Jumat, 29 Juni 2012

Bulan Senja

Aku lalu mendengar seruan,
"Sayang, bulan malam ini cantik."
Aku spontan mendongak.
Ah, luka..
...
Teringat kembali pada tangis.
Teringat kembali pada bulan senja.
Di batas biru.
Bulan tenggelam di ufuk barat.

Di layar putih,
Aku memainkan kerang pada pasir.
Sebuah serpihan memori,
Sebuah nama,
Sebuah lukisan wajah.

Ah, Luka.
Andai menghilangkanmu semudah ombak yang menepi.
Tapi, hingga matahari senja berpamit,
Sebuah nama,
Sebuah luksian wajah,
Masih menjadi serpihan memori.

Ah, Luka.
Andai masamu hanya selama senja.
Aku mungkin baik-baik saja,
Saat menatap bulan.

Sabtu, 23 Juni 2012

Memeluk Bintang

Bahkan jika hari sudah pagi.
Aku masih saja bermimpi,
Mimpi menyentuh matahari.

Bahkan jika hari sudah petang.
Aku masih saja bermimpi,
Mimpi mencuri bulan.

Bahkan ketika aku tahu sedang bermimpi,
Aku masih enggan terbangun,
Karena sedang memeluk bintang.

Barulah setelah aku tahu wanita itu adalah diriku.
Barulah aku berani memandangnya.

Ah, bahkan dalam mimpi aku masih saja tertidur.
Karena jika saja ucapannya benar,
Satu mimpiku jadi nyata.

Jumat, 22 Juni 2012

Matahariku di Ambang Pintu

Apa yang dia lakukan di ambang pintu?
Saat dia memunggungiku,
Kupikir dia akan segera meninggalkanku,
Tapi dia hanya berdiri di ambang pintu.
Sedang aku masih tertunduk membaca buku.
Berpura-pura masih membaca.
Menolak mendongak dan hanya menatap punggungnya.

Tapi dia hanya berdiri di ambang pintu.
Mungkin saja sedang memperhatikanku.
Ah, aku masih saja suka tertidur.
Tapi, ternyata hari sudah pagi.

Aku semakin suka bermimpi,
Semakin suka duduk mematung,
Sampai tertidur pun di sini.

Aku semakin sering bermimpi,
Semakin sering berpikir tidak masuk akal,
Sampai aku berpura-pura tidak mengenal diriku.

Karena segala hal tentangnya adalah halusinasi.
Berharap adalah hal gila.
Atau pun bermimpi tentangnya.

Karena dia bagiku adalah matahari.
Aku bisa saja mencintainya.
Tapi menggapainya adalah hal yang sama dengan menjadi Tuhan.

Senin, 18 Juni 2012

Pasangan Dongeng

Meski sedang terlelap.
Tapi ingin rasanya ku senandungkan lagu.
Lagu yang kerap kali ku dengar di dekapnya.

Seperti sebuah sandiwara..
Seperti sebuah rahasia..
Dan lalu dalam diam..
Tanpa bergeming
Bersenandung lagu dalam hati.

Seperti sebuah sandiwara..
Seperti tidak terjadi apa-apa..
Aku lalu berlalu,
Seperti ingin berpamit, tapi dalam bayangku saja.
Aku lalu teguh melangkah,
Seperti ingin menoleh karena seruannya,
Tapi itu hanya harapku saja.

Seperti tidak terjadi apa-apa..
Seperti sebuah lelucon..
Kami hanyalah pasangan dalam dongeng.

Sabtu, 16 Juni 2012

Berebut Rindu

Bukankah ini lebih baik?
Saling mencuri kesempatan di antara kata yang menuntut perhatian.
Seolah berebut rindu.

Lihat aku!
Lihat aku saja!
Acuhkan saja kesibukan mereka.
Biar kita saling merebut rindu saja.
Diam-diam..
Di antara kata yang menuntut perhatian.

Ah, tapi kau mulai acuhkanku.
Sementara aku masih punya banyak rindu di sini.
Kenapa tak biarkan aku bahagia saja?

Aku telah membuka jalan,
Seperti jejak semut yang beriring.
Aku telah pecahkan selaksa cinta.
Sekali saja kau lihat.
Cinta yang kau ragukan kemarin.

Jumat, 15 Juni 2012

Melodi, Simfoni

Tuliskan aku sebuah puisi yang tak pernah tersampaikan
Meski dua hati telah saling terpaut dalam diam
...
Kau menjinakkan tanya untuk mengerti
Sementara aku menjinakkan lelahku untuk terlelap
Tak ada yang saling tau
Hanya sayup melodi yang satukan dimensi kita

Aku menyerah dan bergegas pamit
Lalu kau bersuara, mencari alasan untuk menghentikanku
Kita sama-sama memaklumi...

Lalu terdiam,
Memberi jalan pada melodi...

Lalu diam-diam,
Aku memainkan sebuah simfoni yang tak pernah tersampaikan.