak, tetapi khawatir kalau tetanggaku terganggu, hanya karena kebodohanku tidak mengecas handphone-ku dari tadi, aku takut kalau melewatkan telepon atau pesan dari perempuan yang kutemui di kafe sore tadi, tetapi, malah begini jadinya. Ah, kamu yang belum kutahu namamu, sedikit lagi, semoga kamu tidak sebal menunggu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar