Jumat, 13 Oktober 2017

Lagi.

Tentang kamu yang selalu pergi sesuka hati.
Aku tak apa menunggu lama di sini.
Bersama hujan dan pelangi.
Atau embun di subuh hari.
Datanglah sesuka hati.
Pergilah sesuka hati.
Asal kau kembali, tak apa.

Lagi.
Tak peduli berulang kali.
Aku akan masih menanti.
Sampai penghujung senja yang letih.
Atau sampai bulan ditenggelamkan matahari.
Masih kusebut namamu dalam hening.
Lama tak terjawab, tak apa.

Lagi.
Hari demi hari berganti.
Kulirik jam dinding yang terus berdenting.
Kupandang jauh biasan mentari yang menguning.
Kuselimuti malam yang berpamit.
Kusambut fajar di batas cakrawala bumi.
Sampai hati lelah merintih.
Mata memerah karena tangis.
Tak apa.

Lagi.
Aku masih menanti.
Derap langkah yang membuat bunyi berdecit.
Atau senyummu yang perlahan memburam di memori.
Apalah rindu yang terus parau bernyanyi.
Menjahit hati yang mulai tercarik.
Tangis lagi-lagi meleleh di pipi.
Memang sakit tapi tak apa.
Asal kau kembali, tak apa.

Kenapa pergi setelah kau berjanji?
Kalau begini, kulabuhkan kemana luapan emosi?
Marah, sesal dan benci.
Sedangkan kau selamanya pergi.

Lagi.
Lukai aku sekali lagi.
Tak apa.
Asal kau hidup kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar