Selasa, 07 November 2017

Menjejaki Langkah

Entah sejak kapan kita berada di persimpangan jalan. Kita dengan dunia kita masing-masing tampaknya bukanlah hal yang bagus. Kita mengira bahwa selama ini kita memelihara, tetapi nyatanya kita hanya mengasingkan hati-hati kita. Mungkin kamu menjadi nyaman membiasakan diri tanpa satu sama lain, lalu perlahan kamu lupa. Tetapi, sialnya, aku masih ingat dengan jelas. Tentang janji yang terucap lisan olehmu, riuh karena debaran hati yang berisik, tanpa ada tanya setelahnya.

Dulu aku belum tahu, bahwa sepenggal kalimat manusia itu tak bisa dijamin oleh masa. Barulah sekarang aku tahu, itu pun saat kita berjumpa pertama kali setelah janji itu. Kamu bersama duniamu yang tidak ada aku di dalamnya. Enam tahunmu yang tidak kukenali, membuat kita merasa asing di depan satu sama lain. Seolah ada pemisah di percabangan jalan kita. Hendak bertanya tentang masa depan, tetapi canggung rasanya.

Tak habis akal, aku memulai langkah bergegas, tidak cukup dengan berjalan, aku lalu berlari mengejarmu. Kamu, duniamu, dan jalan yang sedang kamu tempuh saat ini, aku ingin segera ada di situ dan berjalan beriringan denganmu. Ingin sekali aku menguncimu dan menagih janji padamu, menamparmu hingga terbangun dari enam tahunmu tanpaku.

Kamu melangkah begitu cepat, sedangkan aku tertatih dari belakang. Kupusatkan perhatianku padamu agar jejakmu tak hilang. Tidak lagi kuperhatikan siapa yang menegurku, juga kuabaikan orang yang memintaku untuk singgah sebentar. Kupikir, aku tidak ingin lagi mengulang kesalahan yang sama, enam tahun itu sudah cukup membuatku kehilangan dirimu. Aku takut jika aku tidak lagi menjadi bagian dari masa depanmu.

Tetapi, lambat laun aku lelah berlari. Kulihat langkahmu juga tak kunjung melambat, atau jarak kita yang tak sedikit pun mendekat. Aku berhenti dengan nafas yang terengah-engah lalu mendongak melihatmu. Kamu dan dunia yang kamu ciptakan tak sekali pun bergeming. Kutunggui punggung sampai bayanganmu menghilang. Aku tetap berdiri di tempatku sambil mengatur nafas yang sudah mulai rapi kembali. Kulihat kanan-kiriku yang kini sepi, diam seperti orang bodoh yang kebingungan, apa yang kulakukan di sini seorang diri?

Pertanyaan demi pertanyaan mulai bermunculan di benakku. Apa yang sebenarnya ingin kucapai dengan mengejarmu? Ingin mempertahankan janji kita yang mulai memudar di telan masa? Tetapi, lihatlah. Kamu sudah terlalu puas dengan dunia dan teman-temanmu tanpa sekali pun kamu mencoba menyamakan langkah denganku. Lalu, untuk apa? Untuk apa aku sejauh ini mengejarmu?

Aku memutar balik badanku, mencoba menilik jalan yang telah kulalui. Aku terkejut mendapati jalan yang kutempuh tampak begitu berbeda. Siapa yang menyangka bahwa aku melewatkan begitu banyak keindahan karena keasikan berlari mengimbangi langkahmu? Ataukah aku yang terlalu sibuk memperhatikanmu hingga aku menjadi buta terhadap sekelilingku? Langkahku kini ringan, pun nafasku tidak lagi terengah, pelan menjejaki langkahku yang tadi berlari. Aku baru tersadar bahwa duniaku tidak hanya tentang janjimu dan masa depanmu.

Lalu untuk apa aku berlari? Jika dengan sejenak berhenti, aku bisa menyaksikan keindahan yang aku lewatkan sepanjang sepelarian tadi. Untuk apa aku mengejarmu? Jika Tuhan ternyata punya rencana yang lebih baik untukku jika tanpa dirimu.

1 komentar:

  1. SUKA KALAH JUDI ?
    SUDAH TIDAK JAMAN NYA LAGI
    AYO GABUNG SEKARANG JUGA
    KAMI HADIR DENGAN INOVASI TERBARU DAN TERCANGGIH

    POKER - DOMINO - CAPSA - CEME
    Dengan Jackpot yang berlimpah
    Dan Mudah menang nya setiap hari (PIN BBM : 7AC8D76B)

    BalasHapus