Sabtu, 25 Februari 2012

Kisah Puisi Kita

_Bukan Kata Indah_
  Lelakiku :
  Menguji dan melihat.
  Mencoba menyelam arti dari setiap puisimu.
  Hingga yang nampak adalah kata-kata yang indah saja.

  Aku :
  Aku bukan pencipta kata-kata indah.
  Aku hanya penalar sebuah rasa yang tersemat dalam labuh kisahku.
  Mencari setiap arti dari teka-teki malam.
  Seperti ketika berusaha memotret keindahan alam dalam segiempat lukisan.
  Seperti itu malam-malamku.
  Seperti itu hari-hariku.

_Lelakiku Untuknya_
  Lelakiku :
  Aku sayapnya.
  Tambatan hatinya.
  Yang mengilhami tiap langkah hidupnya.
  Begitu adanya.
  Dalam goresan pena.
  Ia suratkan berkala untukku.

  Tak sekalipun kujumpai dia.

  Aku :
  "Aku sayapnya.
  Tambatan hatinya.
  Yang mengilhami tiap langkah hidupnya."

  Lantas di pikiranmu kau seperti apa bagiku?
  Setiap malam kulabuhkan padamu sebuah puisi.
  Lalu kau belum mengerti?

_Rasa Sakit_
  Aku :
  Jika saja rasa sakit itu dapat terukur dalam nilai nyata.
  Aku yakin kau akan menangis saat tau.

  Telah kuhafal pergerakan awan setiap malam.
  Dan telah kunonton beribu-ribu bulan yang tenggelam di ufuk yang sama.
  Ku tapak kaki  pada kata-kata cinta yang tersapu laut biru.

  Andai saja kau tau.
  Aku akan terus mencintai, tanpa keluh, tanpa menuntut.
  Karena aku percaya di tempat aku berpijak adalah cermin.

  Lelakiku :
  Ku larut luruh dalam keheningan hatimu.
  Jatuh bersama derasnya air mata.
  Kau benamkan wajahmu yang berteduhkan duka.
  Melagukan kepedihan di dalam jiwamu.

  Tidak masalah..


_Balutan Maaf_
  Lelakiku :
  Aku bingung.
  Harus kubalut dan kukemas seperti apa hubungan ini?

  Aku :
  Balut saja dengan kata maaf!!
  Duh, Lelakiku.
  Andai bisa ku bunuh rasaku.
  Maka pasti telah tersemayamkan di bawah nisan yang bertuliskan namamu.
  Tetapi, harus bagaimana diriku?
  Di sisi lelakiku ada perempuan lain.
  Ku kemanakan kisah suci ini?

_Sejatinya Cinta_
  Aku :
  Ada luka yang menganga di sebongkah daging yang memaknaiku.
  Sakit.
  Tetapi, tak setetespun tangis.
  Karena aku mencoba untuk tetap tegar mencintaimu.

  Lelakiku :
  Aku bingung.
  Tapi, aku bisa rasakan apa yang kamu rasa.
  Entahlah.
  Aku masih bingung.
  Cinta yang kau tawarkan terlalu suci untukku..

  Aku :
  Sejatinya cintaku tidak untuk membuatmu gamang di tempat pijakanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar