Senin, 16 Oktober 2017

Jam Tiga Sore, Hujan dan Sebuah Kotak.

“Boleh saya duduk di sini?”
Aku disentakkan pertanyaan oleh seorang lelaki kepada seorang perempuan. Jangan salah paham, perempuan yang ditanyai seperti itu bukan saya, melainkan perempuan yang duduk di depan saya. Bukannya bermaksud menguping, hanya saja meja kami berhadapan di sebuah kafe, tepatnya di samping kaca jendela yang menjadi titik favorit saya saat hujan.

Aku sudah mengenali mereka berdua, meskipun hanya sebatas wajah saja. Bagaimana tidak? Hampir tiap kali aku ke sini, selalu saja kudapati mereka berdua, kadang mereka datang di hari yang sama, kadang juga tidak. Entah apakah itu kebetulan, atau salah satu dari mereka adalah pengagum rahasia, atau malah perasaan mereka bertepuk tetapi mereka belum tahu saja. Ada-ada saja, bak drama korea yang menjadi salah satu penghiburku di kala menunggu seperti ini. Ya, saya sedang menunggu seorang teman sekarang. Kami janjian bertemu sejak sejam yang lalu tetapi belum juga muncul batang hidungnya.

Sejak mendengar pertanyaan itu, drama korea yang sedang ku play di laptopku saya pause. Temanku yang dari tadi saya coba hubungi tetapi tetap saja tak terjawab tak kupusingkan lagi. Bukannya bermaksud menguping, ini murni hanya kebetulan saja, batinku mencari alasan agar tak merasa bersalah. Aku hanya tak bisa mengabaikan adegan mereka yang mungkin akan lebih menarik, dua manusia yang punya gelagat tertarik satu sama lain itu sudah lama sekali saya perhatikan, kurang lebih sejak enam atau tujuh bulan yang lalu tak jarang kudapati mereka di kafe ini.

Awalnya aku acuh saja, anggaplah aku hanya seorang pelanggan setia yang tak peduli pada sekitar, mungkin sesekali melirik pelanggan cowok yang menarik di mataku, sekali, dua kali, tak pernah lebih, dan tak ingin gila sama urusan orang lain. Tetapi sejak temanku yang juga adalah pemilik kafe ini bercerita padaku tentang dua manusia itu, aku barulah ikut terpincut, dan memperhatikan. Ah, aku hanya bisa gemas sama mereka. Dulu lelaki itu beberapa kali kulihat mencuri pandang, sambil menyeruput es coklat yang sering di pesannya, sedangkan wajah perempuan yang dipandangnya sesekali memerah tersipu.

Aku tambah dikejutkan saat lelaki itu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya, membuka kotak kecilnya dan menggesernya lebih dekat ke arah perempuan yang diberikannya. Setengah mati kutahan kegiranganku dalam hati. Aku terpukau, pertama kalinya bertatap muka, lelaki itu langsung berani melamar. Atau tidak? Tetapi entah itu benar cincin atau tidak, aku berdoa pada Tuhan agar dipertemukan lelaki seperti itu, tak lupa juga kudoakan kebahagiaan mereka, dilancarkan urusan mereka kalau pun mereka memang berjodoh.

Aku tidak dapat melihat ekspresi perempuan yang baru saja disodorkan sebuah kotak kecil yang mungkin berisi cincin. Terhalang oleh lelaki yang sudah menyodorkannya sebuah kotak kecil yang mungkin berisi cincin. Kutahan tubuhku untuk tidak berusaha menggeserkan badan demi melirik isi kotak kecil itu, meskipun aku sangat ingin tahu bagaimana respon si perempuan. Apakah aku harus berpura-pura mencari sesuatu ke arah sana lalu berjalan balik ke tempatku agar dapat mengintip isinya?

Belum selesai diusik rasa penasaran, aku kaget karena lelaki itu tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. Dia mengambil tasnya yang tadi disandarkan di kursi sebelahnya, pamit sopan pada perempuan itu, lalu pergi. Di luar masih hujan, tapi semoga di hati lelaki itu tidak hujan, apalagi pembicaraan mereka tadi singkat sekali. Tepat setelah lelaki itu membuka pintu, seorang lelaki lain hendak masuk, membuat mereka hampir bertabrakan. Lelaki yang baru datang itu adalah temanku, dia tersenyum padaku seolah sama sekali tak bersalah sudah membuatku menunggu. Ah, abaikanlah temanku. Siapa suruh membuatku menunggu lama.

Buru-buru kulirik kembali si perempuan yang masih saja menatap kotak kecil yang terbuka di depannya. Dapat kulihat kilatan tak percaya di matanya yang setengah berkaca-kaca, mungkin haru, atau semu merah di wajahnya yang jelas kulihat meski dia sudah berusaha menutupnya dengan hijab. Seperti baru tersadar kalau dia berada di dalam kafe yang lumayan ramai dengan pelanggan, dia segera meraih kotak kecil itu dan dimasukkannya ke dalam tas sesaat setelah temanku lewat di samping mejanya menuju ke sini.

Baru saja temanku memperbaiki duduknya. Aku langsung menyerangnya dengan sebuah pertanyaan, dengan volume suara sekecil mungkin.
“Apa isinya?” Kutatapnya lekat.
“Apa?” Dia bertanya balik, ikutan berbisik sepertiku.
“Apa isi di kotak kecil merah itu?”
Dia mengangkat bahu, masih tak mengerti apa maksudku. Kuberi isyarat dengan menunjuk meja di belakang dia.
“Oh itu.”
“Apa?” Aku mendesak. Mencoba sabar.
“Kenapa sih memangnya?” Dia balik bertanya lagi.
“Apa?” Tanyaku lagi. Mulai sebal sama temanku.

“Cincin. Memangnya kenapa?" Tak kujawab. Aku hanya tersenyum riang, seolah aku adalah perempuan yang baru saja disodorkan cincin di kafe, di tengah-tengah banyak orang dan tanpa kamera tersembunyi. Ah, senangnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar