Rabu, 12 Januari 2011

??

Kau ingin robek aortaku?
Kau jawab tidak!

Atau kau ingin aku tertenggelamkan hiruk pikuk dunia?
Lagi-lagi, kau jawab tidak!

Lantas? aku tidak mengerti kawan...
Apa yang terjadi?
Jangan melontarkan kalimat perwakilan hatimu di belakangku,, dan mendeklarasikannya di lingkup atmosferku yang tenang dengan keindahanku!!
Katakan di hadapanku, agar ku bisa menyumbat kalimat palsumu itu!!!

Apa yang kau inginkan? Hah?
Aku tau!! dan jangan pura2 tak tau bahwa aku tak menyadarinya!!
Aku tau kau menjauh!
Jangan buatku memohon untuk mengembalikanmu di sisiku!
Aku inginkan keindahanku,, tak membuat luka di ragamu!

Setia Ragaku. Setia Ruhku.

Ketika cinta di batas raga....
Dan yang dicinta mematahkan hembusan nafas yang mencinta...
Mungkinkah kasih kan sanggup mengenang setiap detik yang tertenggelamkan tangis?!

Sungguh...
Ketika terbentangkan jarak di depan sang kekasih...
perlahan menenggelamkan bingkai wajah yang setiap detik dirindui...
Berharap pertemuan indah itu terulang kembali...
Bahkan ketika menanti,,
mencari..
di antara penumpang yang lalu-lalang di stasiun itu...
mencari..
di setiap sudut kenangan yang disinggahi...
Hingga sembilan tahun lamanya,,
sosok wajah itu tak juga menghampiri!!!

Bahkan,, sejak berakhirnya sebuah cerita yang dicinta...
Tahu akan hanya ada asa di batas penantian...
Sakit! ketika bersandiwara seakan masih rasakan hadirnya..

Tapi, Aku tetap di sini...

Kau tahu?!
Setiap kereta berhenti..
Aku akan duduk depan stasiun..
Memperhatikan satu per satu penumpang yang keluar..
Berharap Kau ada di antara mereka..
Meski hanya bayangmu,,
Meski hanya Ruhmu...

Lihat penantianku...
Lihat aku yang terus tertatih di batas kesetiaanku!!

Aku, sejak sembilan tahun yang lalu di sini..
Hingga aku lelah menanti..
Hingga kau dapati Aku di sisimu lagi!
meski Aku tak lagi dalam ragaku_

Indahku dulu..

Dalam hidupku hanya dirimu satu...
Selamanya takkan pernah terganti..
Ku mau menjadi yang terakhir untukmu..
Ku mau menjadi mimpi indahmu..
Cintai aku dengan hatimu seperti aku mencintaimu..
Sayangi aku dengan kasihmu seperti aku menyayangimu..


Karena kau buktikan untukku 1 kisah tentang kita yang teramat indah tuk terlupa, sempurna bukan milik kita, namun kau selalu ada untukku lengkapi hidupku dengan indah...

Coz I will always love you, Indahku...

Me

I ...
The spirit who always watching you in silence ..
From the expanse of the night who always remember the past with you ..

I,
increasingly falling in your heart ..
Although you never face-to-eye, even one time ..

I,
the stupid soul ..
Only a shadow of the chase ..
Being a foothold your steps ..
Continue staggered,
Seeking,
Waiting, until you hear the voice of my heart-wrenching universe of your spirit ...

I,
Bowed weak when I found her in your heart ..
But, I do not go anywhere ..
I'm still here, accompanied by my tears_
By love, even without your love ..

I,
the pathetic actor ..
Trying to decorate my face with a cheerful,
Although often times I found the meeting of your views ..
At that time, I was no longer myself ...

I,
Just keep looking at you ..
Hoping you will look at me ..
Hoping to find each other our views ..

Although it will be just a moment._

Aku Cinta

hasratku yang terjerat tahun lalu...
kini terbebas..

Aku, bukanlah lagi aktor yang menyedihkan,,
yang diam memperhatikan,
dan berharap..
penuh asa!!

bahkan,,
spiritku yang setahun lamanya meronta pedih,, kini telah mengepakkan sayap kebebasan pada yang dicinta..
karena yang dicinta telah mencinta..

Tak kan lagi kau dengar suara yang pilu itu..
suara hati yang patah, retak..
karena kasih telah menghampiri luka ini..
menyampaikan rasa yang telah dinanti sejak setahun yang lalu..
kini, hati yang patah karena cinta itu..
telah utuh kembali oleh cinta..

karena kini,,
aku mempunyai cinta yang bukan lagi sakitku..

Hari ini,
setelah setahun yang lalu..
Kau membiarkan ragaku mendamba dalam diam!
tanpa tak pernah kau sampaikan,,
rasamu ternyata sama dengan rasaku...
_Cinta_

sweet dream

Kau menyambut hadirnya malam..
sambil mencari keindahan senyum cahaya di bentangan langit sana..!!
Kau tatap, dan memuja keindahannya!
Lalu,
Angin malam membelaimu pelan..
Naungan kelam menyelimutimu hangat..
kau biarkan lelahmu ditenggelamkan kesunyian malam..
Terlelap..
dan bergumam.. “indah..!”..

have a nice dream^^

Aku

Aku…
Jiwa yang selalu memperhatikanmu dalam diam..
Dari bentangan malam yang selalu memutar kebersamaan lalu denganmu..

Aku,
Semakin jatuh dalam hatimu..
Walau tak pernah kau tatap mataku, sekali pun itu..

Aku,
Adalah raga yang bodoh..
Hanya menjadi bayang yang mengejarmu..
Menjadi pijakan langkahmu..
Terus tertatih,
Mencari,
Menanti, hingga kau mendengar suara hatiku yang memilukan jagad spiritmu…

Aku,
Tertunduk lemah saat kudapati dia di hatimu..
Tapi, aku tak kemana-mana..
Aku tetap di sini, ditemani oleh tangis_
Oleh cinta, meski tanpa cintamu..

Aku,
Adalah aktor yang menyedihkan..
Mencoba menghias wajahku dengan ceria,
Meski sering kali kudapati pandangan kalian bertemu..
Saat itu, aku bukan lagi diriku…

Aku,
Terus saja menatapmu..
Berharap kau akan menoleh padaku..
Berharap pandangan kita dapat saling bertemu..

Meski hanya sesaat._

Sakitku

Sakitku bisu..
terjeruji dalam benak yang ingin meluapkan sejuta angan..
menatap kekosongan sebuah sandiwara..
membuat hidup hanyalah sebuah peran..
waktu hanya sekedar berlalu..
tak berarti..

sakitku berdiam diri..
menyudutkan akal di sudut kelam..
membuat spiritku meronta..
tapi jiwa tak bergeming..
hanya mematung menyaksikan kepingan asa..

sakitku,,
membiarkan diriku semakin rapuh..
lemah, karena sebagian dariku, telah menjadi cinta untukmu..
cinta yang tak bisa milikimu..

kau ingin tau,
seberapa besar rasa sakit yang menggerogoti ruhku?

datanglah padaku!
dan rasakan hadirku..
kau akan dapati banyak cinta untukmu..

cintaku adalah sakitku._

Tak sesederhana itu!

ketika kau menatap ketidakmampuanmu bercokol bukan pada dirimu..
akan ada harapan,
usaha, meski tak jarang berakhir asa..

ketika kau menatap impianmu terpenuhi bukan pada dirimu..
kau akan mencari sebab,
dan menyadari itu sesuatu yang pantas..

tapi,
apakah mungkin akan terasa sama?
jika mendapati sebagian hatimu tersenyum tapi bukan padamu?
menyadari kehadiran yang bukan sosokmu?
memperhatikan sosok yang bukan dirimu?

bahkan, ketika sebagian hatimu lagi merasakan sakit..
sakit,, meski enggan tuk tersampaikan..

menyedihkan ketika dirinya begitu berarti bagimu,
namun dia tak melihat sedikitpun makna akan hadirmu..

Rasanya tak mungkin sama.
tak mungkin_

bahkan jika kau menghibur dirimu yang sebenarnya telah rapuh..
tuk jadikan senyumnya menjadi bahagiamu..

tak mungkin!
karena rasa yang kau miliki untuknya,
tak sesederhana itu kawan_

Aku tau Cinta

Aku tau..
ketika kau tersenyum saat itu,
dengan pandangan fokus pada pandangan mataku,
bahkan ketika kau memukulku lembut, pelan, ada sesuatu yang ingin kau sampaikan darinya..

aku tau,
bukan sekedar naluri..
kau juga pasti merasakannya..

ada rasa yang kau titipkan padaku..
sejak lama..
maaf, telah membuatmu menunggu!

tapi, mungkin sulit..

karena aku terlalu takut untuk nyatakan rasa itu padamu..
rasa yang sama dengan rasamu_

Retak.

Kau menatapku sejenak, dan bertanya..
Kau dengar suara itu?

Suara apa? aku pura-pura tak tau..

Suara, sangat pilu..

Aku tak mendengar apa-apa..

Suara itu, membuatku ingin menangis..
aku seakan merasakan perih..

Sungguh?

Akh, sudahlah..

Lalu kau menangis.
Aku hanya terdiam menyaksikan tangismu..
Mungkin karena suara yang kau bilang pilu itu..

Kau tau?
itu suara hatiku yang retak..
patah..
dan kau menangis karenanya..!

jika kau saja yang seperti itu,,
bagaimana dengan diriku?

I win!

Dia mengirimiku SMS.
tak membuang waktu.
tak berbelit-belit lagi.
tanpa basa-basi.

dia akhirnya mengakui kemenanganku.
mendeklarasikan kekalahannya.
menggelegarkan tawaku.
meski tak melihat raganya bersimpuh di hadapanku.
cukup hatinya.
cukup itu saja yang membuatku puas.

tapi, pada sampai titik dia bertanya padaku.
"masih adakah rasa itu? cintamu padaku?"

membuatku sejenak lupa pada egoku.
pada pertempuran yang saya buat di hari perpisahan itu.
pertempuran yang aku yakini akan mencetuskanku sebagai pemenang!
dan yah, itu benar!
akulah pemenangnya.

tapi, apakah aku sudah seutuhnya menang?
ku tanya hatiku!
dia tak lagi peduli padanya.
dia sudah merelakannya meski sudah ada yang lain.
dia tak lagi menangisinya di kala mengingat perpisahan itu...
dia malah mencemooh.
"tak ada lagi rasa untuknya."
hatiku berdalih.

ku klik 'reply'.
"maaf, aku sudah melupakanmu!"
'send'.

Tak seharusnya

Dia mendekat.
dan aku tak suka itu.
Dia pria beristri.
Dan tidak hanya itu masalahnya.
Aku bisa dibilang anaknya.
Aku keponakannya.

Dulu tak seperti itu.
Entah kenapa.
Aku salah sangka.
ternyata ia berbeda sekali dengan tampilan luarnya.
cara bicaranya yang halus.
caranya menanggapi sesuatu.
Ia kelihatan cerdas dan bijaksana.
Aku bahkan sempat memuji sosoknya.
Dan menceritakan kekagumanku itu pada seorang sahabat.

sungguh, aku mengira dia baik.
ramah. setiap kali aku melihatnya pasti senyum.

Tapi, semenjak insiden itu.
setiap kali ia senyum.
Q balas dengan enggan yang tak nampak.
Kini, senyum itu seakan bermaksud menggodaku.

Aku berusaha menghindar.
Sampai ia kembali normal.

Karena, sejak itu.
setiap ia mendekat.
aku selalu berprasangka buruk.
meski pada akhirnya tak terjadi apa-apa.
tak dapat kupungkiri, ada rasa takut yang berkelebat.

mungkin dia anggap itu biasa.
mungkin ia tak bermaksud apa-apa.
tapi, tetap saja. aku gak suka.

Rasa. Indah. Pilu

Di saat ada rasa yang meronta tuk dibebaskan dari jeratan ketidakberdayaan.
Melahirkan sebuah sandiwara yang memilukan.

Ada cinta di sana.
tapi, tak ada yang menghampiri.
hanya menunggu mati, dengan sedikit harapan dari hari-hari yang berlalu bersamanya.

Ada rasa yang meminta untuk tersampaikan kawan..
begitu indah, tapi tak seorang pun bergeming memperhatikan.
Raga terdiam. menyembunyikan rontaan jiwa. berpura-pura tak memperhatikan, tapi selalu tau apa yang sedang ia lakukan.

Sebuah sandiwara yang memilukan.
kepura-puraan yang tak kunjung berucap pamit padaku.

Menjadikan setiap mozaik hidupku seperti kepingan asa...
melangkah, terlelap.
dan melangkah lagi.
tanpa ada arti.

menjadikan aku sebuah kaleng kosong tanpanya.

Aku, sebagai rasa yang tak sampai padanya.

-Kita-

-Dia-
kau tak tau aku mencintaimu sejak lama.
bahkan saat dia masih ada dalam hatimu.
kau tak tau itu, dan aku enggan untuk menyampaikan rasa itu.

kau sempat nyata dalam benakku.
suaramu sempat terlantunkan dalam kisahku.
saat itu hatimu sedang tertorehkan luka karenanya.
saat itu, aku bertatih tuk sembuhkan lukamu.
berharap aku punya daya untuk itu!

tapi, makin hari kau tak ada kabar.
kau menghilang dari peredaran mataku.
cintaku mencari hatimu.
tulus.
aku baru saja ingin memberitahumu sesuatu.
sesuatu yang sudah lama ingin melabuhkan cintamu dalam jiwaku.

kau menghilang.
kurasakan hampa.

kini aku menemukanmu.
tepatnya, kau yang membawaku ke pertemuan kita kembali.
syukurlah kau masih mengingatku.
cintaku hampir saja mati karena lelah mencarimu.

sekarang, kau kembali nyata dalam benakku.
suaramu kembali terngiang dalam kisahku.
aku ingin kau jadi milikku.
aku tak akan pernah melepasmu lagi.
tak akan ku sia-siakan dirimu.

aku mencintaimu. sungguh.

-Aku-
kau katakan segalanya padaku.
rasamu. tentang dulu kau mencariku.
entahlah.
sejenak ku pikir kau tak perlu jawaban dariku.
kau pun tak pernah bertanya padaku.
hingga aku terbiasa dengan suaramu. perhatianmu. dan mungkin cintamu.
dan aku merasa nyaman dengan keberadaanmu.

sejak itu, kau semakin sering mengusik pikiranku.
hatiku mulai terusik olehmu.
bahkan aku menanti namamu muncul di layar handphone-ku.
mendengar candamu.
kau tau, sejenak aku berharap detik jam terhenti saat itu agar aku bisa berlama-lama denganmu.
entahlah.

aku melarang hatiku jatuh cinta.
karena aku tau, apa yang kurasa saat ini mungkin sama dengan apa yang kau rasakan padaku.
entah itu aku harus bahagia.
aku bingung.
aku hanya takut tersakiti lagi.

tapi, malam ini..
kau membuat semuanya jelas dengan sendirinya.
ku harap kau tak mendustaiku.
i hope u'll be the last for me.

Tak bisa cinta

tak bisa cinta

Aku merasa benar telah mengakhiri suasana genting ini, Suasana di mana aku harus merasa terpaksa mencintai seseorang.. seseorang yang sangat sulit Q terima… memintanya agar hubungan ini di “break” saja sangat berat untukku… dia masih polos Tuhan, tak seharusnya dia tersakiti!!

Aku tak biasa bermain-main dengan cinta. Tak bisa sama sekali.. tapi, kenapa yang kulihat begitu banyak yang sudah tidak perduli keberadaan cinta itu sendiri?? Mengapa begitu banyak orang yang menikmati hubungan yang tanpa cinta itu? Dan anehnya,, kenapa ku sama sekali tak bisa?

Aku tak ingin melihat orang terluka karenaku..

Karena telah mencintai seseorang yang tak bisa mencintainya.. kenapa aku tak bisa membahagiakan mereka tanpa aku tak perlu memaksakan senyum.. menepis getir ketika ku mengucap “sayang” padanya!

Aku ingin bisa mencintainya.. karena ku tau dia tulus mencintaiku!

“Aku sayang padamu”

Setiap kalimat itu terlontar, hatiku perih.. kenapa aku sama sekali tak bisa mencintainya? Kenapa hatiku ini? Saat ku yakin pada seseorang, hatiku malah menolak untuk mencintainya.. dan ketika aku mulai membuka hati, seperti masa laluku dulu, dia memujaku, mengindahkanku, menyenangkanku dengan janji-janjinya. Dan aku percaya, karena aku cinta. Tapi semua berlalu.. dengan luka yang tertoreh di benakku! Ughh, sakit_

22 juli 2010, 17.22
“Aku ingin menjomblo.”
Dia terdiam.
“Aku ingin fokus pada kuliahku nanti. Aku ingin berfokus pada masa depanku dulu.”
“Aku merasa terganggu dengan keadaanku sekarang.”
“halo, tidak apa-apa ‘kan?”
“Hikz,, hehehe”, dia mencoba menyembunyikannya dengan tawa canda.
“aku sayang padamu”, aku menghiburnya. “Berikan aku waktu untuk bisa mencintaimu!”, gumamku_
“Aku juga sayang padamu.”
“Aku tunggu kamu tamat SMA nanti, ya?”
“Tamat SMA? Tapi aku khawatir kamu akan menemukan penggantiku..”
“kan aku bilang, aku ingin fokus sama kuliahku. Lagipula aku ingin menikmati kebebasan tanpa ada ikatan. Hehehe”
“Hhhuuuuu”, dia mencibir.
“Tidak apa-apa ‘kan?”
“Iya Kak.”
“Jangan panggil aku ‘Kak’!”
“Iya sayang. Hehe”
“Jangan juga panggil aku ‘sayang’! kita ‘kan lagi break?!”
“trus?”
“nama aja. Sudah dulu ya? Assalamu Alaikum.”
“Wa alaikum salam.”
Huft, saya harap dia tidak kecewa padaku.

Dia

fiuyh..

entah kenapa hari ini terasa lain.. aku betah-betahnya tertidur sampai jam 02.55 siang.. melewatkan kesempatanku untuk menunaikan sholat shubuh dan sholat dhuhur.. (maafkan aku Tuhan) hehe^^

kupikir tak ada yang bisa kulakukan hari ini.. tidak seperti kemarin.. huft,, benar-benar hari yang melelahkan…

Makassar, kota yang sempat kupikir penuh dengan orang-orang yang angkuh dan arrogan, orang-orang yang suka mempermainkan cinta, ternyata salah.. tak semuanya..

Aku mengenal beberapa orang yang kupikir baik.. malah ada yang masih berpikiran polos.. hey,, ini kota loh.. jarang-jarang ada yang seperti itu..

Hheeemmm, secara tak langsung aku mengenal mereka.. Botex.. itu nama geng mereka.. arti sebenarnya “Boys of Texas”, tapi juga sering diartikan botak terpaksa, atau botak seksi.. hehe, arti yang 1 itu dicetuskan oleh Kak Sule loh…
Aku mengenal mereka di gadjahmada, tempat bimbelku waktu persiapan SNMPTN dulu… bagiku mengenal mereka adalah salah satu moment berharga.. sebagian besar waktu yang kami habiskan di Gadjahmada, kalo bukan melakukan aktivitas sbg siswa GM, pasti berkumpul dengan mereka, sharing cerita.. pokoknya setiap waktu yang kami miliki melebur dalam kebersamaan kami.. tapi, kenapa sekarang ceritanya jadi lain.. semua makin renggang.. satu menjauh.. satu merasa dikecewakan.. satu merasa disalahkan.. dan satunya lagi tidak merasa harus ikut campur.. hehehe^^ sekarang suasana jadi makin canggung, dingin, sunyi.. tak ada tawa seperti dulu lagi.. hheemm,, jadi kangen masa lalu!!

Ku pikir kenapa dia harus bersikap seperti itu,, tak harus emosi menguasai diri kan.. sampai membuat yang lain merasa dipersalahkan oleh keadaan.. kenapa kau tak menatap ke depan saja?? Tak usah berkutat dengan keadaan yang telah terjadi.. seakan-akan kau sedang berpikir untuk mengubah sesuatu yang sama sekali bukan kuasamu!! Lantas, kenapa kau menjauh? Kau bilang kau ingin melupakan kami? Kau mengucapkan itu langsung di depanku.. lalu kau tanyakan alasanku diam? Hei,, kau pura-pura tak tau atau memang hatimu tak peka sama perasaan orang lain? Apakah aku harus bergurau, atau aku harus menghiburmu karena kekesalan hatimu, atau aku harus pura-pura tak tau apa yang sedang terjadi?

Kau ingin aku bicara dan mengungkapkan semua pikiranku dan apa yang saya rasakan tentangmu? Hehe,, aku terlalu takut untuk itu. Pikiranku masih sehat.. aku masih berpikir menjaga perasaan orang lain itu bukanlah hal yang buruk.

Aku kasihan padamu..

Selasa, 11 Januari 2011

Usai Sudah

Senin, 12 Juli 2010
Pukul 22.12

Sepi_
Entah kenapa perasaan saya mendadak tidak karuan!!
Setelah menelpon dia, orang yang aku kagumi sejak kelas 2 SMA.. yah, memang sudah cukup lama..
Sudah hampir 2 tahun perasaan itu terus berkecamuk dalam hatiku.. sudah terlalu lama perasaan itu terpendam..
Tertahankan oleh keadaan dimana dia telah memiliki kekasih..

Dia tau perasaan ini, tapi aku tak tau sekarang bagaimana. Mungkin dia beranggapan kalau perasaan itu sudah nggak ada mengingat waktu sudah begitu lama, bisa dibilang cukup untuk mengubur rasa yang tak terbalas itu, rasa yang dikalahkan oleh keadaan..

Dia juga tau kok keadaanku dulu, keadaan waktu aku masih punya kekasih. Tapi, ceritaku sudah usai dengannya.
Dia yang mengakhiri_

Jum’at, 18 juni 2010
Pagi hari

“Kenapa?”, dia bertanya itu setelah menjawab salamku.
“Aku ingin membicarakan mengenai hubungan kita.”
“Kenapa lagi sih?”, sikapnya sudah berubah terhadapku. Aku sadar itu.
“Kamu masih sayang ma aku?”, perih menanyakan ini. Berharap rasa sayang untukku masih tertata rapi di hatinya.
“Iya”, jawabnya singkat. Aku tidak puas.
“Masih seperti dulu?”
“Tidak tau.”, tangisku menetes.
“Kamu berubah.”, aku terisak. Sudah lama sekali aku merasakan hal ini. Tapi takut kalau aku menanyakannya, dia akan marah, jengkel, dan akan menambah kejenuhannya padaku. Aku lemah, aku lemah karena terlalu mencintainya.
“Aku gak tau Indah. Aku sendiri gak tau kenapa akhir-akhir ini aku bersikap seperti ini padamu!”
‘Indah’, kini dia memanggil namaku. Sudah terlalu sedikitkah rasa sayangnya padaku hingga panggilan ‘sayang’ sudah sulit terucap dari bibirnya?
“Jangan panggil aku dengan namaku!”, aku menarik nafas panjang, menyembunyikan isakanku.
Dia terdiam…
“Kenapa sekarang kamu seperti ini terhadapku?”
“Tidak tahu. Aku…”
“Atau kamu seperti ini karena kita long distance? Atau ada yang lain yang menarik perhatianmu?”
“Mungkin karena kita long distance.”
“Kenapa seperti ini?”, aku menangis. Tergugu…
“Ini baru sebentar. Baru 3 bulan. Bagaimana nanti?”, ku atur nafasku.
“Cobalah untuk katakan pada dirimu sendiri ‘aku sayang kamu Indah’, berulang kali! Tanamkan di pikiranmu! Agar rasa sayangmu bisa pulih seperti dulu.”, ku katakan padanya sehalus mungkin, ku redam emosiku agar emosinya tidak terpancing. Hatiku menangis, kasihan melihat diriku yang mengemis cinta padanya.
“Kamu sayang padaku ‘kan? Aku sangat sayang padamu!”, ku ucapkan sayang, agar hatinya luluh. Ku harap itu dapat membawanya mengenang masa lalu yang indah dulu.
“Aku juga sayang kamu.”, katanya datar.
“Atau lebih baik kita putus saja?”, tak ada niatku seperti itu. Aku hanya ingin melihat responnya bagaimana.
“Tidak.”, katanya masih datar.
“Lantas? Kenapa kamu memperlakukan seperti ini? Seakan aku sudah tidak ada arti lagi buatmu?”, aku mencoba tenang. Meski terkadang masih sesenggukan.
“Aku minta maaf! Tapi, kuminta kamu mengerti dengan keadaanku. Aku sedang pusing. Aku lagi punya banyak tugas dari dosen!”
Begitukah? Kini rasa sayangnya ke mana? Hanya sebatas itukah? Tugasnya yang menumpuk sudah membuatnya lupa padaku? Dan kini dia minta aku mengerti?
Ke mana hati pekanya pergi? Sudah tidak adakah empatinya untukku? Lantas sampai kapan dia akan mengerti kalau aku membutuhkannya? Merindukan dirinya yang dulu? Masihkah dia mencintaiku? Sungguhkah masih ada rasa untukku?
Tangisku meledak, aku semakin tersedu-sedan. Aku menarik nafas dalam-dalam, ku tata emosiku…
“Tidak bisakah kamu kembali seperti dulu lagi?”
“Tidak.”
Hikz…
“Kamu marah kalau aku selingkuh?”, tanyanya.
“Iya. Setidaknya putuskan aku dulu.”, aku menjawabnya tenang.
“Kenapa? Kamu ada niat?”, tanyaku balik.
“Belum.”
“Berarti sudah ada rencana?”
“Tidak tahu.”
“Ada yang lebih baik dariku ya?”
“Tidak. Tidak ada yang lebih baik dirimu.”
“Lantas?”
“Aku minta kamu sabar menungguku ya? Yang jelas, suatu saat aku akan kembali padamu!”
“Aku tidak bisa lepas darimu. Sudah banyak yang terlewati. Aku sayang padamu. Sangat!”, tangisku meledak.
“Kapan kau akan mempebolehkanku ke rumah?”
Karena itukah? Apakah dia jenuh dengan keadaan ini, backstreet? Apakah dia menemukan sosok lain yang bisa memberikan apa yang tak bisa aku lakukan? Membawanya ke rumah dan memperkenalkannya dengan keluarga. Ku pikir aku sudah siap.
“Kalau kamu mau kapan saja bisa.”
Dia terdiam. Entahlah, mungkin dia sedang memikirkan sesuatu.
“Indah?”, ughh, perih…
“Ya?”
“Kamu tau? Terkadang laki-laki itu egois. Dia tidak mau melepas seseorang karena dia takut menyesal akan keputusannya. Kamu mengerti ‘kan?”
Jadi, seperti itu. Satu minggu terakhir ini, dia memendam hasratnya. Hasratnya untuk segera terlepas dariku. Kali ini seakan ada sebilah pedang yang menebas hatiku, membuat benakku menjerit. Sangat perih.
“Jadi, kau mau putus? Kenapa tak kau ungkapkan saja dari dulu? Karena kasihankah dirimu sehingga kamu menyembunyikan rasamu sesungguhnya dariku?”, tangisku menjadi-jadi… sulit sekali ku terima kenyataan ini.
“Aku tidak ingin kamu sakit karenaku…”
“Aku tidak sakit sayang. Walaupun aku sakit, ini bukanlah karenamu. Ini sudah merupakan konsekuensi yang harus saya hadapi. Ini semua karena aku ingin pertahankan hubungan kita. Dari sinilah Allah akan melihat keseriusanku. Dia akan membuat rasamu pulih kembali terhadapku. Dan ku minta dirimu, bersabarlah. Kenapa tak jalani saja?”, ku putar semua waktu yang kulalui bersamanya. Oh Tuhan, aku tak sanggup tanpanya.
“Aku hanya tidak ingin kamu sakit Indah. Kamu juga akan sanggup kok tanpaku…”
“Tidak sayang. Aku tidak sanggup!”, suaraku bergetar.
“Sudahlah Indah. Lebih baik kamu tersakiti sampai sini. Daripada rasa sakitmu harus berlarut-larut lagi!”
“Sudah ku bilang ini adalah konsekuensi yang harus saya hadapi. Kau tak usah pusing memikirkan rasa sakitku. Aku ingin mempertahankan hubungan kita. Dan kita akan menikah. Seperti yang kamu bilang dulu.”, ku kenang semua percakapan kami dulu. Mimpi-mimpi indah yang selalu kami bicarakan. Tapi kini? Akankah ini merupakan akhir? Ke mana semua janji-janjinya? Bahwa dia tidak akan meninggalkanku. Cuma sebatas detik inikah omongannya? Ku tepis sesal, oh Rabb…
Kami terdiam. Yang terdengar hanya suara isakanku. Sesekali ku menarik nafas dalam-dalam. Aku tak sanggup bicara. Emosi menguasaiku. Aku di puncak tangis. Tenggorokanku mulai sakit akibat menahan emosi yang meluap-luap.
“Aku akan menunggumu sayang.”, suaraku melemah. Aku lelah. Emosi menguras tenagaku.
“Tidak lagi seperti dulu Indah!”
“Aku tau. Tapi, aku akan menunggumu. Kapanpun kau mau kembali padaku. Hatiku selalu terbuka untukmu.”, aku meyakinkannya. Oh Rabb, harus seperti inikah?
Suasana hening kembali…
“Sudahlah. Jangan menangis lagi!”
Aku masih sesekali sesenggukan.
“Assalamu Alaikum…”, dia mengucap salam.
Tut…tut…tut… Percakapan itu terputus.
“Wa alaikum salam…”, kataku lirih. Ku letakkan Handphone-ku… Memutar musik, dan tenggelam dalam iringannya yang mendayu-dayu.
Sakit.

Sabtu, 19 juni 2010
Menjelang siang.

Ku aktifkan kembali handphone-ku. Ada SMS. Huft, darinya. Aku sudah malas.
Ku buka.
“Maaf sebelumnya. Tapi, sungguh aku sudah tak sanggup seperti ini.”
Aku merasa direndahkan setelah membaca SMS darinya. Seakan aku memaksanya untuk terus melanjutkan hubungan ini. Mungkin memang. Apalagi kemarin aku terdengar menyedihkan. Seketika, logikaku bermain. Tak lagi membiarkan hatiku berbicara atas nama cinta. Seolah-olah cinta yang masih meluap-luap kemarin itu sudah menjadi kenangan yang telah terkubur berabad tahun lamanya.
Memang masih sakit. Tapi, bukan lagi karena jiwa yang telah dipisahkan oleh raga kekasih. Bukan. Tapi kali ini, sakit itu bercampur amarah yang mengepulkan dendam. Rasa ingin menunjukkan pada dirinya bahwa aku baik-baik saja tanpanya. Bahwa dia tidak pantas untuk aku pinta cintanya.
Ku rangkai kata yang mungkin pantas untuknya.
“Kenapa lagi sih? Aku sudah malas membahas ini terus. Jalani saja! Anggap aku tak ada! Gampang ‘kan?”
Sejurus kemudian, handphone-ku kembali bergetar.
“Okelah kalau begitu.”
Rasa jengkel makin menjejal dalam benakku. Namun, tak akan kubiarkan dia merusak hariku.

Minggu, 20 juni 2010
Siang hari.

Kahlil Gibran. Buku yang aku cari sedari tadi tidak ku temukan. Aku meliriknya, sekali lagi memastikan kalau ini bukan mimpi. “IRC”, inisial itulah yang selama ini aku gunakan untuknya. Mungkin aneh, apalagi inisial itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan nama aslinya. Tapi, inisial itu mempunyai sejarah tersendiri dan hanya sedikit orang yang tau tentangnya. “IRC”, orang yang ku kagumi saat kelas II SMA. Tapi, hanya sebatas kagum. Tak pernah terbersit rasa untuk memilikinya. Bahkan sedikit saja tidak pernah.
Akhirnya, setelah lama keakrabanku hanya diciptakan dari komunikasi sekedarnya lewat SMS dan sekali-kali menelpon. Tapi kini, sosoknya ada di depanku. Seperti mimpi. Orang yang kukagumi sejak dulu itu akhirnya ada bersamaku sekarang. Walaupun mungkin suasananya tidak sehangat yang aku impikan. Bagaimana tidak? Ini kali pertama kami ketemu! Wajar, perasaan canggung masih menyelimuti atmosfer di sekeliling kami. Aku malu mendekatinya. Dia juga seperti sedang sibuk, daritadi berkutat terus sama handphone-nya. Buat ku suntuk bersamanya. Biasalah, kalau lagi suntuk pasti mulut manyun. Hehehe, terpaksa tak ku pedulikan lagi untuk memberi kesan pertama yang indah terhadapnya. Kalau dia juga seperti itu, kan juga jadi malas bawaannya. Kita sama-sama enggan. Pertemuan pertama. Huft… bahagia rasanya.
Tiba-tiba ku merasakan getar handphone-ku di saku kanan jeansku. Ku lihat, ada telpon darinya. “Umm. .”, itu nama kontaknya di handphone-ku. Mantan kekasihku itu. Bingung harus menganggapnya seperti apa!
Aku mengangkat. Malas.
“Assalamu Alaikum.”
“Wa Alaikum Salam. “
“Iya. Kenapa?”, aku tak acuh.
“Sudah selesai ‘kan?”
“Iya. Sudah kamu ubah status hubunganmu di facebook?”
“Iya.”
“Oh, ya udah.”
“Lagi di mana?”
“Lagi d Mtos.”, Mtos, Makassar town square.
“Bikin apa?”
“Cari buku.”
“Sama siapa?”
Aku meliriknya.
“Sama teman.”
“Oke, sudah dulu ya! Assalamu alaikum!”
“Wa alaikum salam.”
Sebel, jengkel, aku muak padanya. Bete’. Merusak hari saja.

Selasa, 06 juli 2010
Siang hari.

Duh, panas menyengat tubuhku. Baru kemarin aku sampai di kampung. Dan sekarang harus urus ijazah. Menunggu ternyata tidaklah terlalu menyebalkan kalau ditemani sama teman-teman yang sudah lama tidak bersua. Kangen!
Aku tengah berbincang-bincang bersama temanku. Berbagi tentang rencana masa depan masing-masing. Sebelum kemudian ada telpon darinya. Fiuyh, apa lagi sih perlunya?
“Halo… Assalamu alaikum.”
“Wa alaikum salam.”
“Kenapa?”, aku mencoba bersemangat. Ku pikir, kini kami teman. Mencoba bersahabat saja.
“Kamu di mana?”, setiap nelpon pertanyaannya sama saja.
“Aku di sekolah. Urus ijazah.”, kataku.
“Tadi aku lewat depan sekolahmu!”
“Nah loh? Kapan pulangnya?”, sontak aku dibuat terkejut olehnya. Tidak pernah ada kabar darinya, tau-tau sudah pulang juga. Hehe.. sudah bisa keprediksi nih. Pasti nanti mau ke sini.
“Waktu hari minggu.”
“Oh, kenapa gak ngasih kabar kalau pulang?”, aku mencoba basa-basi.
“Oh, gak sempat. Maaf.”
“Gak usah minta maaf kali…”, huek.
“Kamu di mana?”
“Loh, kan tadi aku sudah bilang. Aku di sekolah.”
“Ya, aku tau. Tapi, di mana?”
“Oh, di tempat parkiran motor.”, makin dekat ke prediksi. Hehe^^
“Masih lama?”, pasti di kalimat berikutnya.
“Yaa, kayaknya!”
“Kalau begitu aku ke situ ya?!”, hahaha. Menang.
“Yah, silahkan.”, nada bicaraku biasa. Sedikit meremehkan. Ada nada kemenangan. Hahaha :D
Aku menunggu. Sesekali melirik jalan depan sekolah. Aku menangkap sosoknya. Jaket merah, motor Honda. Nah, itu dia.
Aku pamit sama teman-temanku.
“Aku ke sana dulu ya?”
Aku berjalan menghampirinya. Ku tepis getir. Tak ku sangka bertemu dengannya lagi, di suasana berbeda. Setelah dulu masih saling berpandang sayang. Dan kini tidak lagi.
“Hai.”, aku menyapanya. Dia teman ‘kan?
“Duh di sini panas. Di sana aja ya?”, duh.. bikin repot aja ini orang.
Aku menyusulnya ke tempat yang dia tuju.
“Masih lama? Pergi makan yuk?”, maksudnya apa nih?
“Tidak ah. Aku punya sesuatu yang mesti saya urus.”
“Oh, belum selesai urus ijazah ya?”
“Sudah.”, sembari menunjukkan ijazahku dengan bangga. Tiga tahun kuupayakan susah payah. Mengukir prestasi yang cukup bisa dibanggakan oleh orang tuaku.
“Trus?”
“Ya, lagi menemani temanku tunggu copy-an ijazahnya selesai disahkan.”
“Oh.”
Dia menatapku. Meski dia belum melepas helmnya, tapi aku tau kalau dia sedang menatapku. Menikmati keindahan wajah yang dia rindukan. Bukannya geer, tapi aku tau dia pasti merindukanku. Walaupun kini aku hanyalah seorang mantan.
“Jangan menatapku seperti itu! Malu tau.”, tak dapat ku elak. Wajahku bersemu merah.
“Kenapa tidak melepas helmmu?”, tanyaku.
“Oh, ada luka di wajahku.”
“Loh kok bisa?”, ada nada prihatin. Tapi, sebatas teman.
“Jatuh dari motor.”
“Situ sih yang nggak hati-hati.”
Aku menatap ke arahnya. Hanya untuk bercermin di helmnya. Aku merasa tidak nyaman sama tataan jilbabku. Berantakan. Tak lama, dia mengisyaratkan padaku untuk bercermin di kaca spion motornya. Hehehe, jadi malu. Ku ikuti sarannya. Dan dia mengelus kepalaku. Aku merasa keberatan.
“Singkirkan tanganmu!”, aku mengelak darinya.
“Sudah tidak seperti dulu!”, aku hanya mencoba mengingatkan.
Dia diam. Tidak berkomentar. Dan kemudian membuka helmnya.
Yang pertama ku lihat adalah senyumannya. Teringat kembali. Ada getaran halus yang menyapa jiwa. Senyum yang bersahabat itu tidak lagi aku miliki sekarang. Sedikit disayangkan. Ku perhatikan wajahnya. Loh? Tidak ada luka!
“Mana luka di wajahmu?”, tanyaku heran.
“Tidak ada.”, jawabnya masih tersenyum.
“Dasar pembohong!”
“Yah, memang aku tukang bohong ‘kan?”, ada nada sinis.
“Indah!”, aku berpaling. Terdengar seruan dari tempat parkir. Temanku itu mengisyaratkan padaku untuk segera menghampirinya.
“Nih, ku titip dulu ijazahku! Hati-hati loh! Itu masa depanku!”
“Bukannya aku yang masa depanmu?”
“Kamu? Masa depan?”, aku tertawa kacil.
“Bukannya kamu hanya masa lalu?”, aku meninggalkannya. Kata-kataku itu belum cukup untuk membalas perbuatannya. Dia mungkin masih berharap padaku. Semoga saja. Agar memberiku banyak kesempatan untuk membuatnya sakit.

Rabu, 07 juli 2010
Siang hari.

“Masih ada kosong ‘kan?”, aku bertanya pada operator di warnet itu. Dia hanya mengisyaratkan padaku untuk masuk mengambil tempat yang nyaman bagiku. Ku lihat. Kosong. Jadi berpikir, kalau pertanyaan yang kulontarkan tadi adalah pertanyaan yang bodoh.
Di warnet ini hanya tersedia 3 tempat, berjejer berurutan di sebelah kanan. Ruangannya memang sempit dan tidak semewah warnet lainnya. Tapi, masih mending karena dilengkapi dengan fasilitas AC. Aku memilih tempat yang di tengah, nomor dua. Setiap tempat diberikan nomor yang diurutkan, agar memudahkan bagi pelanggan untuk mendeskripsikan tempat yang baru saja ia pakai.
Di warnet itu tidak menggunakan seperangkat komputer beserta printer seperti kebanyakan warnet lain. Tapi, cuma menggunakan sebuah laptop yang dalam keadaan off. Dan kita sendiri yang menyalakannya. Aku pun melakukan hal yang sama. Dan tidak lama muncul sebuah kotak yang mengharuskan kita menuliskan sebuah nama, apa saja, dan enter.
Ku buka aplikasi Mozilla firefox, ku ketik facebook.com dan enter. Muncullah layar selamat datang facebook di sana. ku ketik alamat emailku beserta passwordnya. Ku klik login, dan tidak lama muncullah layar berandaku di sana.
Aku melirik sudut kiri atas. Sudut di mana kita bisa melihat informasi tentang banyaknya permintaan teman, pemberitahuan kalau-kalau ada teman yang memberi komentar pada status, dan pesan masuk.
Aku melirik pesan masukku terlebih dulu, ada 5 pesan. Ku buka, kebanyakan adalah pesan tidak penting dari sebuah group di mana aku terdaftar sebagai salah satu anggotanya. Tanpa membacanya, ku klik tanda ‘sudah dibaca’ yang ada di sebelah kiri masing-masing pesan. Jadi, tanpa perlu buang-buang waktu membacanya informasi tentang pesan masuk itu tak akan muncul saat aku membuka facebook di kemudian hari.
Ku cek lagi, ternyata ada pesan darinya. Ku buka. Sontak aku dibuat terkejut oleh apa yang tertulis di pesan itu. “Aku tidak bisa berhenti menyayangimu.”.
Aku masih bingung di buatnya. Namun, perlahan senyum di bibirku merekah. Bukan senyum karena senang dengan keadaan bahwa dia masih sayang padaku. Tapi, senyum ini adalah senyum yang penuh arti kemenangan.
Ku klik ‘reply’, dan ku tulis.
“lalu kenapa dulu kamu ngotot sekali untuk putus?”, Ku klik ‘send’. Semoga dengan ku kirim pesan ini. Dia tau kesalahannya!

Senin, 19 juli 2010
Malam hari.

“Aku pergi untuk membuatmu bebas memilih yang lebih baik. Aku melakukan ini karena tak ingin melihatmu terdzalimi dan tersakiti karenaku.. Aku hanya berharap kalau memang hatimu sungguh mendamba dan mencinta, cinta itu akan terus bertahan tanpa ada yang lain. Sampai akhir.”, aku dibuat heran ketika membaca SMS darinya itu. “Umm. .”, apa maksudnya orang itu? Apa dia menyinggung diriku? Benarkah? Ku tepis keraguanku dengan membalas SMSnya.
“Yang kamu maksud adalah aku atau kamu hanya iseng menyusun kalimat itu?”, ku klik ‘send’.
Tak harus menunggu terlalu lama. SMSnya datang.
“Artikan saja!”, kata-katanya itu sudah jelas. Yang dia maksud memang adalah diriku. Dia pikir semudah itukah? Atau haruskah aku memang bertahan dengan keadaan cinta yang seperti sekarang? Aku berpikir keras. Ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk diambil jalan tengahnya. Aku sempat berpikir untuk menunggunya. Tapi ah tidak. Di mana harga diriku sebagai seorang wanita? Haruskah aku menunggu seseorang yang sudah jelas bahwa dia tidak pantas untukku? Berani-beraninya dia memintaku menunggu sosok sepertinya sedangkan aku tidak tau apa yang sudah dia lakukan di belahan bumi sana? Apakah betul dia menjaga cintanya dengan setia? Lagipula cintaku untuknya sudah pupus. Walaupun dipaksakan sudah tidak akan seperti dulu lagi!
Aku berpikir sejenak. Kata-kata apa yang sebaiknya aku sampaikan padanya! Fiuyh..
Ku klik ‘reply’.
“Akan ku lakukan yang seperti kamu lakukan.”, ku klik ‘send’.
Aku sudah tak ingin dirinya lagi.

Senin, 26 juli 2010
Malam hari.

Ku salin apa yang baru saja ku jadikan status di facebookku, di kotak new massage di handphone-ku. Aku bermaksud mengirimkan kalimat itu padanya.
“Ketika jauh di dalam rasa, telah tertoreh oleh sepi.. adakah lagi rasa itu memiliki daya ‘tuk bertahan? Dan ketika kau sembunyikan sosok bejatmu, meminta raga ini menunggu dalam kesendirian, adakah mungkin itu terjadi? Setelah sebagian hatinya tergenang tangis?”, ku klik ‘send’.
Aku tak perlu balasannya. Aku hanya ingin ia tau.