Aku akan mulai ceritaku dengan kata “suatu hari”...
Suatu hari, aku sangat mengagumi seorang laki-laki, senior
yang lebih tua setahun itu pertama kali ku lihat saat dia bermain basket di
lapangan. Awalnya aku hanya mengenal sepatu dengan logo berwarna merahnya, dan
akhirnya aku mencari tahu tentang dirinya, tulisan tangannya, meja tempat dia
duduk di kelas, teman-temannya, pada akhirnya aku mengutus seorang teman untuk
mencari tahu namanya. Saat itu dia hendak membeli sebuah buku gambar di
koperasi, karena terlalu malu melakukannya sendiri, akhirnya aku meminta tolong
temanku untuk mencari tahu namanya. Dengan berkedok ingin membeli sesuatu di
koperasi, dia mendekat dan melihat papan namanya. Saat itu dengan hanya
bermodal sebuah nama seperti semua kesempatan untuk bersamanya terbuka lebar,
setidaknya dia menyadari keberadaanku pun sudah cukup.
Singkat cerita, kesempatan
itu benar terbuka dan hubungan kami berjalan lancar, tapi tidak seperti yang
kalian pikirkan, kami tidak pacaran, kami menikmati hubungan kami seperti ini,
saling mendukung satu sama lain sudah cukup. Tapi karena perbedaan tingkat
kami, setelah upacara kelulusan, aku dan dia tidak lagi sering bertemu seperti
dulu meskipun tidak pernah satu hari pun kami melewatkan telpon, SMS atau
saling menyampaikan salam lewat lagu yang direquest di stasiun radio kesayangan,
sampai tiba saatnya dia tiba-tiba menghilang. SMS ku tidak dibalas, telponku
tidak dijawab, berkali-kali, aku dibuat frustasi olehnya, lagu-lagu sendu yang
mengalun dari radio di kamarku semakin terdengar menyedihkan membuat udara di
sekitarku malah menyesakkan untuk dihirup.
“Tidak bisa begini.” Pikirku.
Aku bukannya tidak peka, atau pura-pura tidak tahu, atau
bersikap bodoh berharap ini hanya sehari, dua hari, atau hanya sementara, atau
mungkin dia sedang sibuk saja. Aku juga cukup pintar kok untuk sadar kalau dia
sedang menjauh saat itu. Hanya saja, menebak-nebak seperti ini bukankah sangat
melelahkan? Bukankah karena dia juga pernah senang menghabiskan waktu
bersamaku, setidaknya dia tidak bersikap seperti pengecut yang tiba-tiba
menjauh karena tidak sanggup menghadapiku saat ingin mengatakan yang
sebenarnya? Bukankah lebih baik jika dia mengatakannya langsung? Bukankah itu
hal yang sepatutnya dilakukan?
Apakah menurutnya dengan membuat masalah seperti ini, aku
akan marah dan malah menjauh sesuai dengan yang dia inginkan? Bukankah akan
selalu ada akibat karena sebab yang telah diperbuat? Aku tidak akan membuatnya
lolos semudah itu, meskipun akan menyakitkan juga untukku.
Pada akhirnya aku menghubungi temannya bertanya ada apa, aku
meminta tolong untuk menghubungkanku dengannya, dan akhirnya dia berbicara
denganku, tentu saja dalam keadaan terpojokkan. Meskipun aku berbuat sampai
sejauh ini hanya untuk memastikan hubungan kami benar berakhir, tidak masalah. Meskipun
aku akan menangis seharian hari ini, setidaknya aku tau apa yang membuatku
menangis, setidaknya aku tidak perlu menjalani hari esok dengan bermain
tebak-tebakan lagi.
Yang ingin aku sampaikan untuk kamu yang sudah sangat
lelah... Kamu tidak bisa bersikap brengs*k seperti itu, lalu berharap aku akan
mengerti dan meninggalkanmu dengan duniamu tanpa bertanya ada apa. Melihatmu menjauh
saja sudah sangat sakit, tidak perlu memperburuk rasa sakit itu. Jadi... Jika kau
memang sangat ingin pergi, datanglah kemari dan langsung katakan tepat di
depanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar