Jumat, 03 November 2017

Hujan di Hati Kita.


Kamu menangis dengan bahu yang sesekali berguncang. Berkali-kali kamu menahan sedu-sedanmu, kemudian kembali terisak, pelan, lalu tangismu meledak kembali. Wajahmu basah oleh air mata, bawah matamu mulai menghitam oleh dandananmu yang meleleh. Pergelangan lengan bajumu basah karena berkali-kali kamu pakai untuk menyeka air matamu yang deras berjatuhan. Seperti ada angin, tangismu membuat hatiku berisik.

Dari jauh aku melihat kerumuman orang berpakaian serba hitam, sedang berduka atas kepergian orang yang kamu cintai, Citra. Kulihat seorang perempuan di sana yang tak kalah sedihnya denganmu, perempuan orang yang kau cintai itu. Betapa menyedihkannya dirimu, kamu bahkan tidak bisa menangis di depan semua orang. Harus bersembunyi di sini dengan duka yang coba kau sembunyikan. Hanya bisa memandangi kepergian orang yang kamu cintai dari jauh. Merasa tidak pantas untuk menunjukkan kesedihanmu yang tidak biasa, apalah kamu, kamu bukan siapa-siapa untuknya.

Ingin sekali kugerakkan tanganku untuk menghapus air mata di pipimu. Ingin sekali aku memberikanmu sepotong hatiku agar hatimu sembuh. Tetapi, sekarang seluruh hatiku juga terluka melihatmu menangis. Aku hanya bisa meminjamkanmu bahu, agar kamu bisa sembunyikan tangismu sepuasnya.

Aku sepenuhnya melihatmu, saat kamu sepenuhnya melihatnya. Aku sepenuhnya tenggelam pada matamu yang penuh dengan gejolak rasa padanya. Aku sangat suka senyummu saat kamu sedang asik bercerita tentang rasa kagummu padanya. Atau karena kamu tak sengaja bertatap mata dengannya. Awalnya, aku hanya kagum pada kebodohanmu mencintainya. Tetapi, entah sejak kapan, aku mulai ikut cemburu saat kamu cemburu melihatnya berdua dengan perempuannya. Lalu ironisnya, aku ikut bodoh karena terlanjur jatuh padamu tanpa sempat mencegahnya.

Tak jarang kamu menangis, bilang bahwa kamu akan lupa padanya, esoknya, kamu kembali jatuh padanya. Di waktu yang sama, aku memutuskan untuk benci padamu, lalu esoknya, aku kembali jatuh padamu. Kamu bahkan pernah bilang bahwa aku sangat mengerti perasaanmu, bagaimana tidak? Aku hanya tersenyum saat itu. Kupikir, takdir sedang asik bermain-main dengan hati kita.

Lihatlah, langit sangat cerah, Citra. Tetapi hati kita semua sedang hujan karena kepergian orang yang kamu cintai. Kamu masih berusaha mengusir hujan di hatimu, sedang aku diam berdiri di sampingmu. Tidak kuucap sepatah kata pun untuk menghiburmu. Agar kamu tidak mendengar suara hujan di hatiku saat aku membuka mulut. Kukumpulkan keberanian untuk mengangkat tanganku lalu menepuk-nepuk bahumu. Menangislah sepuasnya hari ini, meski esok, kamu mungkin akan datang lagi padaku untuk menangis.

Jangan berhenti menangis, Citra, tidak masalah kalau bahuku basah, atau wajahmu yang jadi bengkak. Akan aku titip doa di setiap air matamu, berharap dia turut pergi dari hatimu. Lalu, aku akan mengajarimu untuk perlahan melihatku dengan hati yang diam-diam berpilu. Tidak masalah kalau kamu butuh waktu lama, Citra, aku akan sabar menunggu. Karena sepertinya, aku tidak bisa berhenti jatuh padamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar