Rabu, 11 Oktober 2017

Jam Tiga Sore


Suara rerintikan hujan yang jatuh menampar kaca jendela terdengar semakin keras. Gelegar guntur sesekali menyela. Aku mendesah sebal melihat sepatu hingga ujung celanaku yang basah ketika berlarian menuju ke tempat ini. Kuaduk es cokelat yang tadi kupesan yang memang menjadi tujuanku ke sini, saat orang lain memesan minuman atau makanan hangat untuk menghangatkan badan mereka di musim yang sedang dingin-dinginnya. Yap, canduku terhadap es cokelat memang tak kenal musim, seperti canduku padamu yang tak peduli pada perih.

Abaikan es cokelat, tentangnya yang menjadi tujuanku ke sini adalah hal yang berlebihan apalagi jika aku harus rela basah karenanya. Sebenarnya yang paling kusuka dari tempat ini adalah momen saat jam tiga sore, aku selalu memastikan tiba sebelum itu agar tidak melewatkan momen yang selalu kutunggu setiap minggu. Karena pada waktu itu, perempuan yang selalu kukagumi sejak setahun yang lalu datang. Seperti menemukan rumah, hatiku tertambat padanya sejak pertama kali bertemu di sini. Kupikir, Tuhan mengabulkan doaku saat aku mencoba  datang di tempat ini pada hari dan jam yang sama untuk ketujuh kalinya agar bisa bertemu dia. Kudengar dentingan pintu kafe terbuka, itu dia. Seperti biasa, dia cantik.

Dia merapikan payung di rak payung yang sudah disediakan kafe di musim hujan seperti ini. Dia lalu berjalan ke tempat dekat jendela, tak sengaja pandangan kami bertemu, dia lalu segera menunduk karena malu, aku segera mengalihkan pandangan ke es cokelatku yang ku abaikan dari tadi. Mungkin dia akan menulis lagi sambil memandangi hujan seolah kagum. Kurogoh tasku yang kuletakkan di kursi sebelahku. Memastikan keberadaan sebuah kotak kecil merah yang kupersiapkan sejak sebulan yang lalu. Kugenggam erat.
“Aku akan menghampirinya hari ini.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar