Jumat, 20 Oktober 2017

Surat Cinta

Aku kehabisan rindu untuk menulis.
Seolah kepayahan.
Apalah rindu.
Yang selalu kusemat manis dalam untai kata, dalam secarik kertas, lalu kubungkus manis dalam amplop bergambar lucu, kuikat pakai pita cantik berwarna merah.
Yang menurut temanku itu norak.
Tapi apalah rindu.
Yang selalu kubungkus dalam surat cinta.
Tak pernah sampai.
Hanya menumpuk di kotak sepatu yang kusimpan di atas lemari.
Apalah aku yang kepayahan merindu.
Karena kamu yang tak pernah di tempat.
Petugas pos jadi harus repot-repot mengembalikan suratku.
Lalu kuapakan rindu.
Kasihan dia terbungkus rapat dalam suratku.
Tanpa pernah membisik di telingamu.

Dulu temanku sering bertanya,
“Untuk apa surat? Kamu langsung telepon dia saja."
Mauku juga begitu.
Tapi apa daya.
Melihat namamu di layar handphone saja,
Tanganku sudah gemetaran, tak mampu menekan tombol panggil.
Belum lagi hati yang berisik.
Apalah aku.
Ingin bilang "halo" sudah gelagapan.
Apalagi kalau bilang rindu.
Tak mampu menjelaskan rindu sebaik aku menulis tentangnya.
Tapi kini, aku kehabisan rindu untuk menulis.
Kepayahan merindu karena tak bisa bertemu.
Pulang pun hanya bisa dua kali setahun.
Tak cukup untuk bisa melukis wajahmu di memori.
Dan setelah itu,
Kau kembali menjadi orang yang paling menjengkelkan di dunia.

Apa daya.
Aku kehabisan rindu untuk menulis.
Pun tak berani menelponmu malam ini.
Cukup kusematkan namamu dalam doa.
Pada Tuhan, Sang Pemilik Cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar