Suara rerintikan hujan yang jatuh menampar kaca
jendela terdengar semakin keras. Gelegar guntur sesekali menyela. Aku mendesah
sebal melihat sepatu hingga ujung celanaku yang basah ketika berlarian menuju
ke tempat ini. Kuaduk es cokelat yang tadi kupesan yang memang menjadi tujuanku
ke sini, saat orang lain memesan minuman atau makanan hangat untuk
menghangatkan badan mereka di musim yang sedang dingin-dinginnya. Yap, canduku
terhadap es cokelat memang tak kenal musim, seperti canduku padamu yang tak
peduli pada perih.
Abaikan es cokelat, tentangnya yang menjadi
tujuanku ke sini adalah hal yang berlebihan apalagi jika aku harus rela basah
karenanya. Sebenarnya yang paling kusuka dari tempat ini adalah momen saat jam
tiga sore, aku selalu memastikan tiba sebelum itu agar tidak melewatkan momen
yang selalu kutunggu setiap minggu. Karena pada waktu itu, perempuan yang
selalu kukagumi sejak setahun yang lalu datang. Seperti menemukan rumah, hatiku
tertambat padanya sejak pertama kali bertemu di sini. Kupikir, Tuhan
mengabulkan doaku saat aku mencoba datang di tempat ini pada hari dan jam
yang sama untuk ketujuh kalinya agar bisa bertemu dia. Kudengar dentingan pintu
kafe terbuka, itu dia. Seperti biasa, dia cantik.
Dia merapikan payung di rak payung yang sudah
disediakan kafe di musim hujan seperti ini. Dia lalu berjalan ke tempat dekat
jendela, tak sengaja pandangan kami bertemu, dia lalu segera menunduk karena
malu, aku segera mengalihkan pandangan ke es cokelatku yang ku abaikan dari
tadi. Mungkin dia akan menulis lagi sambil memandangi hujan seolah kagum.
Kurogoh tasku yang kuletakkan di kursi sebelahku. Memastikan keberadaan sebuah
kotak kecil merah yang kupersiapkan sejak sebulan yang lalu. Kugenggam erat.
“Aku akan menghampirinya hari ini.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar