Minggu, 15 Oktober 2017

Arti Rindu

Seorang teman memintaku berbicara tentang rindu.
Apa rindu?
Apakah bisa kusamakan dengan perasaan candu,
Ketika hendak makan sesuatu,
Atau candu seorang perokok terhadap rokok?
Entahlah.
Apa rindu?
“Rindu adalah rasa sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu.”
Begitu yang kutemukan saat mencari definisinya dalam kamus.
Jadi mungkin benar, jika kubilang...
Perokok rindu merokok,
Atau ketika rindu makan sesuatu,
Atau ketika merindu pada seseorang?
Kalau benar begitu,
Lalu apa yang sebenarnya yang kurindu?
Apakah sebuah pertemuan?
Atau sebuah tepukan lembut di punggungku,
Ketika aku kehilangan kucing peliharaanku saat itu?
Suatu hari, aku mencoba pulang.
Ke kampung halamanku, tempatku besar.
Untuk mencari arti rindu.
Aku menelusuri lorong depan rumah tempatku besar.
Tentu saja banyak yang berubah.
Tentang rumah yang sekarang sepi tak berpenghuni.
Atau tanah kosong di depan rumah yang menjadi tempat bermainku semasa kecil.
Yang dulu sering menjadi tempat lari-larian dan bermain tembak-tembakan.
Pernah sekali tak sengaja mataku kena tembakan peluru nyasar dari temanku yang tak sengaja.
Atau kepalaku yang pernah kena lemparan batu yang salah alamat oleh temanku yang bertengkar.
Ibuku, sambil mengobati lukaku, juga tak lupa memarahiku.
Atau ketika aku mencoba mengadu pada bapakku.
Tentang seorang anak laki-laki tetangga sebelah yang berkali-kali mengejekku.
Bapak mengusirnya, tapi juga tak lupa balik memarahiku.
Mungkin karena itu.
Aku tidak suka menangis ketika sakit.
Takut kalau ibu atau bapak tambah memarahiku.
Tapi kini.
Tanah kosong itu sudah disulap menjadi bangunan bertingkat beberapa tahun lalu.
Semua tempat yang menjadi bagian kenangan masa kecilku berubah.
Sepertinya aku salah tujuan.
Seharusnya bukan ke sini tempatku untuk mencari rindu.
Aku memutar arah.
Menuju rumah yang sekarang dihuni orangtuaku.
Memang tidak jauh dari sini.
Dan tidak kupungkiri, rumah itu masih terhitung asing bagiku.
Tapi, sekarang aku tau apa yang kurindu.
Senyum orangtuaku yang tak pernah berubah sejak dulu.
Atau candaan Bapak yang selalu garing ketika mencoba melucu.
Atau omelan Ibu saat aku meliuk malas bangun pagi.
Aku rindu rumah.
Aku rindu Bapak Ibu.
Ah, rindu. Baru selangkah dari situ, air mataku meleleh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar