Aku terduduk diam selama 10
menit, menatap jam di handphone-ku yang
baru saja berubah menjadi 3.35 pm, mendengar lantunan musik dari salah satu
aplikasi yang kuunduh di handphone-ku sejak
setahun yang lalu. Aku tak tau judul lagu ini apa, dan penyanyinya siapa,
meskipun begitu aku menikmatinya. Seperti aku yang selalu mencintaimu sejak
tiga tahun yang lalu, meskipun aku belum mengetahui namamu saat itu.
Lagu selanjutnya yang kudengar
melalui earphone
yang terhubung ke handphone-ku
adalah lagu yang sering kau dengar. Aku tau karena aku telah mengikutimu sejak
tiga tahun yang lalu, semua akun sosial mediamu, aku tau teman-temanmu dan
sahabat baikmu bahkan kekasihmu, postingan yang kau buat, lagu yang kau dengar,
tempat yang sering kau kunjungi, kafe ini pun salah satunya, dan es coklat yang
sekarang kupesan adalah minuman kesukaanmu. Aku tau semua tentangmu, meski kau
sama sekali tidak mengenalku.
Di luar sedang hujan, cuaca
yang pas untuk mengenangmu. Karena saat hujan adalah pertama kali kita
berjumpa. Kamu mungkin tak ingat, waktu itu sedang hujan, dan jalan penuh
dengan genangan air, aku bahkan tak punya payung saat itu dan tengah berjalan
terburu-buru di pinggir jalan. Jalanan sepi, hanya beberapa orang yang
lalu-lalang dengan payung. Beberapa kendaraan lalu-lalang dengan laju yang agak
cepat, beberapa kali pula aku mencoba menghindar dari percikan yang dibuatnya
saat menggilas jalan yang bergenangan air. Tiba-tiba ada sebuah mobil yang
berlalu dengan laju yang sangat cepat, percikan air yang dibuatnya cukup besar
dan cukup membuatku basah sekujur tubuh jika mengenaiku, tetapi tepat sebelum
itu, kamu menutupi badanku dan percikan air itu malah mengenaimu, membuat bagian
belakang tubuhmu basah karenanya. Kamu dengan wajah yang seolah setengah
menyesal melindungiku menoleh ke arah mobil yang sosoknya sudah hampir
menghilang, hendak menyumpah tapi tak jadi, menoleh padaku dan memberikan
payung yang sedang kamu pakai. Aku bermaksud menolak, tapi kamu tetap
bersikeras.
“Pakai saja. Aku sudah
terlanjur basah. Lagipula rumahku sudah dekat dari sini.” Katamu meyakinkanku.
Belum kuiyakan. Kau pergi berlalu, ke arah yang bertolak belakang denganku, aku
bersyukur saja dan menerima payung yang kau berikan. Kupikir kau mungkin saja
hanya kebetulan lewat. Aku juga tak mengenal siapa dirimu saat itu dan
perasaanku padamu waktu itu hanyalah rasa berterimakasih. Tak lebih. Beberapa
hari sejak saat itu, aku baru tahu kalau ternyata tempat kerja kita berdekatan,
aku sering menemukanmu bersama teman-temanmu makan siang di restoran dekat
kantor. Entah sejak kapan aku mulai menatapmu dengan cara yang berbeda, mungkin
dimulai dari kagum, lalu entah bagaimana jalannya, aku jatuh cinta.
Jangan tanya bagaimana caraku
mencintaimu, aku bahkan tak punya nyali mendekatimu, mengucapkan terimakasih,
atau mengembalikan payung yang sudah kau berikan padaku waktu itu. Sejak aku
tahu namamu, aku hanya bisa mengamatimu dari jauh, mengambil diam-diam fotomu dengan
menggunakan lensa tele. Aku suka fotografi dan aku memotret semua tempat yang
kamu kunjungi sejak setelah aku mengenalmu. Iya, aku mengikutimu ke mana pun
kau pergi kecuali saat kau pergi bersama kekasihmu. Jangan tanya kenapa, tentu
saja karena aku cemburu.
Aku menyeruput es green tea yang
kupesan untuk diriku. Iya, aku suka meminum es green tea dan
kupesan juga es coklat kesukaanmu meskipun tak akan ada yang meminumnya. Aku
melirik meja sebelahku, kulihat seorang lelaki sedang menyodorkan sebuah kotak
kecil kepada perempuan yang sedang duduk di depannya, kotak kecil itu
dibukanya, nampak sebuah cincin putih yang sangat cantik. Aku jadi ingat momen
saat kamu melamar kekasihmu di kafe ini, aku tak bermaksud mengikutimu hari
itu, murni adalah kebetulan, dan sialnya aku harus melihat momen berbahagiamu
bersama orang lain, hari itu aku pulang ke rumah dan menangis semalaman sampai
harus ijin tak masuk kerja keesokan harinya. Saat itu hatiku patah, aku
kepayahan membujuk hatiku untuk turut berbahagia untukmu dan kekasihmu, maafkan
aku jika harus mengutuk kebahagiaan kalian berdua, maafkan aku.
Percayalah. Saat itu aku
bertekad untuk berhenti mencintaimu, berhenti mengikutimu, kuhapus semua akun
sosial mediaku, tapi tidak dengan foto-fotomu yang aman kusimpan dalam harddisk-ku yang
kemudian kusimpan dalam sebuah kotak dan tak lagi bermaksud untuk membukanya.
Aku berusaha membiasakan diri tanpa harus membuntutimu di dunia maya ataupun
nyata. Takut jika aku akan mengutukmu lagi ketika kau bahagia bukan denganku.
Suatu hari aku mendengar
kabarmu dari temanku. Aku tak tahu kalau ternyata salah satu dari temanku
mengenalmu. Tapi kabar yang kudengar itu bukanlah kabar baik. Sejak mendengar
kabar tentangmu dari temanku, aku mengundurkan diri dari pekerjaanku, juga
menghentikan sewa rumah kontrakanku. Aku pergi jauh dari tempat yang bisa
mengingatkanku padamu, mencoba lupa tentangmu. Setahun berlalu, aku gagal.
Kotak yang kupakai untuk menyimpan harddisk berisi
fotomu kembali kubuka. Aku melihat foto-fotomu dalam harddisk-ku,
semua tempat yang kamu kunjungi, bersama teman-temanmu, atau saat kau sendiri,
tidak ada foto dirimu bersama kekasihmu. Aku menangis. Setahun kuajari hatiku
untuk lupa padamu tapi gagal. Aku lalu memutuskan kembali, mengunjungi semua
tempat di foto-foto itu.
Enam bulan berlalu, kuputuskan
hari ini adalah hari yang terakhir, kafe ini pun menjadi tempat yang terakhir.
Segera kuambil tisu untuk menghapus air mataku yang baru saja menetes. Beranjak
dari tempat dudukku dan membayar minuman yang kupesan di kasir. Setelah ini,
aku akan menemuimu lagi, menjadikan pertemuan kita hari ini adalah yang
terakhir.
Meski sudah beberapa kali aku
datang menemuimu, berkali-kali juga aku masih tak percaya. Aku tak pernah
membayangkan diriku mendatangimu dengan berani seperti ini, bahkan memberimu
sepucuk bunga dark
crimson rose, semoga itu cukup mewakili perasaanku hari ini, ketahuilah,
aku tak pandai berkata-kata, bahkan tangan yang menggenggam fotomu sekarang
masih gemetaran karena gugup. Aku tidak membawa kamera hari ini, aku tidak akan
memotret senja di dikuburanmu kali ini. Kamera dan segala kenangan tentangmu
tersimpan aman di kamarku.
Aku menaruh selembar fotomu di
samping sepucuk bunga yang kuletakkan di atas nisanmu yang basah sisa hujan tadi. Fotomu saat kau bersama
kekasihmu, ternyata aku memilikinya dan tak ingat kapan memotretnya, tapi
sengaja kupilih foto ini untuk kuberikan padamu sebagai hadiah perpisahan kita,
karena di antara semua foto yang kupotret, aku paling menyukai ekspresimu di
sini, sangat bahagia, mungkin karena yang berada di sampingmu adalah seorang
perempuan yang kau cintai, tentu saja bukan aku. Maafkan aku karena pernah
mengutuk kebahagiaan kalian. Mungkin karena sumpah serapahku, mungkin karena
kutukanku, hal buruk terjadi pada kalian di malam menjelang pernikahan kalian,
kecelakaan tragis yang menyebabkan kau dan kekasihmu meninggal, begitu kabar
yang kudengar dari temanku sekitar satu setengah tahun yang lalu.
Aku mengambil sebilah pisau
dari tasku. Tak ragu kuiris pergelangan tanganku, sambil kutatap wajah
bahagiamu di foto. Aku melakukan ini bukan karena menyesal, ini sebatas
keegoisanku agar aku merasa lebih baik, dan aku juga tak bermaksud
menyalahkanmu karena pergi terlalu cepat, percayalah, aku tidak pernah
sekalipun menyalahkanmu, maaf jika tanahmu kotor oleh darahku yang terus
menetes, maaf jika nanti orang-orang menemukan mayatku di samping kuburanmu.
Aku hanya ingin menikmati senja terakhirku bersamamu. Lihatlah, senja yang
selalu kupotret di pertemuan-pertemuan kita sebelumnya sekarang tertutup awan gelap sehabis hujan, bulir-bulir hujan yang sekarang menempel di ilalang atau dedaunan sesekali menyerah bertengger, lalu menggulir jatuh. Pandangan kelabu itu mulai mengabur, mataku perlahan terasa berat, hembusan angin membuatku
kedinginan, kakiku gemetaran tak kuat menopang berat badanku, hal terakhir yang
kuingat adalah suara seorang pria yang memanggil namaku, samar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar