Kubiarkan panggilan masuk tak terjawab.
Berdering sekali.
Berdering beberapa kali.
Hujan turun deras di luar.
Sesudah diperingati oleh beberapa guntur yang lumayan keras.
Tiba-tiba listrik mati.
Menyebabkan gelap yang mencekam.
Hanya ada pendar cahaya dari layar handphone yang asik
kumainkan.
Hujan dan gelap memang akrab dengan suasana seram.
Apalagi tadi sore baru saja selesai melihat review film
Pengabdi Setan yang lagi marak dibicarakan orang.
Aku masih terdiam di kamarku.
Malas beranjak ke luar mengambil lampu cas.
Tak apa gelap.
Kumainkan terus handphone-ku.
Bosan memiringkan badan ke kanan, aku miringkan badanku ke kiri.
Kulihat sekilas kilat cahaya dari jendela rumah kontrakanku.
Pasti bias cahaya petir dari luar.
Tiba-tiba terdengar samar suara, seperti suara benda yang
jatuh.
Kadang-kadang terdengar seperti suara ketukan dari tetangga
kosan sebelah.
Sudah satu minggu seperti itu.
Dan hanya terjadi saat lewat tengah malam saja.
Kucek barang-barangku, di ruang tamu, di dapur, di toilet,
tak ada barang yang jatuh.
Kosan sebelah pun sudah dua bulan kosong karena pemiliknya
pulang kampung.
Tinggal sendiri di perantauan itu, semakin lama, semakin
suka merasa paranoid.
Dengar sedikit suara gemerasak-gemerusuk di luar saja sudah
risau.
Kuintip lewat jendela, tak ada orang.
Mungkin kucing atau tikus yang mengacak-acak tempat sampah.
Mungkin kucing atau tikus yang mengacak-acak tempat sampah.
Kadang-kadang juga terdengar suara lonceng dan teriakan saat
tengah malam.
Belakangan kutau kalau itu suara lenguh sapi.
Juga suara dari lonceng yang terikat di leher sapi
Tak lama, kulihat sebuah bayangan lewat.
Samar suara batuk juga terdengar.
Jangan salah paham.
Itu temanku yang kebetulan sedang menginap di rumahku.
Untunglah aku tak sendiri.
Bayangan lewat itu sudah pasti membuatku takut jika aku
sendiri di rumah.
Aduh, aku baru ingat kalau ini malam jumat.
Kata orang, malam jumat itu istimewa.
Daripada hati tak tenang berpraduga,
Alangkah baiknya kalau mengobrol pada Tuhan,
Tak lupa memuja dan bermunajat,
Agar dilindungi dari mara bahaya di perantauan,
Atau tentang jodoh yang belum datang.
Apalah rindu yang belum bertuan,
“Sabar sedikit,” begitu selalu kata Ibu.
“Nanti akan indah pada waktunya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar