Rabu, 18 Oktober 2017

Kita Berdua Saat Senja


Aku terduduk diam selama 10 menit, menatap jam di handphone-ku yang baru saja berubah menjadi 3.35 pm, mendengar lantunan musik dari salah satu aplikasi yang kuunduh di handphone-ku sejak setahun yang lalu. Aku tak tau judul lagu ini apa, dan penyanyinya siapa, meskipun begitu aku menikmatinya. Seperti aku yang selalu mencintaimu sejak tiga tahun yang lalu, meskipun aku belum mengetahui namamu saat itu.

Lagu selanjutnya yang kudengar melalui earphone yang terhubung ke handphone-ku adalah lagu yang sering kau dengar. Aku tau karena aku telah mengikutimu sejak tiga tahun yang lalu, semua akun sosial mediamu, aku tau teman-temanmu dan sahabat baikmu bahkan kekasihmu, postingan yang kau buat, lagu yang kau dengar, tempat yang sering kau kunjungi, kafe ini pun salah satunya, dan es coklat yang sekarang kupesan adalah minuman kesukaanmu. Aku tau semua tentangmu, meski kau sama sekali tidak mengenalku.

Di luar sedang hujan, cuaca yang pas untuk mengenangmu. Karena saat hujan adalah pertama kali kita berjumpa. Kamu mungkin tak ingat, waktu itu sedang hujan, dan jalan penuh dengan genangan air, aku bahkan tak punya payung saat itu dan tengah berjalan terburu-buru di pinggir jalan. Jalanan sepi, hanya beberapa orang yang lalu-lalang dengan payung. Beberapa kendaraan lalu-lalang dengan laju yang agak cepat, beberapa kali pula aku mencoba menghindar dari percikan yang dibuatnya saat menggilas jalan yang bergenangan air. Tiba-tiba ada sebuah mobil yang berlalu dengan laju yang sangat cepat, percikan air yang dibuatnya cukup besar dan cukup membuatku basah sekujur tubuh jika mengenaiku, tetapi tepat sebelum itu, kamu menutupi badanku dan percikan air itu malah mengenaimu, membuat bagian belakang tubuhmu basah karenanya. Kamu dengan wajah yang seolah setengah menyesal melindungiku menoleh ke arah mobil yang sosoknya sudah hampir menghilang, hendak menyumpah tapi tak jadi, menoleh padaku dan memberikan payung yang sedang kamu pakai. Aku bermaksud menolak, tapi kamu tetap bersikeras.

“Pakai saja. Aku sudah terlanjur basah. Lagipula rumahku sudah dekat dari sini.” Katamu meyakinkanku. Belum kuiyakan. Kau pergi berlalu, ke arah yang bertolak belakang denganku, aku bersyukur saja dan menerima payung yang kau berikan. Kupikir kau mungkin saja hanya kebetulan lewat. Aku juga tak mengenal siapa dirimu saat itu dan perasaanku padamu waktu itu hanyalah rasa berterimakasih. Tak lebih. Beberapa hari sejak saat itu, aku baru tahu kalau ternyata tempat kerja kita berdekatan, aku sering menemukanmu bersama teman-temanmu makan siang di restoran dekat kantor. Entah sejak kapan aku mulai menatapmu dengan cara yang berbeda, mungkin dimulai dari kagum, lalu entah bagaimana jalannya, aku jatuh cinta.

Jangan tanya bagaimana caraku mencintaimu, aku bahkan tak punya nyali mendekatimu, mengucapkan terimakasih, atau mengembalikan payung yang sudah kau berikan padaku waktu itu. Sejak aku tahu namamu, aku hanya bisa mengamatimu dari jauh, mengambil diam-diam fotomu dengan menggunakan lensa tele. Aku suka fotografi dan aku memotret semua tempat yang kamu kunjungi sejak setelah aku mengenalmu. Iya, aku mengikutimu ke mana pun kau pergi kecuali saat kau pergi bersama kekasihmu. Jangan tanya kenapa, tentu saja karena aku cemburu.

Aku menyeruput es green tea yang kupesan untuk diriku. Iya, aku suka meminum es green tea dan kupesan juga es coklat kesukaanmu meskipun tak akan ada yang meminumnya. Aku melirik meja sebelahku, kulihat seorang lelaki sedang menyodorkan sebuah kotak kecil kepada perempuan yang sedang duduk di depannya, kotak kecil itu dibukanya, nampak sebuah cincin putih yang sangat cantik. Aku jadi ingat momen saat kamu melamar kekasihmu di kafe ini, aku tak bermaksud mengikutimu hari itu, murni adalah kebetulan, dan sialnya aku harus melihat momen berbahagiamu bersama orang lain, hari itu aku pulang ke rumah dan menangis semalaman sampai harus ijin tak masuk kerja keesokan harinya. Saat itu hatiku patah, aku kepayahan membujuk hatiku untuk turut berbahagia untukmu dan kekasihmu, maafkan aku jika harus mengutuk kebahagiaan kalian berdua, maafkan aku.

Percayalah. Saat itu aku bertekad untuk berhenti mencintaimu, berhenti mengikutimu, kuhapus semua akun sosial mediaku, tapi tidak dengan foto-fotomu yang aman kusimpan dalam harddisk-ku yang kemudian kusimpan dalam sebuah kotak dan tak lagi bermaksud untuk membukanya. Aku berusaha membiasakan diri tanpa harus membuntutimu di dunia maya ataupun nyata. Takut jika aku akan mengutukmu lagi ketika kau bahagia bukan denganku.

Suatu hari aku mendengar kabarmu dari temanku. Aku tak tahu kalau ternyata salah satu dari temanku mengenalmu. Tapi kabar yang kudengar itu bukanlah kabar baik. Sejak mendengar kabar tentangmu dari temanku, aku mengundurkan diri dari pekerjaanku, juga menghentikan sewa rumah kontrakanku. Aku pergi jauh dari tempat yang bisa mengingatkanku padamu, mencoba lupa tentangmu. Setahun berlalu, aku gagal. Kotak yang kupakai untuk menyimpan harddisk berisi fotomu kembali kubuka. Aku melihat foto-fotomu dalam harddisk-ku, semua tempat yang kamu kunjungi, bersama teman-temanmu, atau saat kau sendiri, tidak ada foto dirimu bersama kekasihmu. Aku menangis. Setahun kuajari hatiku untuk lupa padamu tapi gagal. Aku lalu memutuskan kembali, mengunjungi semua tempat di foto-foto itu.

Enam bulan berlalu, kuputuskan hari ini adalah hari yang terakhir, kafe ini pun menjadi tempat yang terakhir. Segera kuambil tisu untuk menghapus air mataku yang baru saja menetes. Beranjak dari tempat dudukku dan membayar minuman yang kupesan di kasir. Setelah ini, aku akan menemuimu lagi, menjadikan pertemuan kita hari ini adalah yang terakhir.

Meski sudah beberapa kali aku datang menemuimu, berkali-kali juga aku masih tak percaya. Aku tak pernah membayangkan diriku mendatangimu dengan berani seperti ini, bahkan memberimu sepucuk bunga dark crimson rose, semoga itu cukup mewakili perasaanku hari ini, ketahuilah, aku tak pandai berkata-kata, bahkan tangan yang menggenggam fotomu sekarang masih gemetaran karena gugup. Aku tidak membawa kamera hari ini, aku tidak akan memotret senja di dikuburanmu kali ini. Kamera dan segala kenangan tentangmu tersimpan aman di kamarku.

Aku menaruh selembar fotomu di samping sepucuk bunga yang kuletakkan di atas nisanmu yang basah sisa hujan tadi. Fotomu saat kau bersama kekasihmu, ternyata aku memilikinya dan tak ingat kapan memotretnya, tapi sengaja kupilih foto ini untuk kuberikan padamu sebagai hadiah perpisahan kita, karena di antara semua foto yang kupotret, aku paling menyukai ekspresimu di sini, sangat bahagia, mungkin karena yang berada di sampingmu adalah seorang perempuan yang kau cintai, tentu saja bukan aku. Maafkan aku karena pernah mengutuk kebahagiaan kalian. Mungkin karena sumpah serapahku, mungkin karena kutukanku, hal buruk terjadi pada kalian di malam menjelang pernikahan kalian, kecelakaan tragis yang menyebabkan kau dan kekasihmu meninggal, begitu kabar yang kudengar dari temanku sekitar satu setengah tahun yang lalu.

Aku mengambil sebilah pisau dari tasku. Tak ragu kuiris pergelangan tanganku, sambil kutatap wajah bahagiamu di foto. Aku melakukan ini bukan karena menyesal, ini sebatas keegoisanku agar aku merasa lebih baik, dan aku juga tak bermaksud menyalahkanmu karena pergi terlalu cepat, percayalah, aku tidak pernah sekalipun menyalahkanmu, maaf jika tanahmu kotor oleh darahku yang terus menetes, maaf jika nanti orang-orang menemukan mayatku di samping kuburanmu. Aku hanya ingin menikmati senja terakhirku bersamamu. Lihatlah, senja yang selalu kupotret di pertemuan-pertemuan kita sebelumnya sekarang tertutup awan gelap sehabis hujan, bulir-bulir hujan yang sekarang menempel di ilalang atau dedaunan sesekali menyerah bertengger, lalu menggulir jatuh. Pandangan kelabu itu mulai mengabur, mataku perlahan terasa berat, hembusan angin membuatku kedinginan, kakiku gemetaran tak kuat menopang berat badanku, hal terakhir yang kuingat adalah suara seorang pria yang memanggil namaku, samar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar