http://indah-my13th.blogspot.co.id/2017/10/kenapa.html
Cerita di link tersebut awalnya kubuat tanpa rencana. Satu kalimat kutulis menuntunku ke kalimat selanjutnya. Memang benar waktu itu listrik mati, memang benar waktu itu kubiarkan telpon masukku berdering tak terjawab, memang benar waktu itu hujan, memang benar temanku sedang menginap, membang benar saya membalikkan badanku dari kanan ke kiri karena bosan, memang benar saya sedang malas ke ruang tamu hanya untuk mengambil lampu cas. Tak apa, gelap. Pikirku begitu.
Cerita ini awalnya kubuat tanpa rencana, aku tak pernah memikirkan akan kumulai dengan kalimat apa, akan kuakhiri dengan kesan seperti apa, atau poin apa yang harus saya sampaikan agar pembaca dapat mengambil hikmah di baliknya. Tapi kupikir, setiap sesuatu itu ada hikmahnya, tinggal pandai-pandainya saja kita melihatnya. Seperti tulisan saya ini, seperti menyarankanmu untuk tidak cepat salah paham pada bayangan hitam, bisa saja itu bukan apa-apa, jadi jangan gegabah menarik kesimpulan. Seperti begitu mungkin, tapi aku tak tahu menurutmu bagaimana, bisa saja berbeda, dan itulah yang membuatnya lebih menarik, bukan?
Aku tak pernah bermaksud membuat tulisan saya ini menyeramkan dan aku tidak merasa ketakutan saat membuatnya. Seperti yang kubilang tadi, kalimat pertama menuntunku ke kalimat selanjutnya, tetapi karena sudah bosan dan kehabisan kata, kupikir aku segera mengakhirinya sebelum ini berubah jadi keluhan panjang karena listrik mati, atau karena niat tidur yang batal karena listrik tiba-tiba nyala, jadi aku berpikir akan kubungkus apa ceritaku ini. Barulah aku berpikir untuk membungkusnya dengan manis, tiba-tiba aku menjadi lelaki yang menelpon seseorang yang dirinduinya, kemudian seseorang itu menjawabnya dengan tanya “KENAPA?” dengan nada galak. Supaya lebih manis lagi, kujadikan kalimat, “alah, aku rindu wajah galaknya,” sebagai penutup.
Saat harus memilih pita – maksudku judul – aku kebingungan, lebih bingung dibanding saat memilih judul untuk tulisan-tulisanku sebelumnya. Karena memang betul, tulisan ini tersesat, tidak punya arah, hanya bermaksud mengeluh awalnya, tapi keterusan menjadi tulisan panjang lebih dari 200 kata. Aku baru ingin memilih “LISTRIK MATI” sebagai judul, tapi tak jadi karena ini bukan tentang listrik mati, meskipun itu alasan aku menulisnya. Mau kupilih “RINDU” sebagai judul, ini juga bukan seluruhnya tentang rindu, akhirnya kukutip pertanyaan galak si perempuan yang tadi ditelepon oleh lelaki itu sebagai judul.
Ketika kutau kalau tulisan berjudul “KENAPA?” ini yang disetorkan dalam sesi ulasan di grup teman-teman fighter di DWC, aku bersiap-siap menerima banyak kritikan. Setelah membaca feedback, aku membaca ulang tulisanku, dan memang benar, tulisan ini seperti bayi yang lahir prematur, masih perlu diolah agar utuh, mungkin karena listriknya tiba-tiba nyala waktu itu yang membuatku kehilangan ide, membuat tulisanku tentang listrik mati, gelap dan malam jumat, terpaksa segera diposting dan diakhiri oleh rindu seorang lelaki pada perempuan galaknya. Tapi aku bangga padanya, melihatnya dibaca oleh beberapa orang dan bahkan diberikan feedback, aku jadi haru seperti perasaan ibu yang melihat anaknya membaca puisi di depan kelas dan siswa-siswa lain bahkan ibu guru bertepuk tangan kagum padanya. Aku sangat berterimakasih karena teman-teman fighter menyempatkan waktu membacanya, juga terimakasih atas saran dan kritikan teman-teman fighter yang manis dan tak sungkan-sungkan, senang rasanya bisa berbagi ilmu dan pengetahuan agar aku bisa terus belajar dan memperbaiki diri, tak lupa berbangga dan bersyukur pada Tuhan.
Untuk itu aku memutuskan untuk
mengolah lagi tulisan prematur ini. Berikut linknya :
- Malam Jumat Istimewa, http://indah-my13th.blogspot.co.id/2017/10/malam-jumat-istimewa-kenapa-revisi-satu.html
- Namamu, http://indah-my13th.blogspot.co.id/2017/10/namamu.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar