Aku berdiri antara senja.
Bersama siluet ragaku yang gelap.
Cahayanya kuning lalu memerah, sayang.
Lantas kutitikkan buliran air mata suci para kekasih.
Senja mulai menua, sayang.
Botol bersurat itu tampak telah menitik di ekor pandanganku.
Berharap cinta yang tersemat untukmu,
Ikut tenggelam di kutub bumi yang berlawanan.
Menanti senja berganti, lelakiku.
Tetapi, selalu saja kudapati diriku pada pagi dengan cerita yang sama.
Masih terduduk dengan bayang lima tahun silam.
Lalu aku tersedu.
Dan terjatuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar