“Boleh saya duduk di sini?”
Aku disentakkan pertanyaan oleh
seorang lelaki kepada seorang perempuan. Jangan salah paham, perempuan yang
ditanyai seperti itu bukan saya, melainkan perempuan yang duduk di depan saya.
Bukannya bermaksud menguping, hanya saja meja kami berhadapan di sebuah kafe,
tepatnya di samping kaca jendela yang menjadi titik favorit saya saat hujan.
Aku sudah mengenali mereka
berdua, meskipun hanya sebatas wajah saja. Bagaimana tidak? Hampir tiap kali
aku ke sini, selalu saja kudapati mereka berdua, kadang mereka datang di hari
yang sama, kadang juga tidak. Entah apakah itu kebetulan, atau salah satu dari
mereka adalah pengagum rahasia, atau malah perasaan mereka bertepuk tetapi
mereka belum tahu saja. Ada-ada saja, bak drama korea yang menjadi salah satu
penghiburku di kala menunggu seperti ini. Ya, saya sedang menunggu seorang
teman sekarang. Kami janjian bertemu sejak sejam yang lalu tetapi belum juga
muncul batang hidungnya.
Sejak mendengar pertanyaan itu,
drama korea yang sedang ku play di laptopku saya pause. Temanku yang dari tadi saya coba hubungi tetapi tetap saja
tak terjawab tak kupusingkan lagi. Bukannya bermaksud menguping, ini murni
hanya kebetulan saja, batinku mencari alasan agar tak merasa bersalah. Aku
hanya tak bisa mengabaikan adegan mereka yang mungkin akan lebih menarik, dua
manusia yang punya gelagat tertarik satu sama lain itu sudah lama sekali saya
perhatikan, kurang lebih sejak enam atau tujuh bulan yang lalu tak jarang kudapati
mereka di kafe ini.
Awalnya aku acuh saja, anggaplah
aku hanya seorang pelanggan setia yang tak peduli pada sekitar, mungkin
sesekali melirik pelanggan cowok yang menarik di mataku, sekali, dua kali, tak
pernah lebih, dan tak ingin gila sama urusan orang lain. Tetapi sejak temanku
yang juga adalah pemilik kafe ini bercerita padaku tentang dua manusia itu, aku
barulah ikut terpincut, dan memperhatikan. Ah, aku hanya bisa gemas sama
mereka. Dulu lelaki itu beberapa kali kulihat mencuri pandang, sambil
menyeruput es coklat yang sering di pesannya, sedangkan wajah perempuan yang
dipandangnya sesekali memerah tersipu.
Aku tambah dikejutkan saat lelaki
itu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya, membuka kotak kecilnya dan
menggesernya lebih dekat ke arah perempuan yang diberikannya. Setengah mati
kutahan kegiranganku dalam hati. Aku terpukau, pertama kalinya bertatap muka,
lelaki itu langsung berani melamar. Atau tidak? Tetapi entah itu benar cincin
atau tidak, aku berdoa pada Tuhan agar dipertemukan lelaki seperti itu, tak
lupa juga kudoakan kebahagiaan mereka, dilancarkan urusan mereka kalau pun
mereka memang berjodoh.
Aku tidak dapat melihat ekspresi perempuan
yang baru saja disodorkan sebuah kotak kecil yang mungkin berisi cincin. Terhalang
oleh lelaki yang sudah menyodorkannya sebuah kotak kecil yang mungkin berisi
cincin. Kutahan tubuhku untuk tidak berusaha menggeserkan badan demi melirik isi
kotak kecil itu, meskipun aku sangat ingin tahu bagaimana respon si perempuan. Apakah
aku harus berpura-pura mencari sesuatu ke arah sana lalu berjalan balik ke
tempatku agar dapat mengintip isinya?
Belum selesai diusik rasa penasaran, aku kaget karena lelaki itu tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. Dia mengambil tasnya yang tadi disandarkan di kursi sebelahnya, pamit sopan pada perempuan itu, lalu pergi. Di luar masih hujan, tapi semoga di hati lelaki itu tidak hujan, apalagi pembicaraan mereka tadi singkat sekali. Tepat setelah lelaki itu membuka pintu, seorang lelaki lain hendak masuk, membuat mereka hampir bertabrakan. Lelaki yang baru datang itu adalah temanku, dia tersenyum padaku seolah sama sekali tak bersalah sudah membuatku menunggu. Ah, abaikanlah temanku. Siapa suruh membuatku menunggu lama.
Belum selesai diusik rasa penasaran, aku kaget karena lelaki itu tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. Dia mengambil tasnya yang tadi disandarkan di kursi sebelahnya, pamit sopan pada perempuan itu, lalu pergi. Di luar masih hujan, tapi semoga di hati lelaki itu tidak hujan, apalagi pembicaraan mereka tadi singkat sekali. Tepat setelah lelaki itu membuka pintu, seorang lelaki lain hendak masuk, membuat mereka hampir bertabrakan. Lelaki yang baru datang itu adalah temanku, dia tersenyum padaku seolah sama sekali tak bersalah sudah membuatku menunggu. Ah, abaikanlah temanku. Siapa suruh membuatku menunggu lama.
Buru-buru kulirik kembali si
perempuan yang masih saja menatap kotak kecil yang terbuka di depannya. Dapat kulihat
kilatan tak percaya di matanya yang setengah berkaca-kaca, mungkin haru, atau
semu merah di wajahnya yang jelas kulihat meski dia sudah berusaha menutupnya dengan
hijab. Seperti baru tersadar kalau dia berada di dalam kafe yang lumayan ramai
dengan pelanggan, dia segera meraih kotak kecil itu dan dimasukkannya ke dalam
tas sesaat setelah temanku lewat di samping mejanya menuju ke sini.
Baru saja temanku memperbaiki
duduknya. Aku langsung menyerangnya dengan sebuah pertanyaan, dengan volume
suara sekecil mungkin.
“Apa isinya?” Kutatapnya lekat.
“Apa?” Dia bertanya balik, ikutan
berbisik sepertiku.
“Apa isi di kotak kecil merah
itu?”
Dia mengangkat bahu, masih tak
mengerti apa maksudku. Kuberi isyarat dengan menunjuk meja di belakang dia.
“Oh itu.”
“Apa?” Aku mendesak. Mencoba sabar.
“Kenapa sih memangnya?” Dia balik
bertanya lagi.
“Apa?” Tanyaku lagi. Mulai sebal
sama temanku.
“Cincin. Memangnya kenapa?" Tak
kujawab. Aku hanya tersenyum riang, seolah aku adalah perempuan yang baru saja
disodorkan cincin di kafe, di tengah-tengah banyak orang dan tanpa kamera
tersembunyi. Ah, senangnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar