Sabtu, 28 Oktober 2017

Janji Tahun Depan.

Aku bercerita tentang aku kepadamu, tetapi kamu tidak percaya, mungkin karena bosan mendengar ceritaku setiap hari, kamu malah memilih pergi. Hari itu, aku memang menangis, tetapi hari ini tidak lagi. Untuk apa? Menangisi sesuatu yang memilih pergi, pada akhirnya, kamulah yang kehilangan, bukan aku.

Kemarin, kamu memilih pergi, tidak peduli apa yang kubilang, tidak percaya pada perasaan yang kusampaikan, tetapi hari ini, kamu memilih kembali kepadaku. Kamu menahanku yang ingin segera menutup pintu setelah kutahu bahwa kamu lah yang mengetuk pintu rumahku tiga menit yang lalu, buru-buru kamu mengatakan bahwa kamu menyesal, memintaku untuk percaya kali ini, bahwa dulu kamu memang bersalah, lalu dengan apa aku percaya?

Aku sudah berdamai dengan hati yang dulu mencintaimu, dengan hati yang dulu terluka, dengan hati yang dulu buta, melakukan apa saja untuk menyenangkan hatimu, lalu pelan, kamu pergi, kamu berhenti, tidak ada lagi ucapan manis sebelum tidur, pelan, sangat pelan. Aku bertanya maksudmu apa, kamu hanya tidak ingin menyakitiku, katamu. Tetapi, tahukah kamu? Lama kamu meninggalkanku dalam diam, berteka-teki tentang tingkahmu, membuatku bertanya kenapa tanpa pernah ada jawaban, aku seperti gila, mencoba menghibur diri di depan cermin, sedetik kemudian, aku menangis. Kamu hanya tidak ingin menyakitiku, katamu, coba dengar kalimat itu untuk dirimu sendiri, entah kenapa bagiku itu terdengar lucu sekali.

"Apa yang membuatnya berbeda kali ini, apa yang membuatmu berbeda kali ini?" Tanyaku. Buru-buru, kamu menjanjikanku "tahun depan", sesuatu yang dulu tidak pernah ada padamu.
"Kalau begitu, kembalilah lagi tahun depan," begitu jawabku. Lalu, dengan raut kecewa yang tidak bisa kamu sembunyikan, kamu akhirnya pergi dari rumahku.

Tetapi, tahukah kamu? Manusia itu tidak ada yang abadi, apalagi janji yang baru saja kamu bilang. Lalu, dengan apa aku percaya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar